
William dan Mentari turun kebawah untuk sarapan, terlihat senyum kebahagiaan dari wajah keduanya. Mereka masih seperti pasangan pengantin baru. Tangan keduanya saling menggenggam, William begitu perhatian dan melakukan Mentari dengan hati-hati. Takut istri dan bayi mereka kenapa-kenapa.
Aurora tersenyum hangat menyambut keduanya. Khalid juga menyambut William dan Mentari.
"Apa semalam tidurmu nyenyak, Sayang?" tanya Aurora kepada Mentari.
"Alhamdulillah, Ma."
"Gimana nggak nyenyak, Ma. Willi gendong aja dia enggak inget," balas William sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil.
"Oppa Willi … apaan sich!" Mentari menutup mukanya dengan sebelah tangannya, sementara yang sebelahnya lagi memukul ringan lengan William.
Semua yang ada di sana tertawa melihat Mentari yang tersipu malu oleh kejahilan William. Fatih dan Zahra pun terkekeh.
Mereka sarapan dengan suasana yang menyenangkan. Apalagi ada William yang terus saja menggoda Mentari. Sehingga yang lainnya juga ikut-ikutan.
******
Ternyata bukan hanya William dan Mentari yang pulang ke Amerika, hari itu. Namun keluarga Khalid juga semua ikut kesana. Mereka ingin menjenguk bayi kembar anak Alex, yang baru saja dilahirkan oleh Cantika. Ja'far dan Sinar juga ikut.
William pun mengajak dokter kandungan yang bekerja di Rumah Sakit Harapan, dalam perjalanannya kali ini. Takut terjadi sesuatu dengan Mentari dan bayi mereka. William menjadi sangat posesif terhadap istrinya itu.
Mereka pergi menggunakan pesawat pribadi milik Khalid. Suasana perjalanan mereka kali ini penuh dengan suka cita, bahkan perjalanan yang begitu banyak memakan waktu, sampai tidak terasa.
******
Begitu mereka sampai bandara Jennifer sudah berada di sana. Ingin menyambut menantu kesayangannya itu.
"Sayang …. selamat datang kembali," sapa Jennifer sambil memeluk Mentari. "Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Jennifer lagi sambil melihat wajah lelah Mentari yang habis melakukan perjalanan jauh.
"Alhamdulillah, Mommy. Mentari dalam keadaan baik," jawabnya sambil tersenyum manis agar mertuanya itu tidak khawatir.
"Mommy, tenang saja. Ada Willi yang akan selalu menjaga menantu kesayangan ini. Selama dua puluh empat jam nonstop," lanjut William sambil merangkul tubuh Mentari.
"Kamu itu … awas loh kalau di buat sedih lagi, menantu Mommy. Kamu akan mendapat hukuman yang tidak akan pernah terbayangkan olehmu!" Ancam Jennifer kepada Willliam.
******
Akhirnya semua orang memasuki mobil jemputan, yang sudah disiapkan oleh Alex, untuk menjemput mereka. Mobil itu berarak menuju ke kediaman Andersson.
__ADS_1
Semua orang ditahan oleh Alex sebelum menemui baby twins. Mereka harus membersihkan badan mereka terlebih dahulu. Agar tidak membawa kuman penyakit, saat menemui bayinya. Alex sangat begitu posesif terhadap semua keluarganya.
Sambil menyiapkan diri, mereka beristirahat sekalian. Hampir dua jam mereka menunggu. Akhirnya bisa melihat bayi kembar yang baru berusia beberapa hari itu.
William mendatangi Alex dan menanyakan tentang kasus rekaman yang dibuat oleh Angel.
"Semua sudah aku urus. Dia juga mendapat tuduhan lainnya," kata Alex sambil melihat ke arah William.
"Sekarang dia ada dimana?" tanya William penasaran.
"Dia berada di rumah sakit isolasi dalam pengawasan polisi," jawab Alex dengan nada malasnya. Dari dulu Alex memang tidak suka kepada Angel.
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya dia masih ada yang mengawasi dalam menjalani pengobatannya."
William dan Alex mengakhiri pembicaraannya, saat Mentari mendekat ke arah mereka.
******
"Cantika ... wajah bayi kalian, sepertinya kali ini juga Alex yang mendominasi." Aurora menggendong salah satu dari bayi itu.
"Iya. Semua anak yang kamu lahirkan, entah kenapa bule semua. Milik kamu nggak ada yang menempel sedikit pun," kata Sinar sambil memperhatikan wajah bayi yang berada dalam gendongannya.
"Bunda, itu karena saat membuat bayinya, Al yang semangat membuatnya," kata William sambil tertawa terkekeh. Diikuti oleh yang lainnya, membuat kamar bayi itu semakin ramai.
