Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (19)


__ADS_3

"Temani aku tidur, Mas!" Pinta Zahra dengan tatapan memohon.


      Fatih pun membaringkan tubuhnya di samping Zahra. Dipeluknya tubuh Zahra yang semakin kurus.


"Aku ingin pergi berlibur, Mas! Hanya berdua denganmu, sebelum kemoterapi di mulai."


"Sayang, saat ini keadaan sedang tidak memungkinkan untuk kita pergi berlibur. Nanti saja, ya? Kalau kamu sudah sembuh, kita baru pergi ke tempat manapun yang kamu mau!" Fatih memberikan saran.


"Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku,  dengan kenangan yang indah denganmu, Mas." Air mata Zahra meleleh jatuh ke bantal. Tatapan matanya penuh permohonan.


"Kalau mau membuat kenangan indah, di rumah juga bisa. Apa bagi kamu selama kita tinggal bersama di rumah, tidak ada kenangan yang indah?" tanya Fatih dengan sedih. Tatapan mereka saling beradu menyelami perasaan pasangannya.


"Aku hanya ingin ... Mas ... mengingat aku dalam memori kenangan terindah dalam hidupmu. Sama seperti aku, bagiku Mas adalah kenangan terindah." Zahra ngenggigit bibir bagian bawah, menahan isak tangisnya.


     Fatih menarik bibir bawah Zahra, menggunakan jempolnya, "jangan di gigit, nanti terluka."


     Zahra pun akhirnya menangis dalam pelukan Fatih. Dada bidang itu membuatnya nyaman untuk menumpahkan segala kesedihannya.


"Maafkan aku, Mas." Zahra berkata dalam isakan tangisnya.


"Kamu tidak salah, Sayang. Kalau mau membuat kenangan indah, dimana pun juga bisa. Seperti saat ini ... apa tidak bisa jadi kenangan indah bagimu?" tanya Fatih dengan suaranya yang lembut. Tangannya mengelus punggung Zahra.


"Hm ... asalkan bersamamu, aku akan merasa bahagia. Dan itu menjadi kenangan yang terindah," jawab Zahra sambil mendongakkan kepalanya.


     Fatih pun menghapus jejak air mata yang basah di wajah Zahra. "Jadi, tidak perlu pergi berlibur 'kan!"


     Zahra pun menganggukkan kepalanya. Kemudian, kembali memeluk tubuh Fatih sampai tertidur. Setelah memastikan Zahra sudah tidur. Fatih pun kembali ke kantornya, untuk rapat. Walau dia sudah sangat telat, untung keberadaannya di gantikan oleh Alif.


******


     Mentari duduk di sofa ruang depan menunggu suaminya pulang. Mentari tidak mau mengganggu waktu istirahat Zahra. Dia pun berbicara dengan pengawal barunya.


"Billi, berapa usia kamu?" tanya Mentari.


     Pengawalnya itu menulis jawaban di buku saku miliknya.


"Wah, ternyata Billi masih muda?!"

__ADS_1


     Mentari pun berinteraksi dengan Billi, dengan cara seperti itu. Dia berbicara dan Billi akan tersenyum ramah sambil menyerahkan buku catatan miliknya.


     Mentari tidak menyangka kalau Billi orangnya menyenangkan dan juga ramah. Bahkan Mentari juga sering dibuat tertawa oleh tulisan Billi yang seperti cakar ayam. Sebab kadang salah membaca atau mengerti tulisannya.


******


     Hari sudah menjelang petang, Fatih baru sampai ke rumah. Saat masuk dia tidak mendapati satu pun, dari istrinya yang datang menyambut kepulangannya. 


     Fatih merasa aneh, biasanya Mentari atau Zahra selalu datang menyambut dia. Fatih pun masuk ke kamar Mentari, yang di jaga oleh Billi.


"Apa Mentari ada di dalam?" tanya Fatih dan mendapat anggukan sebagai jawaban darinya.


     Fatih masuk ke dalam kamar Mentari. Dilihatnya dia sedang mengenakan jilbab instan di depan kaca. Fatih pun tersenyum saat pandangan mereka saling beradu di cermin yang ada di depan Mentari.


"Assalamu'alaikum, Mas." Mentari menghampiri Fatih, kemudian mencium tangannya dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam, my honey." Satu kecupan mendarat di kening Mentari.


"Kenapa baru pulang? Ditelpon juga nggak di angkat," tanya Mentari dengan nada suaranya yang terdengar cemas.


