Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (30)


__ADS_3

    Mentari dan Fatih kini sedang berada di ruangan Zahra. Perkembangan kesehatan Zahra, sudah banyak kemajuan. Semenjak Aurora kembali dari Jerman, dia yang mengawasi perkembangan kesehatan Zahra. Bahkan sering dia menegur Mirna, bila bicara dengan Zahra. Untungnya, sudah beberapa hari ini Mirna tidak datang ke rumah sakit karena sibuk mengurus Aisyah. Hanya Abah yang selalu menjenguk Zahra, itu juga tidak menginap. Dokter pun senang dengan perkembangan kesehatan Zahra, bahkan nanti Zahra sudah boleh pulang dan untuk proses pengobatan kelanjutannya menunggu perkembangan kondisi Zahra kedepannya lagi.


"Mentari aku ingin melihat si kembar!" Pinta Zahra sambil menggoyangkan tangan Mentari.


"Besok pagi, sambil berjemur, bagaimana?" tawar Mentari.


"Beneran, ya. Aku akan menantikan hari besok loh," kata Zahra.


"Iya, aku akan bawa si kembar ke sini sambil berjemur besok," balas Mentari.


"Aku dengar ada yang mengirim surat palsu gugatan cerai, apa sudah ketahuan siapa yang sudah mengirimnya?" tanya Zahra.


"Aku belum tahu, itu Mas Fatih dan pengacara yang mengurusnya," jawab Mentari.


"Semoga cepat ketemu orang yang sudah berbuat jahat begitu!" kata Zahra dengan penuh kekesalan.


"Aamiin," kata Mentari dan Fatih bersamaan.


"Sayang, kamu sudah waktunya istirahat. Ayo tidur biar cepat sembuh." Fatih membantu Zahra berbaring dan membetulkan letak selimutnya.


     Mentari dan Fatih pun keluar dari kamar Zahra. Keduanya kini kembali ke ruangan Mentari yang berada di ruang paling ujung dekat tangga, posisi kebalikan dari ruang Zahra. Sinar dan Aurora sedang memangku si kembar.


"Loh, kalian sudah ke sini? Apa Zahra sudah tidur?" tanya Aurora.


"Sudah, Ma. Fatih minta dia untuk beristirahat," jawab Fatih.


"Jadi, besok si kembar di bawa pulang dan sekalian akikah?!" tanya Sinar.


"Jadi, Bun," jawab Fatih.


"Mentari, kayaknya si adik ingin menyusu!" Aurora menggendong si bungsu yang mulut kecilnya terus bergerak lucu seperti sedang menyusu. Kemudian, dia pamit mau menunggui Zahra.


     Mentari pun menyusui si bungsu ternyata si sulung pun menangis ingin menyusu. Maka, Mentari pun memangku dan menyusui keduanya bersamaan. Melihat pemandangan ini, membuat Fatih iri sama si kembar.


"Honey, si kembar membuatku cemburu," bisik Fatih sangat pelan karena malu kalau terdengar sama mertuanya.


     Mentari pun mengecup pipi Fatih, "sekarang, ini dulu, ya!"

__ADS_1


     Fatih pun pasrah saja, dia akan bersabar sampai waktu yang sudah ditentukan. Melihat ekspresi wajah suaminya, membuat Mentari tersenyum geli. Sedangkan Sinar yang memperhatikan anak dan menantunya, hanya tersenyum simpul. Dia senang Mentari dan Fatih bisa akur lagi.


     Sinar pun memilih mengunjungi tempat Zahra, dari pada jadi pengganggu untuk anak dan menantunya. Sudah sangat terlihat jelas dari wajah Fatih kalau dia ingin memadu kasih dengan Mentari.


     Setelah Sinar pergi, si kembar sudah tidur dan dipindahkan ke tempat boks bayi. Fatih dan Mentari duduk berdampingan di sofa yang lumayan lebar.


"Lovely, aku senang akhirnya malam ini aku bisa menghabiskan bersama kamu," bisik Fatih penuh cinta.


"Aku juga senang, Mas." Mentari mengecup pipi Fatih kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Dengar aku, ya. Apapun yang terjadi nanti kedepannya, kamu harus percaya sama aku!" Fatih mengecup kepala Mentari.


