
Sudah tiga hari semenjak Mentari, melahirkan. Namun, dia duduk terdiam di atas brankar. Dia merenungi semua apa yang sudah dijalani dalam berumah tangga dengan Fatih. Dia baru menyadari, kalau selama ini, dirinya selalu di sisihkan oleh Fatih. Suaminya itu lebih mengutamakan Zahra dengan alasan sedang sakit. Bukannya dia juga sedang mengandung dan membutuhkan perhatian yang lebih dari suaminya. Ini tidak begitu adil, dia merasa di sisihkan.
"Oke, kalau itu yang kamu inginkan! Kita pisah," gumam Mentari.
Semalam Mentari menemui kedua jagoannya. Rasa sayang seorang ibu, kini sudah merasukinya. Kalau kemarin-kemarin dia tidak peduli padanya, berbeda dengan sekarang. Dia begitu sangat menyayangi kedua putranya.
Setiap hari Mentari mendatangi tempat kedua anaknya, yang sekarang sudah tumbuh dengan berat badan normal. Kebetulan hari ini dia datang ke ruangan bayinya, bersamaan dengan Fatih. Melihat Mentari yang datang ke ruang perawatan bayi mereka, membuat Fatih merasa senang. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, bagi Fatih , tanpa dia sadari berjalan cepat ke arah Mentari. Dia memeluk dan menciumnya dengan mesra. Ketika Mentari melakukan perlawanan, Fatih baru tersadar. Akhirnya, mau tidak mau dia melepaskan Mentari.
Satu tamparan Mentari layangkan kepada pipi kiri Fatih. Seumur hidupnya baru kali ini, Mentari menampar pipi Fatih. Baik Fatih maupun Mentari, keduanya sama-sama terkejut. Mentari melihat ke arah tangan yang barusan dia gunakan untuk menampar suaminya. Tubuh Mentari gemetaran, kakinya terasa lemas.
"Lovely, ada apa? Kenapa kamu menamparku?" tanya Fatih.
"Kau! Kau ... jangan pernah menyentuhku lagi!" teriak Mentari.
Fatih, lagi-lagi dia dibuat terkejut oleh Mentari. Dia tidak mengerti dengan tindakan dan kata-kata Mentari, beberapa hari ini. Fatih, masih berpikiran kalau Mentari masih terkena baby blues syndrom.
"Mentari, kita suami istri jadi--"
"Bukan! Sekarang kita bukan suami istri lagi! Setelah kamu memberikan surat gugatan cerai!"
"Su-Surat gugatan cerai? A-Apa maksudmu, Honey?" tanya Fatih terbata.
"Jangan ... pura-pura lupa! Kalau kamu sudah menggugat cerai aku, Tuan Fatih!"
"Seumur hidupku tidak akan pernah melakukan itu!
"Kamu tahu sendiri. Kalau aku begitu sangat mencintaimu! Untuk apa aku melepaskan kamu," kata Fatih dengan suaranya yang lembut. Dia tidak mau sama-sama terbawa emosi.
"Bukannya kamu juga yang sudah mengirimkan surat gugatan cerai itu ke rumah!" Mentari memukul tubuh Fatih, menggunakan kedua tangannya sambil menangis.
Tidak mau nanti bayi-bayinya terganggu. Fatih mengajak Mentari keluar ruang itu. Dia mengajak Mentari ke teman di depannya.
"Apa ada seseorang yang mengirim surat gugatan cerai atas nama aku dan kamu?" tanya Fatih sambil menangkup wajah Mentari. Mentari pun menganggukkan kepalanya.
"Percayalah itu bukan perbuatan aku! Seumur hidupku aku tidak mau jauh darimu, Sweetie!"
Mentari merutuki dirinya sendiri yang kembali terjerat oleh pesona suaminya. Ketika, mata keduanya saling memandang dan mengunci, ingin mengetahui kedalaman perasaan dari pasangannya. Mentari sangat benci melihat akan adanya rasa cinta yang begitu besar dari sorot mata Fatih.
"Kamu jahat! Bagaimana bisa aku selalu terjerat oleh cintamu?!" Mentari menangis maunya yang dia lihat dari mata suaminya adalah kebohongan, tetapi ini malah kebalikannya.
__ADS_1
"I love you, my lovely!" Pernyataan cinta Fatih untuk Mentari, entah untuk keberapakalinya.
"And I will love you more than that," lanjut Fatih dengan suaranya yang mengalun merdu di telinga Mentari.
"Yang aku butuhkan bukti, bukan hanya ucapan saja," kata Mentari yang sebenarnya sudah tak berdaya dihadapan Fatih.
Fatih tersenyum bahagia mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Mentari, barusan. Sudah satu minggu ini, dia selalu merasa hidupnya terhimpit karena kemarahan Mentari. Ciuman mesra pun dia berikan kepada Mentari. Keduanya larut akan rasa rindu yang menggelora. Mereka pun melanjutkan kemesraan di ruang rawat inap Mentari.