"Bagaimana keadaan Zahra sekarang?" tanya Fatih sebelum masuk ke kamar mandi.


"Ummi yang menjaganya," jawab Mentari sambil menundukkan kepala dan memainkan jari-jari tangannya. "Katanya ... Zahra harus banyak istirahat. Jangan diganggu!"


     Tadi sore, Mentari merasa bosan sendirian, dan ingin mengajak Zahra untuk duduk di teras samping sambil bercengkrama seperti biasanya. Namun, Ummi melarang karena Zahra sedang sakit, harus banyak beristirahat. Saat Mentari meminta untuk menemani Zahra di kamarnya. Ummi juga melarang karena nanti Zahra tidak akan bisa beristirahat.


"Apa sudah separah itu keadaan Zahra, Mas?" tanya Mentari dengan mata yang mulai mengembun. Dia merasa sangat kasihan kepada Zahra, yang sakitnya semakin parah.


     Fatih merasa tadi siang keadaan Zahra tidak separah itu. Maka dia tidak jadi masuk ke kamar mandi. Dia memilih mendatangi kamar Zahra terlebih dahulu. Dia ingin memastikan keadaan Zahra sekarang.


******


     Zahra sedang duduk di depan meja riasnya. Dia terlihat habis mandi karena tercium wangi sabun dan shampo. Zahra membalikkan badannya saat mendengar pintu kamarnya dibuka kemudian ditutup.


"Mas, baru pulang?" tanya Zahra karena penampilan Fatih masih memakai baju yang sama dengan siang tadi. Senyum diwajahnya langsung terpatri.


"Iya. Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?!" tanya Fatih sambil memeluk Zahra, penuh dengan rasa kekhawatiran.

__ADS_1


"Iya, aku baik-baik saja," jawab Zahra sambil menghirup wangi tubuh suaminya. Perasaannya merasa menjadi lebih baik lagi.


"Mentari sangat mencemaskan kamu. Tadi saat ingin bertemu denganmu, katanya Ummi melarang karena kamu harus istirahat."


"Padahal seharian tadi aku merasa jenuh, tidak melakukan apa-apa. Ummi selalu melarang aku, melakukan ini itu juga tidak boleh. Meski aku sedang sakit, setidaknya aku juga tidak ingin dikurung di dalam kamar!"


"Ya, sudah. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku mandi dulu, ya." Fatih pun menguraikan pelukannya.


******


     Malam itu giliran Fatih tidur di kamar Zahra. Setelah makan malam Zahra meminta Fatih langsung masuk ke kamarnya. Mereka berdua menghabiskan waktu dengan berbagi cerita. Baru Zahra sadari, ternyata membuat suatu kenangan indah tidak meski pergi berlibur berdua. Dia dan suaminya bisa membuat kenangan indah di kamar mereka berdua. Membicarakan hal-hal sepele, atau kenangan saat mereka masih kecil. 


     Zahra lebih memilih menuruti apa kata suami. Dia tahu apa yang dilakukan oleh Fatih itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Liburan juga bisa mereka lakukan saat dirinya sudah sembuh nanti.


     Zahra tidak peduli orang lain mau bilang apa. Ini adalah hidupnya, dia tahu apa yang inginkan dan terbaik baginya. Apalagi ada Fatih yang selalu akan membimbingnya dan mengingatkannya bila dia salah.


     Zahra tidak mau membuat Ummi yang sudah melahirkan dan mengurusnya, marah. Namun, dia paling tidak suka membuat Fatih marah dan kecewa padanya. Zahra, sekarang akan melakukan apapun yang bisa membuat hidupnya bahagia dan berarti.


     Malam itu Zahra, benar-benar merasa sangat bahagia. Seolah-olah mereka adalah pasangan pengantin baru, yang baru mengenal satu sama lain. Banyak hal baru yang Zahra ketahui tentang Fatih. Sebab, dulu Fatih orangnya jarang bicara banyak. Apalagi hal-hal yang dianggapnya sepele. Kehidupan dan pengalaman Fatih saat anak-anak atau remaja, membuat Zahra semakin cinta kepada suaminya itu.


*****


Bagaimana kelanjutan dari Mentari, Fatih dan Zahra?


Next Fatih cemburu. Ada apa ya?


tunggu kelanjutannya ya.


Double up ya ... aku kasih jeda waktunya biar nggak error'.


******


JANGAN LUPA KLIK, LIKE, FAV HADIAH DAN VOTE NYA JUGA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2