"Coba nanti, Cantika yang semangat dalam membuat dede bayi. Pasti wajahnya mirip dia," lanjut William masih tertawa lepas.
Ruangan itu makin ramai saat pasangan Cantika dan Alex menggoda William dan Mentari yang baru rujuk. Nggak mau cuma dia yang jadi bahan gurauan keluarganya. Cantika habis-habisan menggoda William dan Mentari.
******
Setelah makan malam bersama di mansion Andersson, William mengajak Mentari menginap di apartemen. William begitu perhatian akan kandungan istrinya itu. Dia membuatkan susu ibu hamil, dan sepiring potongan apel sebagai cemilannya.
"Baby, minum dulu susunya!" pinta William begitu duduk di sofa, bersebelahan dengan Mentari.
Mentari pun menerimanya dengan senang hati. Dia mendaratkan satu ciuman di pipi William.
"Terima kasih, Oppa." Mentari langsung meminum habis segelas susu khusus ibu hamil rasa coklat yang menjadi kesukaannya.
Sambil berbicara obrolan ringan, Mentari dan William saling menyuapi buah apel, yang tadi disiapkan bersama susu. Keduanya menikmati momen itu, waktu bersama yang serasa tidak ingin berakhir.
__ADS_1
Malam itu pun mereka lalui dengan nyanyian merdu dari Mentari. William sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan, tentang itu. Dia masih bisa melakukannya, dengan hati-hati, dan dalam batas yang wajar.
Semenjak kejadian itu, William benar-benar menunjukan betapa dia begitu mencintai dan menyayangi Mentari. Mentari pun senang bukan kepalang, selalu dilimpahi rasa cinta dari William. Semua kebutuhan Mentari selama hamil disediakan oleh William. Sehingga dia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
******
"Baby, nanti siang sepertinya tidak bisa makan bersama," kata William saat Mentari memasangkan dari berwarna hitam polet merah di kerah kemejanya yang berwarna abu.
"Hm, kenapa Oppa?" tanya Mentari dengan suara khas Mentari yang manja.
"Karena aku harus mengunjungi pabrik dan perkebunan jagung, Sayang," jawab William kemudian mengecup bibir istrinya sebagai tanda terima kasih, saat selesai memasangkan dasinya.
"Tapi nggak akan menginap di sana 'kan?" tanya Mentari sambil cemberut, karena dia tidak bisa tidur kalau tidak memeluk William.
Melihat reaksi Mentari seperti itu, membuat William senang. Itu karena dia merasa keberadaan dirinya, sangat diharapkan selalu ada oleh istrinya itu.
"Tentu saja aku akan pulang, Baby. Mana mungkin aku akan menginap di sana. Aku tidak akan bisa tidur kalau tidak ada kamu di sisiku," jawab William sambil tersenyum dan menjawil dagu Mentari dengan gemas.
******
Tiga bulan kemudian….
Kehidupan rumah tangga Mentari dan William semakin harmonis saja. Mereka masih seperti pasangan pengantin baru. Hari Sabtu dan Minggu akan mereka habiskan dengan berlibur. William selalu membuat Mentari bahagia dalam menjalani harinya menjadi calon seorang ibu.
William juga yang paling semangat saat pergi ke dokter kandungan. Bahkan dia yang aktif bertanya soal kehamilan, agar bisa menjaga kondisi ibu dan bayinya selalu dalam keadaan sehat.
Dibandingkan Jennifer, mertuanya. William lebih cerewet kepada Mentari. Dia sering mengingatkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat ibu hamil. Padahal itu tidak apa-apa, nggak ada pengaruhnya kepada si ibu dan bayi dalam kandungannya.
Ada senangnya, ada sedihnya bagi Mentari diperhatikan seperti itu oleh William. Dia tidak diizinkan mengendarai mobil semenjak dirinya hamil oleh William. Tidak boleh makan makanan yang pedas, walaupun sedikit. Tidak boleh minum sirup atau minuman kemasan. Kalau mau minum rasa buah-buahan, dia harus membuatnya jus buah sendiri.
Mentari menyangka kalau kehidupan rumah tangganya akan adem ayem dan penuh kebahagiaan. Ternyata itu semua hanya angannya semata sampai ada seseorang yang memasuki kehidupan rumah tangganya.
*******
HAI SEMUANYA ... SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN KISAH MENTARI & WILLIAM. AKU MAU KASIH NOVEL REKOMENDASI YANG BAGUS BUAT KALIAN. KARYA BARU DARI SAHABATKU: M ANHA. JUDULNYA : MENCINTAI DIRIKU DAN DIRINYA.
BACA KASIH LIKE DAN KOMENTAR YANG POSITIF YA 🥰😘
__ADS_1