Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (12)


__ADS_3

     Kini perhatian Fatih terfokus kepada Mentari yang sedang di periksa. Wajah Mentari memang terlihat lebih pucat. Fatih memegang tangan istrinya itu dengan lembut. Kemudian mengecup sayang, keningnya.


     Dokter menjelaskan kalau kondisi bayi Mentari dalam baik. Hanya saja tadi Mentari sempat mengalami keterkejutan yang amat sangat dan jantungnya berdetak sangat kencang, dan itu memompa aliran darah kepada si kembar juga menjadi cepat. Untungnya tidak berefek buruk terhadap bayi yang dikandungnya.


     Semua orang merasa lega karena keadaan si kembar baik-baik saja. Dokter menyarankan agar Mentari banyak beristirahat.


"Ayah ... Bunda. Fatih titip Mentari, ya. Sekarang Fatih mau melihat keadaan Zahra!" pinta Fatih kepada mertuanya.


"Iya. Mudah-mudahan saja Zahra juga dalam keadaan baik-baik saja," kata Ja'far.


"Aamiin."


 ******


     Fatih pun bergegas ke kamarnya yang berada di lantai atas. Khalid dan Aurora menemani Zahra yang sedang diperiksa oleh dokter pribadinya.


"Dokter bagaimana keadaan istriku?" tanya Fatih begitu sampai di samping Zahra yang sedang berbaring di atas kasurnya.


"Tekanan darahnya turun, dan sepertinya Nyonya Zahra melewatkan lagi jadwal meminum obatnya?!" 


     Fatih dan yang lainnya sangat terkejut. Saat mendengar perkataan dokter. Zahra hanya diam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Lagi-lagi dia membuat orang yang peduli kepadanya kecewa.


"Sayang, apa benar itu? Kalau kamu pernah melewatkan jadwal meminum obatnya?" tanya Faih dengan suaranya yang lembut, sambil mengusap kepala Zahra.


"Maaf, Mas. Aku saat itu kelupaan." Zahra mulai terisak dan air matanya meluncur dengan deras mengalir ke bagian samping mata dan batang hidungnya karena kini posisi kepalanya menghadap Fatih yang duduk di sampingnya.


     Fatih yang mendengar pengakuan Zahra barusan, sangat kecewa. Dia berpikir kenapa Zahra tidak sayang kepada dirinya sendiri. Padahal dia berusaha melakukan yang terbaik untuk istrinya.


"Sudahlah, yang berlalu tidak akan kembali lagi." Fatih menghapus air mata Zahra.


******

__ADS_1


     Dokter mengajak Fatih bicara empat mata, untuk memberitahu bahwa sekarang pengobatan Zahra sudah tidak bisa dengan obat saja. Ke alpaan Zahra yang berulang kali, itu membuat berantakan pengobatan yang sedang dijalaninya. Sebab, harus mengulang lagi dari awal pengobatannya jika alpa meminum obatnya.


     Fatih pun akan membicarakan pengobatan Zahra selanjutnya, dengan berdiskusi dulu bersama semua anggota keluarga dia dan kedua mertuanya. Sebab, ini akan mengambil resiko besar jika gagal lagi dalam pengobatannya.


     Orang tua Zahra, sudah di jemput dari rumahnya. Kini mereka sedang berunding dengan dokter, tentang pengobatan yang sebaiknya dilakukan oleh Zahra. Maka, sudah di putuskan mereka akan melakukan kemoterapi dalam pengobatan Zahra selanjutnya.


******


"Zahra, kenapa sampai lupa minum lagi obatnya? Apa tidak diingatkan oleh kamu, Nak?!" tanya Mirna kepada Fatih.


     Fatih, sungguh tidak suka saat ada orang lain yang melemparkan kesalahan kepada dirinya. Namun, dia menghormati ibu mertuanya, yang sudah mengandung, menyusui, dan membesarkan istrinya. Dia tidak mau berdebat atau berkilah. Semuanya juga sudah terlanjur terjadi, dan lagi-lagi itu saat Zahra bersama keluarganya, tanpa dia yang berada jadi pendamping.


"Sudahlah, Ummi. Semuanya juga sudah terjadi. Ini sudah takdir," kata Abah.


"Kalau Fatih lebih memerhatikan Zahra, pastinya tidak akan ada jadwal minum obat yang terlewat," balas Mirna.


