
Aurora melihat menantunya yang sedang berbaring lemah di atas brankar. Dokter yang memeriksa keadaan Mentari tadi bilang, telah terjadi pendarahan dan itu membuat bayi yang ada di dalam perut Mentari, tidak bisa diselamatkan.
Aurora pun menghubungi Fatih dan memberitahu keadaan Mentari. Dia juga menghubungi Keluarga Ja'far. Memberi tahu kabar duka itu.
Ja'far dan Sinar pun tiba bersamaan dengan Khalid. Wajah mereka juga pucat karena mendapat kabar duka yang tiba-tiba itu.
"Bagaimana keadaannya? Apa tidak bisa dipertahankan bayinya?" tanya Ja'far.
"Kondisi Mentari masih tidak sadarkan diri. Dan untuk bayinya sudah tidak ada harapan," jawab Aurora dalam isak tangisnya.
"Ya Allah, kenapa cobaan untuk Mentari kali ini begitu berat?" gumam Sinar berderai air mata.
"Mentari itu wanita yang kuat. Meski dia jatuh terpuruk maka dia akan cepat bangkit kembali," kata Khalid.
"Iya, Mentari adalah anak yang kuat karena sudah banyak belajar dari hal-hal yang menimpa dirinya dahulu." Ja'far menganggukkan kepalanya setuju.
Rencananya sebentar lagi, akan dilakukan operasi pengangkatan janin. Mentari sendiri belum sadarkan diri setelah kejadian tadi. Begitu duduk di kursi, kesadaran Mentari langsung hilang.
"Fatih belum datang? Padahal opersi Mentari sudah mau di mulai," tanya Aurora.
"Dia terjebak macet," jawab Khalid yang baru saja dapat kabar dari putra sulungnya.
Begitu mobilnya terparkir, Fatih langsung berlari dengan kecepatan penuh. Pikirannya sudah tidak menentu takut terjadi sesuatu kepada Mentari. Dia sangat terkejut dan rasanya sebagian nyawa dari tubuhnya dipaksa keluar saat mendengar kabar kalau bayi yang ada di dalam kandungan istrinya itu meninggal.
"Mama, bagaimana keadaan Mentari?" tanya Fatih.
"Mama kurang tahu. Hanya saja dokter akan melakukan yang terbaik. Mama minta untuk menyelamatkan nyawa Mentari, apapun yang terjadi," jawab Aurora dengan berderai air mata.
"Bunda, si kembar sama siapa?" tanya Fatih teringat kepada anaknya.
"Mereka bersama Tante Dewi dan Pelangi. Kebetulan dia datang begitu tahu ada si kembar di rumah Bunda," jawab Sinar.
__ADS_1
"Mereka tidak rewel 'kan?" tanya Fatih lagi.
"Tadi mereka tiba-tiba menangis tidak bisa di diamkan, tapi akhirnya mau diam setelah diajak main bersama anaknya Pelangi. Kamu tenang saja, mereka akan baik-baik saja." Sinar mengusap punggung menantunya itu.
Fatih sangat terpukul begitu melihat wajah pucat Mentari. Dia teringat pada Zahra yang wajahnya juga sangat pucat saat sakit. Ada rasa takut kehilangan Mentari di dalam hatinya. Fatih duduk di sisi brankar dan tangannya memegang tangan Mentari, tidak mau melepaskannya sama sekali.
Meski dokter bilang Mentari masih dalam efek pengaruh obat bius dan kemungkinan sadar 4-5 jam lagi. Fatih tidak mau beranjak dari sisi Mentari. Sudah 2 jam Fatih duduk di sana. Hal ini membuat semua orang khawatir.
"Fatih, makanlah dahulu. Biar Mama dan Papa yang menunggui Mentari," kata Aurora dengan lembut.
"Tidak, Ma. Fatih tidak lapar. Nanti saja," jawab Fatih tanpa mengalihkan pandangannya dari Mentari.
"Kalau kamu tidak makan, nanti kambuh lagi penyakit mag kamu. Jika kamu sakit, siapa nanti yang akan merawat Mentari?" Aurora mencoba merayu Fatih agar mau makan.
"Makanlah dahulu, Fatih. Jangan buat Mentari bersedih karena melihat kamu sakit! Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Mentari kepada orang-orang yang di sayangi olehnya," lanjut Sinar.
