
Fatih terkejut, kenapa Mentari meminta maaf kepadanya? Dia berpikir kalau ada kata-kata dia yang membuat diri Mentari merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf? Kamu 'kan nggak salah apa-apa!"
"Karena tadi aku sudah memikirkan laki-laki lain," jawab Mentari jujur, dan itu membuat Fatih merasa ada sesuatu yang menancap langsung ke dadanya. Sakit rasanya, kalau Mentari memikirkan laki-laki selain dirinya.
"Kenapa kamu memikirkan laki-laki lain? Sedangkan kamu sudah punya suami. Cukup pikirkan aku saja." Fatih menangkup wajah Mentari dan kini mereka saling memandang.
"Itu juga ... karena aku memikirkan kamu, Mas." Mentari gugup takut menyinggung perasaan Fatih.
"Benarkah. Apa itu?" Fatih mengunci Mentari melalui tatapan matanya.
"Janji jangan marah!" Mentari mengurai pelukannya dan masih melihat wajah Fatih.
"Ya, tentu saja tergantung! Apa itu bisa membuatku marah atau tidak."
Mentari kembali menundukkan kepalanya. Dia menggigit bibir bagian bawah, menahan tangisannya. Mentari di kehamilan trimester kedua, dia menjadi sangat sensitif mudah emosian dan terbawa perasaan. Mentari memilih diam. Kemudian saat hendak berdiri dari pangkuan suaminya. Fatih menarik kembali Mentari ke dalam pelukannya.
"Aku janji sama kamu tidak akan marah. Bila ada masalah sebaiknya kita bicarakan dan cari solusinya bersama-sama," kata Fatih sambil menatap mata Mentari.
"Hm." Mentari pun menganggukkan kepalanya mengerti.
"Saat Mas, pergi ke Amerika. Aku bertemu dengan Oppa Willi---" Fatih memotong ucapan Mentari, dia tidak suka saat istrinya itu memanggil panggilan sayang kepada mantan suaminya itu.
"Kakek William," kata Fatih setelah membungkam mulut Mentari dengan ciumannya yang menghentikan omongan Mentari.
"Hm, kakek William maksudku. Dia meminta maaf kepadaku dan mengajak aku untuk rujuk kembali. Tentu saja aku menolaknya!" Mentari cepat-cepat menimpali perkatannya sendiri saat melihat bola mata Fatih melebar.
"Aku juga bilang, kalau aku sangat mencintai suamiku dan sudah merasa hidup bahagia menjalani rumah tanggaku sekarang," kata Mentari dan direspon dengan senyum merekah oleh Fatih.
"Tapi, Op ... maksudku kakek William, tetap saja bilang akan merebutku dari kamu, Mas."
Fatih, geram mendengar ke lakuakan kakek mudanya itu. Dia juga tidak akan melepaskan Mentari seumur hidupnya.
"Aku takut, kalau nanti akan ada kejadian dimana, Mas Fatih, akan marah kepadaku dan membuang aku karena sudah tidak percaya lagi," ucap Mentari, air matanya langsung bercucuran membasahi pipinya yang chubby. Fatih pun menghapusnya dengan lembut.
__ADS_1
"Dengarkan aku, Cintaku ... Mentariku! Selamanya aku tidak akan melepaskan kamu. Apapun yang terjadi sekarang, besok, lusa, atau nanti. Selamanya kamu akan selalu di sisiku." Mendengar perkataan Fatih membuat Mentari, merasa lega.
"Sebenarnya ada satu lagi yang mau aku katakan. Tapi, aku merasa tidak yakin." Mentari menggerakkan jarinya di dada Fatih, membentuk pola abstrak.
"Apa itu?" Fatih menarik jari Mentari yang bermain di dadanya. Kemudian, mencium jemari itu.
"Saat aku membaca buku di gazebo halaman belakang. Tanpa sengaja aku ketiduran. Saat aku bangun tidur, ada bau parfum laki-laki yang menempel di bajuku. Ternyata itu wangi yang sama dengan parfum yang dipakai oleh Op ... kakek William," kata Mentari sambil menatap mata Fatih, ingin tahu bagaimana perasaan suaminya itu. Ada kilatan marah yang dilihat Mentari.
Mentari menundukan kepalanya, dia tahu suaminya kini sedang marah. Dia merasa sudah berbuat salah dengan memberitahu tentang kejadian di gazebo tempo hari.
"Aku sangat marah. Tapi, bukan kepadamu, my love. Melainkan kepada kakek William. Kenapa dia tidak bisa rela melepaskan dirimu dari kehidupannya?" Fatih mencium kening Mentari sangat lama dengan penuh rasa sayang.
