
William datang ke Indonesia dengan menggunakan jet pribadinya. Saat tahu kalau Mentari pulang ke Indonesia, dia langsung bergegas pergi menjemputnya.
Begitu sampai di bandara, tempat yang pertama kali dituju adalah Rumah Sakit Harapan. Luka akibat pukulan Alex, makin terasa sakit. Dia ingin mengobati lukanya itu terlebih dahulu.
Saat Dokter memeriksa William, dia juga menyarankan untuk rawat inap terlebih dahulu. Namun William menolaknya, karena ada hal penting yang harus dilakukan olehnya terlebih dahulu.
William pun bergegas ke rumah Khalid, hanya untuk membawa mobilnya saja. Bahkan dia tidak menemui Aurora dan Khalid, karena pasti mereka akan menginterogasinya.
William memacu laju mobilnya dengan begitu cepat. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mentari. Istri yang sudah di sakiti hatinya.
"Baby .,.. tunggu aku!" gumam William dalam hatinya.
Dalam waktu singkat, kini William sudah sampai di depan gerbang rumah Ja'far. Rumah peninggalan turun temurun keluarga Muchtar, tempat Cantika dan Mentari di besarkan.
William menekan bel agar pintu gerbang dibuka. Kebetulan Mang Asep sedang menyapu di dekat gerbang, jadi dia langsung membukanya.
"Eh, mister Willi datang juga kesini?" tanya Mang Asep saat membukakan pintu besi itu, dan dilihatnya ada William.
"Iya, Mang. Mau menjemput Mentari, sekalian liburan," jawan William sambil tersenyum meringis menahan rasa sakit di bibirnya yang sobek.
"Itu mukanya kenapa Mister?" tanya Mang Ujang lagi, karena kepo saat melihat wajah tampan William menjadi babak belur.
"Biasa Mang, antar laki-laki!" William sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mentari. "Bisa dibukakan gerbangnya, Mang? Mau masukin mobil!" pinta William sambil menunjukan mobilnya.
Mang Asep pun tersenyum dan meminta maaf. Kemudian di dorongnya pintu gerbang itu, agar terbuka lebih lebar lagi. William pun memasuki rumah Ja'far dengan hati yang deg-degan bercampur takut akan di usir oleh pemilik rumah.
Mentari yang kebetulan berada di balkon kamarnya. Melihat kedatangan William, dan dia merasa sangat bahagia saat melihat suaminya itu. Mentari pun berlari ingin menemuinya, tapi saat akan membuka pintu kamarnya. Dia berhenti, dan ada rasa takut di hatinya. Kalau William datang ke rumahnya adalah untuk menyerahkan surat cerainya.
Mentari pun jatuh duduk bersandar di pintu kamarnya yang masih terkunci. Dirinya kembali lagi menangis, karena rasa sakit hatinya akan diceraikan oleh suaminya itu. Ditekukkannya kedua kaki Mentari dan disembunyikan wajahnya di sana, sambil menangis tergugu.
*******
"Assalamualaikum,"
William mengetuk pintu rumah Ja'far, dan mengucapkan salam. Pintu belum juga dibuka, sehingga dia mengulanginya kembali. Saat ketukan dan salam yang ketiga kali, barulah pintu itu terbuka.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam,"
Sinar membukakan pintu dan betapa terkejutnya, saat melihat William dengan wajahnya yang penuh luka dan memar. Laki-laki yang sudah menyakiti hati putrinya itu kini tersenyum dan mencium tangannya dengan takzim.
"Bunda apa kabar?" tanya William kepada Sinar karena yang kini sedang berdiri terdiam di hadapannya.
"Kabar Bunda menjadi buruk setelah melihat kamu!" jawab Sinar dengan nada bicaranya yang ketus.
William mengakui kesalahannya, dia hanya meringis saat mendengar pengakuan jujur ibu mertuanya itu. Mau bagaimanapun memang dia yang salah.
"Maafkan Willi, Bun." William memasang wajah penuh penyesalan, dengan apa yang sudah dia perbuat kepada istrinya.
"Semudah itu kamu meminta maaf, setelah apa yang dilakukan kepada putriku!" bentak Sinar dengan suaranya yang melengking.
