
Saat Mentari menyusui si kembar, handphone milik Fatih berbunyi. Ada nama Aisyah tertera di layar. Hati Fatih sudah merasa tidak enak, kalau mendapat telepon dari keluarga Zahra.
"Siapa Mas?" tanya Mentari.
"Aisyah ... mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk pada Zahra," jawab Fatih.
"Assalammualaikum, ada apa Aisyah?" sapa Fatih setelah menggeserkan tanda hijau di layar handphone-nya
[Wa'alaikumsalam. Kak Fatih ... tolong Zahra ditemukan pingsan di kamarnya!]
"Apa? Bagaimana bisa hal itu terjadi?" suara Fatih meninggi karena panik.
[Tidak tahu. Barusan dia masih baik-baik saja. Katanya dia akan mengambil handphone untuk memfoto si kecil. Tetapi, dia nggak juga kembali meski sudah agak lama. Makanya aku susul dia.]
"Sekarang kalian berada di mana?" tanya Fatih lagi.
[Kita sedang menuju ke rumah sakit.]
Fatih panik saat Aisyah memberitahu kalau Zahra pingsan. Kini sedang dibawa ke rumah sakit.
"Kalian langsung bawa Zahra ke Rumah Sakit Harapan!" perintah Fatih.
"Mas, ada apa?" tanya Mentari.
"Zahra ditemukan pingsan," jawab Fatih kemudian berkata, "kita ke rumah sakit, sekarang ya!"
"Mana mungkin membawa si kembar ke sana saat ini. Pastinya akan banyak hal yang harus di persiapkan." Mentari kurang setuju jika membawa si kembar ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu dan anak-anak pulang diantarkan sama supir kantor, ya?" Fatih memegang jemari Mentari.
Mentari pun menggelengkan kepalanya, "aku akan minta Fajar ke sini untuk menjemput si kembar. Biar malam ini mereka tidur di rumah Ayah."
Fatih merasa bersalah, tidak bisa mengantarkan si kembar ke rumah Kakek dan Neneknya. Kalau Mentari paling nanti malam dia akan pulang karena mana mungkin akan meninggalkan anak-anaknya.
"Kita berangkat bersama, setelah Fajar datang menjemput si kembar. Aku akan memberitahu Mama dan Papa tentang kondisi Zahra saat ini." Fatih pun menelpon Aurora yang sedang berada di rumah sakit sedang menunggui William.
******
Mentari dan Fatih dengan langkah cepat mendatangi ruang tempat Zahra dirawat. Begitu sampai sana, dia tidak bisa masuk karena Zahra langsung dimasukan ke ruang isolasi. Ada Andromeda dan Aisyah yang sedang duduk di depan ruang rawat dan Khalid juga Aurora. Keempat orang itu menampakan wajah tegang.
"Pa, Ma. Bagaimana keadaan Zahra tadi?" tanya Fatih.
"Dia tidak sadarkan diri. Ternyata menangguhkan pengobatan itu bukan hal yang baik untuknya." Khalid bicara sambil memeluk Aurora yang masih menangis karena dia melihat Zahra yang sudah tidak berdaya dengan wajah yang sangat pucat seolah sudah tidak ada darah merah di dalam tubuhnya.
"Lho bukannya Zahra sebentar lagi mau menjalani kemoterapi lagi?" tanya Andromeda kepada Khalid.
"Seharusnya dia merekomendasikan dokter lain yang bisa menangani Zahra, secepatnya." Andromeda tidak tahu sudah segala upaya dilakukan Fatih dan keluarganya dalam pengobatan penyakit Leukemia yang diderita oleh Zahra.
"Ya. Jika saja Zahra tidak pernah menginap di rumah kalian dan Ummi. Dia tidak akan seperti ini!" Fatih yang sedang tidak tenang hati dan pikirannya karena belum mendapat kabar keadaan Zahra. Merasa tersinggung oleh perkataan Andromeda. Seolah dia tidak memperhatikan kondisi Zahra.
"Apa maksud kamu?" Andromeda bertanya dengan nada tinggi. Aisyah pun mencoba menenangkan suaminya.
"Zahra sering mengalami ...." Fatih tidak melanjutkan kata-katanya lagi karena Mentari mencekram jemari tangannya. Fatih melihat kalau Mentari menggelengkan kepalanya karena itu malah akan menambah masalah baru jika diucapkan.
"Sudah! Keadaannya sudah begini, mau diapakan lagi. Semuanya juga sudah terlanjur terjadi. Kalian tidak boleh menyalahkan satu sama lainnya." Aurora yang sejak tadi menangis dalam diam di pelukan Khalid, akhirnya bicara. Aurora juga sangat kesal karena setiap Zahra bersama keluarganya pasti akhirnya selalu menambah parah penyakitnya.
__ADS_1
Fatih duduk bersama Mentari dan Khalid, sedangkan Aurora kembali ke ruangan William yang ada di dua ruangan jaraknya dari tempat ruang rawat Mentari. Dokter dan asistennya keluar dari ruangan khusus milik Zahra. Wajah mereka menampakan kekecewaan.
Fatih dan Mentari langsung berdiri begitu dokter itu mendekati mereka. Aisyah dan Andromeda pun ikut mendekat.
"Bagaimana keadaan Zahra, sekarang?" tanya Fatih dan Mentari bersamaan.
"Maafkan kami, Tuan Fatih ... Nyonya Mentari. Keadaan Nyonya Zahra sudah sangat parah, kini kankernya sudah menyerang ke bagian hati dan jantung. Terlalu mustahil bisa disembuhkan lagi. Hanya keajaiban saja, yang bisa menolongnya." Dokter dan asistennya sudah angkat tangan yakin bisa menyembuhkan penyakit Leukemia, itu.
Fatih merasa kedua kakinya langsung lemas, saat tahu kondisi Zahra sekarang. Padahal setiap hari mereka bertemu, berbicara, dan semuanya terlihat baik-baik saja. Zahra pun saat terakhir kali di cek up, semuanya dalam keadaan baik. Lalu, kenapa sekarang hasil kesehatannya terbanting terbalik?
Mentari tidak menyangka kalau kondisi kesehatan Zahra sudah separah itu. Padahal Zahra tidak pernah mengeluhkan sakit apapun di bagian perut dan dadanya. Hanya saja dia sering banyak tidur sekarang. Padahal Zahra paling anti tidur setelah Subuh dan Asar.
Aisyah menangis tergugu saat tahu kondisi kakaknya. Dia menyesali, kurangnya perhatian kepada Zahra. Jika berbicara lewat telpon atau video call, mereka malah membicarakan hal yang lain. Bukannya menanyakan perkembangan kesehatannya atau mendengarkan keluh kesah rasa sakit yang sedang dialaminya.
"Kenapa Kak Zahra tidak pernah bilang kalau sakitnya bertambah parah?" tanya Aisyah kepada Mentari.
"Kami juga tidak tahu" jawab Mentari.
******
"Bagaimanakah keadaan Zahra? Akankah ada keajaiban datang untuknya?
Tunggu kelanjutannya?
Bagi yang ingin ikutan giveaway, waktu masih panjang. Ayo kirim hadiah dan Vote-nya.
Juara 1 : Buku Novel karya aku.
__ADS_1
Juara 2 : Pulsa 30.000
Juara 3 : Pulsa 20.000