"Aku akan cek cctv yang ada di halaman belakang," kata Fatih setelah melepaskan ciumannya.
"Sebenarnya aku sudah mengeceknya langsung kemarin. Tapi, tidak ditemukan ada kakek William, yang terekam kamera cctv."
"Wah, ini pasti ulahnya!" kata Fatih geram.
"Kamu jangan takut. Nanti kalau bertemu lagi dengan kakek William dan dia berbuat macam-macam sama kamu. Lawan saja sebisa kamu, urusan nanti gimana, biar aku yang urus. Jangan takut melukainya atau apapun itu, demi melindungi diri kamu," kata Fatih menasehati Mentari, dengan penuh semangat.
"Bagaimana cara aku menghajar kakek Willi, Mas. Dia 'kan jago berkelahi. Sedangkan aku tidak bisa. Nanti yang ada aku malah di buat pingsan olehnya." Mentari cemberut memajukan bibirnya.
Fatih malah tertawa melihat ekspresi wajah Mentari. Dia senang Melihat istrinya sudah tidak ketakutan lagi.
Siang itu Fatih kembali mereguk indahnya surga dunia bersama Mentari. Alasannya untuk menghilangkan jejak William di tubuh Mentari. Padahal itu hanya modus saja karena semalam dia belum puas, disebabkan tubuhnya yang lelah habis melakukan perjalanan jauh.
******
Sementara itu, William sedang mengawasi kediaman Khalid, menggunakan kamera pengintai berbentuk lalat. Dia bisa mengintai kemana saja dengan kamera itu.
Sejak tadi dia menahan rasa cemburunya. Ketika melihat Fatih dan Mentari berbicara di balkon. Apalagi saat mereka bermesraan, dan akhirnya masuk ke dalam kamarnya lagi. Dia sudah tahu apa yang dilakukan pasangan suami istri itu, tanpa perlu mengintipnya.
******
Sore harinya Fatih mengajak jalan-jalan kedua istrinya berbelanja. Dia kemarin saat di Amerika akan menemani mereka pergi membeli barang yang mereka mau. Saat mereka sampai di Mall Mega, mereka memutuskan untuk menonton bioskop dan makan saja. Buku yang kemarin di beli oleh mereka belum selesai di baca. Baju juga belum semuanya dipakai.
__ADS_1
Saat dalam bioskop Fatih duduk di tengah-tengah antara Zahra dan Mentari. Zahra yang tidak pernah pergi menonton bioskop, sangat shock melihat banyak pasangan melakukan hal mesum. Selama ini dirinya menonton film bioskop selalu di rumahnya karena ada ruangan bioskop yang sengaja di buat oleh Fatih.
Kalau bagi Mentari, biasa aja. Dari zaman SMP, dia sering nonton bioskop mau itu dengan teman sekolahnya atau dengan Cantika. Pemandangan seperti itu membuatnya biasa saja.
Selama menonton film, Zahra dan Mentari fokus menikmati jalan ceritanya. Berbeda dengan Fatih, dari tadi dia merasa kalau ada yang sedang memperhatikan mereka. Fatih merasa kalau kakek William sedang berada di sekitar mereka. Dia tahu, kalau mantan suami istrinya itu selalu berkeliaran di mana pun, Mentari berada.
Mata Fatih bergerilya di kegelapan ruang bioskop yang mengandalkan cahaya dari layar lebar. Fatih menggenggam tangan Mentari, takut kalau istrinya itu tiba-tiba menghilang.
Akhirnya film pun sudah selesai, kini mereka akan makan di resto yang kemarin nggak jadi makan karena Mentari ketakutan sama William. Mentari masih ngidam ingin makan udang asam manis.
Saat para penonton berdesak-desakan keluar pintu. Fatih memilih diam dulu, biarkan semua orang keluar. Dia tidak mau kalau sampai Mentari atau Zahra terhimpit oleh orang lain, apalagi sama laki-laki.
Mentari merasa ada seseorang yang memegang tangannya. Dirasakan orang itu menggenggam 'kan sesuatu ke tangannya itu.
"I love you," bisik orang yang memakai jaket dan topi itu berjalan dengan cepat dan berlalu.
Mentari shock, dia tahu kalau orang barusan adalah William, mantan suaminya.
******
Apa yang ada digenggaman tangan Mentari?
Bagaimana reaksi Fatih saat tahu ada William di sekitar mereka?
Tunggu kelanjutan di BAB-BAB selanjutnya.
Usahakan kalian jangan baca karya aku lompat-lompat BAB nya. karena tiap Bab akan saling berkaitan dengan bab-bab selanjutnya. Biar kalian mengerti dan memahami.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1