Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (36)


__ADS_3

     William duduk di kursi besi yang biasa diduduki oleh para pasien atau pengunjung. Pikirannya kalut, bagaimana kalau Mentari marah kepadanya. Meski hubungan ketiganya sudah lebih dekat. Tetap saja dia akan melukai hati istrinya, dengan kenyataan ini.


     William melangkah dengan gontai, hilang semangat dalam hidupnya. Dia sangat menyesali dirinya, kenapa dulu dia mau ikut acara reuni SMA. Bila saja dulu dia ikut Alex ke Indonesia, mungkin ini tidak akan terjadi.


     Kini William pasrah, dengan apa yang akan terjadi nanti. Namun dirinya akan berusaha mempertahankan Mentari sebagai istrinya.


     Mobil William meluncur dengan kecepatan pelan. Dia teringat ucapan Mentari, bila hati dan pikiran tidak dalam keadaan tenang, jangan mengendarai mobil. Sebab emosi si pengemudi bisa mempengaruhinya dalam menjalankan laju kendaraan. Emosi marah dan sedih, sering membuat si pengemudi melajukan kendaraannya dengan sangat kencang, sehingga tidak bisa mengendalikan laju mobil, akhirnya bisa terjadi kecelakaan.


     William memasuki rumahnya dengan wajah kusut. Hilang pancaran kebahagiaan di sorot matanya. Dia menaiki anak tangga dengan berpegangan kepada palang penyanggah tangga. Tubuhnya terasa berat, tapi kakinya terasa lemah.


     Mentari yang baru selesai membuat kue-- kesukaan Jennifer--, bersama Allura. Tidak sengaja dia melihat William pulang dengan langkah yang gontai. Maka Mentari pun menyusulnya.


"Mom, ini kue di masukan ke dalam toples?" tanya Allura sambil menghirup wangi butter yang menguar dari kue yang baru di keluarkan dari oven.


"Iya, Sayang. Nanti kalau sudah dingin, kamu masukkan ke dalam toples, ya!" suruh Mentari sambil tersenyum.


"Oke!" Allura menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran.


"Mommy mau ke kamar dulu," kata Mentari melanjutkan langkahnya menyusul William.


     Mentari memasuki kamar tidurnya. Terlihat kalau suaminya sedang berbaring di sofa. Dengan lengannya yang menutupi sebagian wajah miliknya, atau lebih tepatnya bagian mata.


     Mentari mengira William sedang sakit. Dia memegang lengan suaminya itu dan menarik agar tidak menghalangi wajahnya. Disentuhnya kening William terasa sangat panas.


"Oppa, demam!" Mentari agak panik saat merasakan suhu tubuh William yang sangat tinggi.


"Oppa, tidurnya di kasur, ya!" ajak Mentari sambil menggoyangkan tubuh William.


     William membuka matanya, dia merasakan sakit di kepala dan penglihatannya berkunang-kunang. Sentuhan tangan Mentari di keningnya terasa sejuk seperti air embun.


     Diambilnya tangan Mentari, kemudian di letakan di pipinya. William menikmati sensasi dingin sampai memejamkan matanya.

__ADS_1


"Oppa ... kamu sedang sakit, sebaiknya tidur di kasur," kata Mentari dengan meletakkan satu lagi tangannya di pipi kiri William.


     William tidak mendengarkan Mentari. Dia malah menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. Bahkan perut buncit Mentari yang mengganjal, kini penghalang baginya. William pun menyampingkan tubuhnya agar Mentari bisa ikut tidur di sofa. Seperti biasa, bibir William suka menjelajahi wajah Mentari.


     Mentari kini merasa kepanasan karena suhu panas dari tubuh William. Bahkan bibirnya sangat terasa panas sekali.


"Oppa! Kamu sedang sakit. Aku akan mengambil obat penurun panas dulu," kata Mentari dengan gusar dan memukul pelan lengan William.


"Kumohon, sebentar saja seperti ini." William semakin mengeratkan pelukannya. Dia takut ini adalah pelukan terakhirnya. Jika Mentari marah kepadanya dan memutuskan pergi meninggalkannya. Maka dia pasrah.


"Baiklah, aku kasih waktu satu menit lagi. Setelah itu lepaskan aku," kata Mentari menyerah.