"Iya, Mas. Aku tidak mau ada lagi kesalahpahaman, seperti kemarin." Mentari mengeratkan pelukannya kepada Fatih.


"Kamu sudah membuat aku ketakutan setengah mati, dengan bilang membenci aku dan tidak mau melihat wajah aku lagi," kata Fatih sambil mengelus punggung Mentari.


"Ya, itu semua gara-gara surat palsu itu! Siapa yang tidak akan kaget dan marah!" Mentari bersungut-sungut sambil membuat pola abstrak di dada Fatih.


"Honey, jangan lakukan itu! aku sedang puasa sekarang," kata Fatih dengan frustrasi, Mentari malah tertawa lepas.


******


     Seorang wanita kini sedang mondar-mandir di ruang kosong, karena hanya dia yang mendapatkan tamu kunjungan. Beberapa saat yang lalu, pengacaranya memberitahu kalau surat gugatan cerai palsu yang dibuat oleh kliennya, itu sudah ketahuan dan polisi sudah melacak dirinya. Dia tidak mau lagi kalau harus dipenjara. Satu hal yang tidak terpikirkan saat dia merencanakan ini semua, adalah akan ketahuan kalau surat itu palsu.


"Sudah aku bilang 'kan! Kalau keluarga Khalid jangan di anggap enteng. Butuh secara halus dan terperinci untuk melawan mereka. Ingat jangan libatkan aku dalam hal ini!" Kata seorang wanita lainnya.


"Hai, Anggit. Bukannya kita bekerja sama untuk menghancurkan Mentari!"


"Ingat, Jihan! Dari awal aku punya caraku sendiri untuk membalas Mentari. Tapi, kamu? Ingin melibatkan Fatih juga karena dendam kamu itu!" 


"Karena dia, yang sudah membuat aku masuk ke penjara! Ini awalnya 'kan kamu yang mengajak aku untuk membuat Mentari sengsara! Ingat itu!" Jihan nyolot sama Anggit.


"Kenapa sekarang kamu, malah menyalahkan aku! Ingat kita tidak boleh saling menghianati satu sama lainnya." Anggit tidak mau di salahkan.


     Kedua wanita itu adalah Jihan dan Anggit yang mulai berteman di lapas saat Anggit di penjara dulu. Kini, dia sudah bebas. Hanya saja dia ingin membalaskan sakit hatinya kepada Mentari. Maminya Anggit selalu saja membangga-banggakan Mentari di hadapannya dan membandingkan dirinya dengan dia.


"Anggit, bantu aku! Masa aku yang sebentar lagi mau keluar harus memperpanjang lagi masa hukumanku!" Jihan memohon kepada Anggit.

__ADS_1


"Aku tidak mau terlibat dengan rencana konyol kamu itu!" Anggit menolak permintaan Jihan dan beranjak dari kursinya.


"Berdoa saja semoga kamu tidak ketahuan kalau sudah membuat surat gugatan cerai palsu untuk Mentari," bisik Anggit kemudian dia pergi dari sana.


******


"James, sekarang kamu sedang berada di mana?" tanya William


"Di Amerika. Kenapa?" jawab James, dan bertanya balik.


"Lalu Thomas, dia ada di mana?" William malah balik bertanya lagi.


"Thomas ada di penjara. Kenapa?" Lagi-lagi James bertanya.


"Tidak, hanya saja perasaanku tidak enak saja. Aku masih takut terjadi sesuatu kepada Mentari," jawab William.


"Tenang saja, aku akan membantu kamu. Bilang saja kalau ada apa-apa. Aku akan secepatnya bergerak."


"Oke. Terima kasih, James."


     William pun mengakhiri panggilan teleponnya. Dia juga sedang memikirkan keadaan Mentari. Dirinya takut ada orang lain yang ingin berbuat jahat kepada Mentari.


"Baby, aku akan melindungi kamu. Apapun yang terjadi nanti!" William melihat ke layar handphonenya yang bergambar Mentari dan Liam. William pun mengusap layar handphonenya.


"I love you, Baby!"


*******


Maaf teman-teman aku nulis sambil nyut-nyutan kepalaku mata berkunang-kunang. kalau ada typo atau apa itu, komen aja.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2