Fatih pun akhirnya menyerah, tetapi dia makan di samping Mentari. Dia tidak mau begitu Mentari sadar, dirinya tidak berada dekatnya.
Mentari membuka matanya, dia melihat Fatih duduk disampingnya. "Mas."
Mentari sadar lebih cepat dari yang diperkirakan oleh dokter. Perasaan Fatih antara senang dan juga takut saat melihatnya siuman. Dia takut terjadi apa-apa kepada Mentari. Tangan Mentari terulur pada perut yang tadi terbentur kursi besi. Dia terkejut karena perutnya menjadi rata.
"Mas, Mas! Anak kita, mana?" Mentari berteriak histeris karena perutnya sudah rata.
"Sayang, dengarkan aku!" pinta Fatih.
"Anak kita ke mana? Kenapa tidak ada di dalam perutku?" Mentari menangis tergugu sakit diperutnya kini mulai terasa.
"Dia sudah di ambil oleh Pemilik-Nya. Anak kita hanya titipan, ingat itu Mentari." Fatih memeluk tubuh Mentari yang tadi meronta hendak pergi.
Mentari menangis dalam pelukan Fatih, benar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Namun, tetap saja sakit rasanya kalau harus kehilangan anak. Apalagi dia masih di dalam perut dan belum tahu dunia itu seperti apa.
__ADS_1
Fatih meminta Mentari untuk beristighfar dan meridhokan anak mereka. Pelukan dan belayan sayang, Fatih berikan untuk menenangkan Mentari. Sudah lebih dari satu jam Menangis dalam pelukan Fatih.
"Apa kamu sudah tenang?" tanya Fatih dan Mentari pun menganggukkan kepalanya.
"Bayi kita sudah berbentuk dan dia bayi perempuan. Sesuai keinginan kamu, aku namai anak kita Zahra Nurul Hakim. Dia masih ada di kamar mayat. Niatnya setelah Dhuhur baru akan di kuburkan." Fatih menakup wajah Mentari dan menghapus air matanya dengan kedua ibu jari.
"Bolehkah aku melihatnya, Mas?" tanya Mentari.
"Apa kamu yakin akan kuat saat melihatnya? Jika tidak, lebih baik kamu jangan melihatnya," jawab Fatih.
"Aku ingin melihat untuk pertama dan terakhir kalinya, Mas." Mentari sudah yakin dengan keputusannya.
Maka Fatih pun membawa Mentari ke kamar jenazah untuk melihat bayi mereka. Mentari kembali menangis melihat bayi yang berukuran satu telapak tangan Fatih. Bayi perempuan yang selalu di nantikan olehnya. Dia kembali harus kehilangan Zahra dalam hidupnya. Zahra sahabat baik dan kakak madu, satu lagi Zahra putrinya yang mungil.
"Zahra akan dikuburkan oleh Papa dan Ayah." Fatih memberi tahu rencananya.
"Aku juga ingin ikut, Mas." Mentari berharap bisa ikut mengantar jenazah putrinya ke tempat peristirahatan abadi.
"Tidak! Kamu akan tetap di rumah sakit bersama aku," tolak Fatih.
"Tapi,Mas." Mentari kembali meneteskan air matanya.
"Kamu tidak akan sanggup, Sayang. Saat melihat putri kita di kebumikan," kata Fatih.
"Aku pasti kuat, Mas. Waktu Zahra juga aku kuat." Rayu Mentari.
"Kali ini akan berbeda. Zahra ini, putri kamu, putri kita. Aku nggak yakin kamu sanggup melihatnya saat tanah merah itu mengubur tubuh putri kita ini." Fatih juga ikut meneteskan air matanya yang sejak tadi dia tahan.
Mentari baru membayangkan saja sudah bergetar tubuhnya. Dia tidak akan sanggup saat melihat tubuh suci itu harus dikubur di depan matanya. Dulu saat melihat kuburan Laim saka, dia juga merasakan sakit yang amat sangat. Apalagi jika dia melihatnya langsung. Maka, Mentari pun memilih menuruti kata-kata suaminya. Dia nanti bisa mengunjungi kuburan putrinya setelah keluar dari rumah sakit.
******
__ADS_1
Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.
Dukung aku terus ya. Terima kasih.