"Tidak! Lima menit," pinta William disela hisapan leher Mentari, menghirup wangi jilbab istrinya.


     Setelah lima menit, William benar melepaskan Mentari dari pelukannya. Dia pun meminum obat penurun panas. Tidurnya juga sudah pindah ke atas kasur.


     William stress karena ketakutan akan ditinggalkan oleh Mentari. Jika isterinya itu tidak mau menerima kenyataan kalau Allura adalah anak kandungnya dengan Angel. Sehingga memutuskan pergi meninggalkannya. Bayangan-bayangan kepergian Mentari berputar terus di kepalanya.


******


     William terbangun saat alarm waktu subuh berbunyi. Dia melihat Mentari tidur sambil bersandar. Tangannya juga di pasang selang infus. Dia baru sadar kalau kemarin dia sakit karena terlalu memikirkan hasil tes DNA. 


     William pun bangun dan membenarkan posisi tidur Mentari. Dia memandangi wajah istrinya yang selalu membuatnya tersenyum bahagia. Namun sebaliknya dia malah suka membuat hatinya terluka.


     Sudah setengah jam berlalu, maka William pun membangunkan Mentari untuk sholat subuh berjamaah. Kondisi tubuhnya pun sudah lebih baik. Demamnya juga sudah turun, dan mendekati suhu normal.


     Mentari pun membuat sarapan dan untuk William, dia membuatkan bubur. Dari kemarin William tidak mau makan, dan itu pun membuat Mentari semakin khawatir.


     William pun mau makan jika Mentari yang menyuapi. Seperti sekarang, dia sedang duduk di kasurnya, sementara Mentari duduk di kursi samping ranjangnya. Sementara Allura ikut duduk di atas kasur bersama William.


     Allura senang saat dirinya bisa bermanja-manja kepada William dan Mentari. Dia juga sudah tidak sungkan lagi, jika meminta dibacakan buku dongeng kepada Mentari. Menurutnya gaya bercerita Mentari lebih terasa menarik dibandingkan membaca buku sendiri. Meski Mentari selalu menyuruhnya belajar membaca agar lebih lancar lagi.

__ADS_1


"Daddy, sakit apa?" tanya Allura saat Mentari memberikan obat untuk William.


"Demam," jawab Mentari sambil memberikan segelas air minum kepada William.


"Apa jika aku sakit nanti, Mommy juga akan menyuapiku seperti Daddy, barusan?" tanya Allura sambil menatap Mentari.


"Tentu saja. Namun Mommy berharap kalau kamu akan sehat selalu," jawab Mentari sambil tersenyum dan menjawil pipi Allura yang mulai terisi, nggak tirus seperti pertama kali datang ke rumahnya.


     Allura pun tersenyum membalas Mentari. Dia juga ikut membaringkan tubuhnya di samping William dan memeluk lengan laki-laki yang sudah diklaim sebagai Daddy-nya.


******


     Mentari tidak menanyakan hasil tes DNA kepada William. Dia berniat menanyakannya setelah kesehatan suaminya kembali pulih.


     Namun saat Mentari membawa jas kotor milik William, yang dipakai kemarin untuk di simpan ke keranjang baju kotor, dan akan dibawa oleh pelayan bagian laundry. Dia menemukan amplop berlabel rumah sakit milik keluarga Green. Tangan Mentari bergetar saat membuka amplop itu. Dia sungguh penasaran dengan hasilnya.


     Mentari merasa ada godam yang menghantam hatinya. Saat dia membaca hasil tes DNA yang menyatakan kalau William dan Allura, positif hubungannya ayah dan anak. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang chubby. Dia menutup mulutnya, agar tidak terdengar suara isakan tangisnya. Meski dia dapat menduganya. Serta sudah ikhlas menerima Allura sebagai anak yang akan dibesarkan dan dididik olehnya. Tetap saja hatinya sakit, saat melihat selembar kertas hasil tes DNA. Dia hanya wanita yang hatinya akan merasa sakit dan mudah terluka saat sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa dirinya.


"Baby ... kamu masih di dalam?" William mengetuk pintu kamar mandinya karena Mentari terasa begitu lama di dalam sana.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA.


JIKA KAMU MENYUKAI CERITA INI.


DUKUNG AKU DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


******

__ADS_1


__ADS_2