Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (39)


__ADS_3

     Keesokan harinya Fatih dan Mentari mendatangi rumah Ja'far. Meminta kepada ayah mertuanya itu, agar Mentari bisa berhenti dari pekerjaannya. Karena dia ingin Mentari bisa fokus dalam menjaga kesehatan diri dan bayi-bayinya. Fatih tidak mau istrinya kelelahan, sehingga berpengaruh buruk baginya juga kandungannya.


      Ja'far pun mengizinkan itu. Karena dia tidak mau terjadi sesuatu kepada putri dan cucu-cucunya. Apalagi setelah mendengar cerita, ada orang yang ingin membunuh anak dan cucunya itu. Membuat dia semakin mendukung keinginan Fatih dan Khalid untuk menerapkan penempatan bodyguard bagi Mentari.


"Apa kalian akan menginap di sini?" tanya Sinar, dengan penuh harapan agar mereka bisa tidur di rumahnya.


"Kasihan Zahra, Bun. Tadi kita bilangnya mau sebentar, saat akan berangkat ke sini," kata Mentari menolak permintaan Sinar.


"Ah, sayang sekali. Kayaknya kalian belum pernah menginap di sini semenjak kalian menikah. Waktu itu pun kakak tiba-tiba pergi, pulang kerumah." Sinar menampakkan wajah kecewanya, karena putrinya nggak bisa menginap.


    Fatih menjadi merasa tidak enak, dengan ibu mertuanya. Karena semenjak menikah, mereka memang belum pernah menginap. Mereka bila berkunjung selalu pulang saat sore hari. Alasan tidak bisa menginap karena di rumahnya orang tua Mentari, kamar mereka tidak dipasang kedap suara. Fatih tidak mau ada yang mendengar suara melodinya Mentari.


"Minggu depan saja kita menginap di sini, kita bisa ajak Zahra," kata Fatih memberikan idenya.


"Ah, benar juga. Akan ramai kalau Zahra juga bisa ikut menginap di sini!" seru Sinar dengan perasaan senang.


"Iya, Bun. Sekalian ajak calon istrinya Fajar, ke sini. Biar bisa kenalan sama Zahra dan Fatih," lanjut Ja'far sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


    Fatih dan Mentari pun akhirnya pulang ke rumah Khalid selepas isya. Saat dalam perjalanan pulang, Fatih mengawasi daerah, dimana dia melihat kakek Willi kemarin. Dia berpikir, jangan sampai Mentari melihatnya. Fatih pun merasa tenang saat di daerah sana, tidak menemukan sosok William.


    Tanpa Fatih sadari, kalau Mentari terus mengawasi mobil hitam, lewat kaca spion. Karena dia merasa mobil itu mengikuti mereka semenjak pulang dari rumah orang tuanya.


     Mentari melihat ke arah suaminya yang masih fokus ke jalanan di depan dan sampingnya. Saat hendak memberitahu, ternyata mobil itu menghilang entah kemana beloknya.


"Mas--" kata Mentari tapi kata-katanya terhenti saat mobil itu menghilang.


"Hm, ada apa?" tanya Fatih sambil melihat ke arah Mentari.


"Tadi ada mobil yang mengikuti kita, semenjak dari rumah Ayah," jawab Mentari sambil tangannya menunjuk ke arah belakang.


    Fatih yang terkejut, langsung mengerem mendadak. Untungnya di belakang mobil mereka tidak ada kendaraan yang lainnya.


"Mas, bahaya! Kenapa mengerem mendadak!" tegur Mentari sambil memegang perut dan dadanya, karena terkejut. Bayi-bayi di dalam perutnya pun ikut bereaksi.


"Maafkan Cintaku, mereka baik-baik saja 'kan?!" tanya Fatih panik saat melihat Mentari mengucapakan istigfar sambil mengelus perutnya.


    Fatih yang sudah menepikan kendaraannya. Meminta maaf kepada Mentari dan bayi-bayi di dalam perutnya.

__ADS_1


"Maafkan Papa yang Sayang," ucap Fatih sambil mengusap dan menciumi perut Mentari.


"Mas, kenapa tadi panik begitu? Apa dia yang sering mengawasi aku?" tanya Mentari sambil menelisik ke arah suaminya.


"Jangan terlalu di pikirkan soal itu, lebih baik fokus saja sama bayi-bayi kita saja, ya." Fatih membelai wajah cantik Mentari kemudian menciumnya mesra.


"Karena aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu," bisik Fatih dengan suaranya yang lembut. Suara yang selalu membuat Mentari tak berdaya menolak bisikannya.


******


    Fatih pun membicarakan masalah yang mengganjal dalam hatinya, kepada Aurora dan Khalid. Dia juga menceritakan mobil mencurigakan yang mengikuti mereka saat pulang  dari rumah orang tua Mentari.