     Fatih hanya menarik napasnya, dia sungguh kesal saat ini. Dia lebih memilih keluar kamar Zahra. Otak dan perasaannya perlu ditenangkan dahulu.


"Nak, Fatih tunggu! Mau kemana? Zahra butuh kamu." Mirna berteriak memanggil Fatih, tetapi tidak dihiraukan oleh menantunya.


"Huh, pasti Fatih mau menemani Mentari. Dia itu 'kan nggak apa-apa, tidak perlu di tungguin juga nggak apa-apa. Sedangkan Zahra sedang sakit parah, malah ditinggalin." Mirna mengeluh sama suaminya.


"Jangan begitu, Mi. Mentari juga istrinya. Apalagi sekarang dia sedang hamil besar, pastinya Fatih juga khawatir." Nasehat Abah.


"Ya, mentang-mentang Mentari lagi hamil anaknya. Dia 'kan tidak seharusnya meninggalkan Zahra. Apa karena Zahra tidak bisa memberikan anak untuknya, dia jadi menelantarkan anak kita." Mirna masih saja berceloteh seenaknya sendiri, tidak memikirkan perasaan Zahra yang sejak tadi mendengarkan.


"Ummi! Jangan bicara seperti itu! Aku tidak suka kalau istriku punya rasa iri dan dengki kepada orang lain. Zahra anak kita, Fatih juga anak kita, begitu juga dengan Mentari. Mereka itu semuanya anak kita. Fatih juga tidak membeda-bedakan Zahra dan Mentari. Lebih baik kita hibur Zahra, agar dia lebih semangat untuk menjalani pengobatannya." Abah menatap Ummi tidak suka akan kelakuannya barusan.


     Mirna pun akhirnya diam, kemudian meninggalkan suaminya dan berjalan ke arah ranjang. Kemudian duduk di sisi Zahra. Sebagai ibu, Mirna merasa kasihan dengan Zahra. Anak kebanggaannya itu begitu sangat menderita. Rahimnya diangkat karena dulu mengalami kanker rahim. Setelah itu divonis penyakit Leukemia stadium 3. Kemudian suaminya malah berpoligami dengan sahabat baik Zahra. Kini, saat sakitnya semakin parah suaminya malah pergi. Mirna tidak terima dengan semuanya. Bagaimanapun Zahra adalah istri pertama Fatih, seharusnya sebagai suami, menantunya itu harusnya lebih mengutamakan Zahra.


     Zahra, hatinya yang sedang rapuh. Kini malah mendengar obrolan antara Abah dan Umminya. Dia tahu semua itu salahnya. Dulu dia sudah janji kepada Fatih, bahwa tidak akan pernah lupa lagi untuk meminum obatnya. Apalagi kemarin juga dia sudah menentang perintah suaminya agar tetap diam dirumah, jangan menginap di rumah Abah dan Ummi. Namun, dia malah merengek keukeuh ingin ikut acara di pesantren.

__ADS_1


"Ummi, semua ini salah Zahra."


"Jangan bicara begitu. Kamu tidak salah apa-apa."


"Seandainya, kemarin Zahra menuruti kata Mas Fatih. Mungkin saja Zahra tidak akan lupa meminum obatnya."


"Apa yang kamu lakukan sudah benar semuanya. Masa istri tidak boleh pulang ke rumah orang tuanya. Dia itu selalu saja melarang semua hal yang bersangkutan dengan kamu."


"Tidak Ummi, Mas Fatih sudah tahu apa yang terbaik untuk aku. Aku saja yang selalu teledor."


"Kamu itu, jangan salahkan diri sendiri. Sudah kewajiban suami kamu untuk menjaga dan melakukan yang terbaik untuk istrinya. Apalagi kamu lagi sakit parah. Harusnya dia lebih perhatian kepada kamu. Jangan berat sebelah kepada istri muda."


"Tidak Ummi, Mas Fatih itu sudah berbuat adil kepada aku dan Mentari."


"Adil apanya! Lihat sekarang dia malah pergi menemui istri keduanya!"


******


Bagaimana hubungan Fatih dan Zahra selanjutnya?


Lagi-lagi Ummi memprovokasi Zahra. Bagaimana tanggapan Zahra?


Bagaimana Fatih mengatasi masalah yang datang bersamaan dan bertubi-tubi, kepada keluarganya?


Tunggu kelanjutannya ya di BAB-BAB selanjutnya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2