Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (64)


__ADS_3

Zahra ingin membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman lagi. Namun, dia merasa jari kakinya mati rasa dan tidak bisa digerakkan.


"Mas."


"Iya, ada apa?" tanya Fatih.


"Semalam aku bermimpi bertemu dengan Kakek Lukman. Dia mengucapakan terima kasih kepadaku karena sudah menjadikan Mentari istri kamu." Zahra memimpikan itu hanya sekilas karena keburu bangun.


"Itu karena Zahra pandai menilai diri seseorang. Makanya tahu mana yang baik buat Mas," kata Fatih.


"Justru Kakek Lukman, tahu mana yang terbaik buat Mas Fatih," balas Zahra. Kemudian berkata lagi, " dan Mentari 'lah pilihan Kakek Lukman. Lagian Kakek Lukman itu sangat menyukai Mentari dari dulu."


"Ya, mungkin karena Kakek Lukman, dulu suka sekali dipijat oleh Mentari." Fatih tertawa kecil karena ingat kata-kata Mentari dulu suka mengklaim dirinya sebagai tukang pijat sang Milyuner. Sebab, tidak di Amerika atau Indonesia, Mentari kebagian diminta untuk memijat.


"Mas, kamu itu ada-ada saja." Zahra menghentikan sejenak ucapannya karena ingin  menghirup udara yang terasa berat di dadanya.


"Sepertinya dari kita bertiga, aku, Cantika dan Mentari. Kakek Lukman begitu sangat menyayangi Mentari dan setelah aku ingat-ingat lagi. Mentari itu selalu bisa diandalkan dan cekatan dalam hal apapun. Waktu berkumpul bersama juga, orang yang paling duluan dipanggil adalah Mentari. Kedatangan yang paling dinanti juga adalah Mentari."


"Kenapa kamu bicara begini, Sayang? Kamu juga disayangi oleh Kakek Lukman dan Nenek Gendis. Setiap mereka pergi kemana pun yang mendapatkan oleh-oleh paling banyak adalah kamu 'kan? Bahkan Ghaza kadang ngambek kalau nggak dibawakan hadiah. Orang yang dibanggakan di depan koleganya adalah kamu, siapa yang tidak mengenal Zahra cucu menantu keluarga Hakim. Kakek dan Nenek juga bangga kepada kamu. Kamu gadis yang cerdas, ramah, penurut dan masih banyak lagi kelebihan yang kamu miliki. Kamu jangan suka membandingkan dengan orang lain. Itu malah akan menutup kelebihan yang dimiliki oleh kamu." Fatih bicara sambil melihat ke arah Zahra.


     Zahra lupa kalau dirinya juga punya kelebihan dari Mentari. Dulu saat Kakek Lukman dan Nenek Gendis sakit, Zahra selalu diminta untuk mengaji disampingnya. Kemampuan mengaji Zahra sudah tidak diragukan lagi. Dia langganan juara MTQ. Dia juga bisa menjadi dokter dadakan untuk keluarga Hakim, meski dia dokter spesialis kandungan.


"Iya, kamu benar, Mas. Aku juga punya kelebihan di atas mereka." Zahra pun tersenyum.

__ADS_1


"Nah gitu. Jangan merasa minder dengan diri kamu sendiri. Setiap orang itu pasti punya kelebihan dan kekurangan. Hanya saja mereka sering tidak menyadari dengan kelebihan yang dimiliki olehnya karena melihat kelebihan orang lain."


"Mas, aku ingin mendengar suara Mas Fatih mengaji Surat Ar Rahman dan Al Waqiah, ya!" pinta Zahra yang masih dalam pelukan Fatih.


     Surat dalam Al Qur'an yang sudah Fatih hafal di luar kepala pun, dia lantunkan. Zahra merasa sangat tenang, dia meresapi setiap kata-kata yang keluar dari mulut Fatih.


'Ya Allah ... jika aku ditakdirkan hidup sampai hari ini. Maka, aku sangat ridho. Semoga Engkau mengampuni semua dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini. Tempatkan 'lah bersama dengan orang-orang yang mencintai-Mu dan dicintai oleh-Mu, Ya Allah ... kumpulkan 'lah kembali aku bersama keluargaku saat di akhirat nanti, di Surga-Mu. Aamiin,' batin Zahra.