    Fatih meminta tim keamanan untuk mencari identitas pemilik mobil itu. Sekalian dengan jejak orang yang dilihatnya beberapa hari lalu keberadaannya. Dia juga menceritakan tentang sosok laki-laki yang mirip dengan William.


"Kalau kakek Willi datang pun, kamu nggak perlu khawatir. Karena Mentari sekarang sudah menjadi istrimu," kata Khalid mengingatkan Fatih, kalau Mentari sudah sah menjadi miliknya.


"Fatih tahu itu, Pah. Hanya saja, ada bayang-bayang dalam pikiran Fatih, kalau kakek Willi akan membawa kembali Mentari ke sisinya. Fatih tidak mau! Kalau itu sampai terjadi." Fatih merasa sedih, takut, kesal, dan tidak rela, bercampur aduk dalam hatinya.


"Kamu harus yakin, kalau kamu bisa mempertahankan Mentari di sisimu. Serta yakin kalau Mentari akan selalu setia berada di sisimu. Menjadi pendamping dirimu selamanya," nasehat Aurora sambil mengusap punggung dan membelai rambut putra sulungnya itu.


"Apapun masalah yang kalian hadapi, saling percaya pada pasangan kalian. Jangan ragukan kesetiaannya, yakin kalau cinta kalian sama kuatnya. Sehingga tak akan ada yang bisa memisahkan kalian," tambah Aurora sambil menggenggam tangan Fatih.


    Fatih pun memeluk Aurora dengan erat, "terima kasih, Ma."


    Aurora pun membalas pelukan anaknya, dan menepuk-nepuk punggungnya. Saat di dengarnya suara isakan dari Fatih. "Entah kenapa, Fatih belakangan ini lebih emosional, ya?"


"Dia sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik, Ma."


    Tiba-tiba terdengar suara jahil dari seorang pemuda, yang selalu membuat ramai rumah Khalid. Ketiga orang di sana mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.


    Ghazali sedang berdiri di belakang sofa yang diduduki oleh Aurora dan Fatih. Dia tersenyum lebar saat melihat wajah terbengong orang-orang di sana.


"Ghaza!" seru mereka semua.


"Assalamu'alaikum, semuanya!" salam Ghazali sambil merentangkan kedua tangannya.


    Bukan pelukan yang di dapat oleh Ghazali, tapi jitakan kepala dari Fatih. Sehingga dia mengaduh kesakitan, dan mengadu kepada Aurora.

__ADS_1


"Mah, sakit kepala aku! Padahal aku baru datang dari perjalanan jauh," Ghazali mengadu kepada Aurora sambil memeluknya sayang.


"Kenapa kamu pulang ke Indonesia? Katanya punya acara?" tanya Khalid saat Ghazali gantian memeluk papanya.


"Bintangnya, lagi sibuk mau ujian masuk kuliah, Pah. Ghaza dimarahi sama kak Al!" Ghazali yang biasanya akan menghabiskan waktu liburannya dengan si Trio Kancil.


"Hahaha … bagus! Kamu juga nggak kapok-kapok selalu mengganggu Bintang," kata Fatih kepada adik kandungnya itu.


"Hei, Kakak. Aku itu bila bersama Bintang selalu bisa menghilangkan rasa penat di otakku yang selalu bekerja rodi. Dipaksa supaya bisa jadi mahasiswa berprestasi dengan nilai yang sempurna!" kata Ghazali bangga.


"Dasar!" mereka semua kompak menertawakan ekspresi wajah Ghazali yang sedang mendramatisir perasaannya.


"Oh, iya. Apa kakek Wili, tinggal di rumah ini?" tanya Ghazali baru teringat akan kakek mudanya itu.


    Mereka terkejut dengan perkataan atau pertanyaan dari Ghazali barusan. Ghazali pun mengerutkan keningnya, melihat ekspresi wajah keluarganya.


"Bukannya kakek Willi sedang berada di Indonesia sudah sebulanan ini?!" tanya Ghazali lagi, dan wajah Fatih semakin memucat saja.


"Dari mana ... kamu tahu, kalau kakek Willi … sedang berada di Indonesia?" tanya Fatih kembali dengan tergagap.


"Kata grandma dan grandpa, saat Ghaza kemarin datang ke Amerika," jawab Ghazali dengan gaya santainya.


"Jadi yang Fatih lihat itu adalah beneran kakek Willi!" Fatih jadi tahu kalau selama ini Willian sudah datang ke Indonesia dan mengawasi Mentari.


******


MAAF TEMAN-TEMAN INI HARUSNYA TADI SIANG DI UP. TAPI PAS MAU DI SALIN, BUAT DI PASANG KE APLIKASI. NASKAHNYA HILANG ... JADI AKU HARUS MENGULANG KEMBALI MENGETIK ... :(


TERIMA KASIH UNTUK PENGERTIANNYA.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2