******
Aurora duduk menemani Zahra. Semenjak mendengar kabar, kalau Mentari sudah melahirkan, hari itu juga dia bergegas pulang ke Indonesia. Kondisi Ghazali juga sudah lebih baik. Aurora marah kepada Mirna yang selalu saja menyudutkan, Fatih. Aurora 'lah yang kini selalu dua puluh empat nonstop, menemani Zahra.
Kali ini Aurora, yang meminta pengertian Zahra, karena Fatih juga harus mengurus si kembar yang lahirnya prematur. Apalagi Mentari juga sedang terkena baby blues syndrom.
Mirna pun awalnya nyinyir kepada Mentari. Dia lupa, kalau putri satunya lagi juga sedang hamil besar dan akan melahirkan. Ternyata hal itu juga terjadi kepada putri bungsunya. Aisyah melahirkan tiga hari setelah Mentari. Dia juga mengalami baby blues syndrom, begitu setelah dia melahirkan. Bahkan dia tidak mau mengakui itu anaknya. Entah apa yang sudah terjadi kepada Aisyah, gadis cerdas yang pemalu itu.
******
Fatih dan Mentari tiduran sambil berpelukan. Setelah puas melepas rasa rindu mereka. Mentari juga menceritakan kejadian hari di mana dia membaca surat gugatan cerai, akibatnya si kembar terpakasa dilahirkan dengan cepat.
"Honey, lalu surat palsu itu sekarang ada di mana?" tanya Fatih sambil membelai rambut Mentari.
"Aku akan menyelidikinya. Perbuatan siapa itu, yang berani mengusik kehidupan keluargaku."
******
Fatih dan Mentari pun tidur di brankar dan saling berpelukan. Pemandangan ini mengejutkan Sinar dan Ja'far yang hendak mengajak makan siang Mentari, bersama mereka. Kedua orang tua Mentari sangat senang, air mata kebahagiaan mengalir dari mata Sinar.
Sinar pun mengabadikan pemandangan itu. Dia memfotonya dan mengirimkan kepada Aurora. Aurora langsung melakukan video call dengan Sinar. Dia ingin melihat langsung apa yang tadi dikirimkan oleh besannya itu beneran, sedang terjadi sekarang. Maka, Sinar pun mengalihkan kameranya ke arah Fatih dan Mentari yang sedang tidur sambil berpelukan. Pekikan suara Aurora yang girang langsung terdengar. Sinar pun melanjutkan obrolan mereka di luar ruangan, tidak mau mengganggu anak dan menantunya.
"Aurora, apa kamu tahu? Kalau ada yang mengirim surat gugatan cerai kepada Mentari, atas nama Fatih." Sinar akhirnya membicarakan masalah ini.
"Apa! Bagaimana bisa itu terjadi? Kamu sendiri tahu 'kan, kalau anakku itu bucin parah sama Mentari. Lihat keadaanya beberapa hari ini! Dia kacau! Aku sampai tidak mengenali anakku sendiri." Aurora yang duduk di luar ruangan, agar Zahra tidak terganggu dengan obrolannya bersama Sinar.
"Karena surat gugatan cerai ini 'lah yang memicu Mentari melahirkan anaknya secara prematur. Dia begitu terkejut saat membaca surat gugatan cerai untuknya. Sampai dia jatuh tak sadarkan diri, hingga kepalanya terluka."
"Siapa yang sudah berani mengusik kehidupan rumah tangga anakku?!"
Aurora benar-benar sangat marah. Dia pun langsung menghubungi pengacara keluarga Hakim. Memintanya jangan memberikan keringanan hukuman, Aurora juga meminta pelakunya dijerat oleh pasal berlapis, penipuan, perbuatan tidak menyenangkan, perencanaan pembunuhan tidak langsung untuk kedua cucunya yang terpaksa lahir prematur untuk menyelamatkan nyawanya, karena ibunya mengalami shock hebat akibat mendapat surat gugatan cerai palsu.
__ADS_1
******
Aurora sudah menunjukan taringnya. Emang emak-emak itu harus dilawan sama emak-emak juga.
Pencarian orang yang sudah mengirim surat palsu gugatan cerai Fatih dan Mentari pun akan dimulai.
Siapakah dia?
Tunggu terus kelanjutannya ya.
******
Cuap-cuap para tokoh: Fatih vs Author
Fatih: Thor kamu kejam banget sama aku! Perasaan yang paling menderita di sini itu aku?
Author: Memang, tapi tidak ada yang simpati sama kamu. hahaha ...
Fatih: Jangan buat aku pisah sama Mentari lagi ,ya! (mode merayu)
Author: Sayang sekali nanti kamu dan Mentari akan dipisahkan (mode jahat)
Fatih: Jangan dong Thor!
Author: Ih ini untuk memperkuat cinta kalian. Sabar aja, nanti aku kabulkan satu permintaan kamu. Katakan mau apa?
Fatih: Beneran! Aku mau punya banyak anak sama Mentari.
Author: Berapa banyak? setengah lusin kayak Alex!
Fatih: Satu lusin. Biar bisa buat tim sepak bola.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1