     Fatih pun menyelesaikan semua bacaan surat Ar Rahman dan Al Waqiah.


"Terima kasih, Mas." Zahra mendongakkan wajahnya melihat wajah Fatih. Ternyata selama mengaji tadi Fatih berderai air matanya. Zahra pun ingin mengusap air mata di pipi suaminya, tapi tangannya sudah tidak bisa digerakkan.


"Mas, saat mendengar bacaan surat Al Waqiah tadi. Aku serasa melihat surga dan neraka ada dihadapan aku. Kalau memilih, tentu aku ingin masuk ke Surga. Tapi, apa aku bisa masuk ke sana dengan membawa semua amalanku? Aku takutnya amalan yang aku miliki habis untuk membayar dosa-dosaku bahkan kurang karena dosa yang aku miliki terlalu banyak. Dan aku harus merasakan neraka terlebih dahulu untuk menebus dosa yang belum terbayar itu." Zahra bicara dengan pelan meski begitu dia berusaha agar masih bisa bicara dalam tarikan napas yang semakin terasa berat.


"Terima kasih, Mas. Aku merasa sangat bahagia hari ini." Zahra tersenyum lebar.


"Laa ilaaha illallah," ucap Zahra dengan lemah dan menundukan kepalanya di dada Fatih.


     Fatih pun mengerti itu, maka dia pun membimbing Zahra agar mengucapkan kalimat tauhid, itu berkali-kali. Sampai tidak lagi terdengar suara Zahra.


     Fatih yang terus mengucapakan kalimat tauhid sambil menangis dan mengeratkan pelukannya kepada Zahra. Akhirnya teriakan Fatih terdengar, dia sedang melepaskan rasa sesak di dadanya yang ditahan sejak tadi, kini bebannya itu terlontar juga.


     Mentari yang sejak awal berada di balik pintu, akhirnya mendatangi Fatih dan Zahra. Mata Mentari bengkak karena sejak tadi menangis.

__ADS_1


"Mas, bawa masuk Zahra! Aku masih bisa merasakan denyut nadi dilehernya." Mentari yang menekan urat di leher Zahra, masih terasa meski lemah.


    Mentari berlari memanggil semua orang untuk ke kamar Zahra.


    Fatih mendekap Zahra di atas ranjang mereka. Semua orang pun dengan tergesa-gesa datang dan masuk ke kamar Zahra dan Fatih.


"Saya, selaku suami dari Zahra meminta kepada semua yang ada di sini untuk memaafkan semua dosa dan kesalahan yang pernah Zahra lakukan, baik itu disengaja atau tidak disengaja. Apa kalian mau memaafkan Zahra?" tanya Fatih dalam isakannya.


"Iya, kami sudah memaafkan semua kesalahannya," kata semua orang yang ada di sana.


"Zahra adalah orang yang baik. Justru kami yang harusnya meminta maaf kepada Zahra," kata Khalid dengan berlinang air mata.


"In sha Allah, Zahra sudah memaafkan kalian juga." Fatih tergugu dan menatap wajah Zahra yang sudah seperti mayat.


"Zahra kami ridho untuk melepaskan dirimu, semoga kamu mendapatkan tempat terbaik di alam sana," kata Abah. Kemudian Abah melapalkan doa-doa untuk mempermudah Zahra dalam sakaratul maut. Fatih juga membisikan lagi lapal Tauhid di telinga Zahra. Dalam hembusan napas terakhirnya Fatih mendengar Zahra menyebut kata Allah.


     Keheningan sesaat berubah dengan suara tangisan dari mereka, orang-orang yang menyayangi Zahra. Cuaca pagi yang cerah, menjadi hari di mana Zahra menghembuskan napas terakhir di tempat yang spesial bagi Zahra. Dia juga meninggal dalam pelukan orang yang dicintainya.


******


Malam-malam menulis tentang kematian. Berasa banget merindingnya.


Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.

__ADS_1


Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2