Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (56)


__ADS_3

     Fatih dan Mentari masuk ke ruang isolasi untuk melihat Zahra. Keadaannya sungguh sangat mengkhawatirkan, membuat hati mereka terasa teriris. Wajah tirus dan pucat milik Zahra, terlihat jelas seperti tidak ada darah di wajahnya. Mentari menangis tergugu, tidak kuat melihat keadaan Zahra.


"Mas, a–aku ...." Mentari tidak bisa berbicara lagi.


    Fatih memeluk erat tubuh Mentari, membiarkan istri keduanya itu menangis di dalam pelukannya. Dia juga menitikkan air mata, sungguh sangat sedih melihat keadaan istri pertamanya.


    Padahal kemarin saat mengantar Zahra, mengunjungi rumah adiknya, keadaan Zahra baik-baik saja. Fatih bilang akan menjemput Zahra setelah pulang dari rumah sakit, dia pun menyetujuinya. Namun, saat sore hari Zahra menelpon kalau dirinya ingin menginap di rumah Aisyah. Fatih awalnya tidak mengizinkan. Zahra yang masih betah bersama keluarga adiknya, akhirnya mendapatkan izin. Fatih pun sudah mewanti-wanti untuk tidak lupa minum obatnya. Saat malam harinya pun sebelum tidur, Fatih kembali menghubungi Zahra. Memastikan kalau obatnya tidak lupa diminum.


     Fatih menuntun Mentari untuk keluar ruang isolasi. Mentari masih saja menangis saat berada di ruang rawat yang terdekat dengan dinding kaca dengan ruang isolasi.


     Aurora dan Khalid pun bergantian masuk ke ruang isolasi. Mereka melihat keadaan Zahra, yang masih belum sadar. Sama dengan Mentari, Aurora pun menangis terisak-isak saat melihat keadaan Zahra. Aurora merasa kalau sudah tidak ada harapan bagi Zahra untuk sembuh kembali.


"Pa, bagaimana ini? Kenapa keadaan Zahra jadi seperti ini." Aurora menyentuh wajah menantunya itu.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Zahra," kata Khalid.


     Abah dan Ummi baru sampai dalam keadaan panik. Niatnya mereka akan berangkat setelah magrib, tapi saat mendengar kabar Zahra, masuk rumah sakit, mereka langsung berangkat.


"Bagaimana keadaan Zahra, sekarang?" tanya Abah.


"Masih belum sadar. Abah dan Ummi bisa melihatnya," kata Fatih.


******


     Mentari pun kini sudah bisa mengendalikan dirinya. Matanya bengkak dan hidungnya memerah. Dilihatnya jam sudah menunjukan waktu magrib. Mentari pun teringat pada si kembar, mereka belum dikasih ASI.


"Mas, aku pulang dulu. Si kembar belum dikasih ASI," kata Mentari.


"Aku akan antar kamu. Sebaiknya menginap saja di rumah Ayah, sesuai rencana. Jangan pulang ke rumah, ya? balas Fatih.


"Aku pulang naik taksi saja. Mas, nunggu saja di sini. Siapa tahu nanti Zahra, sadar. Dan orang yang pertama kali dicari adalah kamu, Mas." Mentari menolak ajakan Fatih.


"Tidak. Terlalu rawan kalau pulang malam hari sendirian," ucap Fatih.

__ADS_1


"Bukannya ada para pengawal juga yang selalu berkeliaran di dekat aku?" Mentari mengingatkan Fatih.


     Fatih tidak bisa lagi kalau sudah adu argumentasi dengan Mentari. Memang ada satu atau dua orang yang biasa ditugaskan secara diam-diam.


"Andromeda kapan kalian akan pulang?" tanya Fatih.


"Sebentar lagi. Kenapa?" tanya Andromeda.


"Kalau mau pulang, sekalian ajak Mentari," jawab Fatih.


"Kita akan pulang sekarang, Kak. Anakku belum aku kasih ASI. Pasti sudah lapar, dia." Lanjut Aisyah.


"Baiklah ... kita pulang sekarang!" ajak Andromeda.


"Aku ikut kalian saja kalau begitu, bisa mampir ke rumah Ayah Ja'far?" tanya Mentari.


"Iya, bisa," jawab Andromeda.


******


"Tante Dewi? Menginap juga di sini?" tanya Mentari begitu menyalaminya.


"Iya. Untuk beberapa hari ke depan, Tante akan tinggal di sini," jawab Dewi.