"William mengakui semua kesalahan yang sudah dilakukan kepada Mentari," kata William penuh dengan penyesalan.
"Terus kamu kesini mau apa? Memberikan surat gugatan cerai!" tanya Sinar dengan sinis, masih merasa kesal kepada William.
"Tidak! Willi kesini bukan untuk itu!" bantah William, sambil menggoyangkan tangannya. "Willi kesini mau baikan lagi dengan Mentari."
"Iya, Bun. Willi ingin kembali lagi dengan Mentari. Saat itu keadaannya sedang marah karena ke hasut sama omongan orang lain," kata William dengan lirih karena malu sudah bisa dibodohi oleh mantan pacarnya.
"Siapa tamunya, Bun?" tanya Ja'far karena Sinar berbicara dengan tamunya di depan pintu.
"Bukan siapa-siapa, Yah. Orang yang tidak penting!" jawab Sinar dengan nada sindirannya kepada William.
"Kenapa bicaranya begitu lama?" tanya Ja'far sambil berjalan mendekati pintu depan rumah, ingin mengetahui siapa tamu yang disebut tidak penting oleh istrinya itu.
"Ini dia juga mau pergi!" jawab Sinar sambil penutupan pintunya.
"Bunda … tunggu dulu! Willi belum selesai bicara!" William menahan pintu yang akan di tutup oleh Sinar, menggunakan tangan dan kakinya agar tidak menutup.
Mendengar suara yang dikenal olehnya, Ja'far langsung membuka lagi pintu yang akan ditutup oleh Sinar. Dilihatnya sang menantu sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ayah …,"
__ADS_1
"Mau apa kamu datang kesini?" Ja'far meninggikan suaranya karena dia sangat marah saat melihat laki-laki yang sudah mengusir putrinya.
"Willi mau meminta maaf kepada kalian semua. Atas kesalahan yang Willi lakukan, terutama kepada Mentari. Karena kebodohan Willi, dia jadi menderita." William meneteskan air matanya, karena dia juga merasa sakit hatinya, mengingat kesedihan Mentari saat itu.
"Kami sudah tidak peduli lagi denganmu! Jadi pergilah dari sini!" usir Ja'far dengan mendorong tubuh William yang tinggi, dengan menggunakan kedua tangannya.
"Ayah, maafkan Willi! Biarkan aku kembali kepada Mentari?" William memohon kepada Ja'far agar bisa menemui Mentari dan meminta maaf kepadanya.
"Pergi dari sini! Mentari sudah tidak membutuhkan dirimu lagi dalam hidupnya!" bentak Ja'far.
"Kamu tidak tahu betapa sakit hatinya dia, saat kamu merendahkan dirinya!" teriak Sinar.
Ja'far mendorong William dengan sekuat tenaga sehingga terdorong jatuh ke lantai. Kemudian Jafar menutup pintu dan menguncinya.
"Ayah … Bunda!" panggil William sambil menggedor pintu dengan sangat kuat, agar dibukakan.
"Willi mohon … biarkan bisa bertemu dengan Mentari, Yah!" teriak William.
******
Mentari yang mendengar semua itu, kini menangis tertahan di anak tangga yang terhalang oleh dinding. Dia yang sangat merindukan William hanya ingin melihatnya sebentar walau dari kejauhan.
Normalnya, wanita yang sudah di sakiti hati oleh lelakinya, menjadi benci dan tidak mau melihat lagi. Namun Mentari berbeda, dia benci kelakuan William yang tidak mempercayai dan merendahkan dirinya. Hanya saja perasaan dia masih begitu cinta kepada suaminya itu, sehingga membuatnya ingin melihatnya. Bahkan entah kenapa hanya mendengar suaranya saja dia merasa bahagia.
Entah bawaan bayinya, atau apa. Mentari selalu ingin melihat wajah William. Mau itu foto atau video saat bersama dirinya. Morning sicknees yang terjadi tadi pagi juga, dirasa agak membaik perasaannya saat melihat foto dan video William.
Mentari rasanya ingin berlari dan menemui William. Namun ada kedua orang tuanya yang menghadang dia, saat turun dari anak tangga.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1