"Semoga Tante betah, dan ... aduh ini anak Ayah Fatih lagi ngapain?" tanya Mentari kepada kedua anaknya yang sedang memainkan mainan bayi yang bisa berbunyi.


"Tadi mereka ngamuk ingin mimik, nggak mau di kasih susu formula," kata Sinar mengadu kepada Mentari karena tadi kedua cucunya mengamuk.


"Kasihan ... anak Bunda. Ingin mimik susu?" Si kembar malah tertawa sambil menggerakkan kedua tangan dan kakinya.


"Tunggu sebentar ... Bunda mau mandi dulu. Habis dari rumah sakit, banyak kuman penyakit." Mentari pun pergi membersihkan badannya sebelum menyusui si kembar.


******

__ADS_1


     Saat Malam sepi, Sinar mendatangi kamar Mentari. Dia ingin membicarakan masalah Dewi.


"Jadi, bagaimana menurut Kakak? Apa kita cabut saja gugatan itu? Kasihan Tante Dewi, dia jadi sering melamun," tanya Sinar.


"Kakak nggak setuju, Bun. Lihat saja ... baru saja keluar penjara, dia tidak kapok juga melakukan kejahatan lagi. Dulu Anggit mencoba melakukan pembunuhan kepada Cantika, dan menculik si Trio Kancil, beberapa kali. Dia dihukum, tapi kali ini malah mengulangi hal yang sama," jawab Mentari.


"Bunda juga, sebenarnya menyayangkan perbuatan Anggit. Tante Dewi juga dari tadi pingsan dua kali, jadi Bunda bawa kesini karena menangis terus," kata Sinar.


"Kalau begitu minta Tante Dewi untuk tinggal di sini saja, Bun!" suruh Mentari.


"Iya, kayak dulu juga dia mau tinggal di sini selama satu tahun," balas Sinar.


"Iya, biar Tante Dewi tidak merasa kesepian," ucap Mentari.


"Kasihan nasib Tante Dewi sejak kecil. Kenapa dia selalu di buat menderita oleh orang-orang di sekitarnya." Sinar menghapuskan air matanya. Mentari pun memeluk tubuh Sinar. Dia tahu kehidupan Bundanya juga sangat menderita dahulu, untungnya ada ibunya Cantika yang mau menampung untuk tinggal bersamanya saat SMA dulu.


"Bunda lebih beruntung karena punya sahabat sejati yang baik, dan mau menolong Bunda. Bahkan menjodohkan dengan kembarannya!" Goda Mentari kepada Sinar karena gara-gara tinggal di rumah Kakek Oesman. Dia bisa bertemu dengan Ja'far saat liburan dari pesantrennya. Cinta mereka pun mulai bersemi saat itu, walau ulah ibunya Cantika yang menjadi comblang buat keduanya.


"Iya, nasib Bunda sangat beruntung. Meski terusir dari istana oleh ibu tiri, tapi masih ada seorang putri yang baik hati yang mau menampungnya. Bahkan bisa menikah dengan Pangeran pujaan hatinya," balas Sinar sambil tersenyum malu.


     Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan dan tertawa bersama. Hati Sinar menjadi lebih plong kalau sudah berbicara dengan Mentari. Entah kenapa, jika bicara sesuatu yang berhubungan dengan perasaan wanita, anak perempuan lah, yang pas dibanding suami ataupun anak laki-laki.


******


      Fatih duduk di samping Zahra, sambil mengaji. Sudah hampir dua jam dia melantunkan ayat-ayat suci itu. Suara merdunya mengalun dengan merdu meski pelan. Tangannya menggenggam tangan Zahra. Terasa ada gerakan lemah dari Zahra dan Fatih pun menghentikan membaca Alquran. Dilihatnya Zahra masih memejamkan matanya, tetapi tangannya membalas genggaman tangan Fatih. Kini lebih terasa.


"Sayang, apa kamu mendengar suara aku?" tanya Fatih dengan lembut dan pelan.


     Air mata meleleh di sudut mata Zahra. Fatih pun menghapusnya dan matanya sendiri juga meneteskan air mata. Antara sedih, ikut merasa sakit, tapi dia senang karena ada respon dari Zahra.


******


Teman-teman maaf ya, jadwal aku up nggak menentu. Karena di dunia nyata aku sibuk banget. bisa ngetik cuma habis tahajud sama mulai ashar.

__ADS_1


Aku punya karya novel Antologi. Ini diambil dari kisah nyata. Ada karya Author terkenal juga dari NT. Jika berminat hubungi/DM Ig: santisuki7



__ADS_2