
Mentari yang masih mengurung diri di kamar milik orang tuanya. Menangis sambil memeluk guling, dia sungguh sangat kesal dan kecewa kepada Fatih. Pintu yang mengarah ke balkon di ketuk oleh seseorang. Mentari pun menghapus air matanya. Kemudian berjalan ke arah balkon. Dia tahu siapa di luar sana karena pengawalnya itu suka sekali memanjat sampai ke balkon kamar.
"Ada apa, Billi?" tanya Mentari dengan suaranya parau karena habis menangis.
Billi pun memberikan satu pack tisu dan sekresek makanan ringan kepada Mentari. Kemudian di memberikan bukunya yang bertuliskan. ' Hapus air mata dan ingusmu. Habiskan semua makanan ini. Kamu pasti lapar karena sudah menangis lama'.
Mentari langsung tersenyum begitu membaca tulisan ceker ayam milik Billi. Dia kembali menyerahkan buku catatan milik Billi, dan mengambil tisu sama makanan ringan yang sekantong kresek besar.
"Terima kasih, sudah membelikan aku makanan ringan yang sangat banyak ini." Kata Mentari dan diangguki oleh Billi.
Mentari kemudian masuk ke kamar lagi. Sedangkan Billi turun lewat balkon kamar Mentari karena ada dahan pohon yang menjulur dari sana.
******
Sinar pun membujuk Mentari untuk membukakan pintunya karena sejak tadi belum makan. Sinar pun memintanya untuk makan dulu. Akhirnya Mentari pun membukakan pintunya.
Saat masuk ke ruang makan di sana sudah ada Ja'far dan Billi yang duduk di kursi masing-masing. Mentari pun duduk di kursi samping ayahnya.
"Kakak, sarapan dulu, ya! Kasihan si kembar kalau sampai kekurangan Nutrisi," rayu Sinar. Mentari pun menurutinya.
"Bun, Mas Fatih tadi sudah sarapan atau belum?" tanya Mentari.
"Sepertinya belum. Tadi dia buru-buru ... Zahra kondisinya drop lagi."
Mentari pun mengambil handphonenya dan menghubungi Fatih. Saat deringan kedua berbunyi, Fatih mengucapkan salam untuknya.
"Assalamu'alaikum, my honey!"
"Wa'alaikumsalam, Mas. Cuma mau bilang jangan lupa sarapan! Jaga kesehatan baik-baik. Assalamu'alaikum."
Mentari langsung menutup kembali panggilannya, tanpa mau mendengarkan orang di sebarang telepon mau lanjut bicara atau tidak. Moodnya sedang tidak mau banyak bicara. Sinar hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.
"Kakak makan yang banyak, ya. Biar marahnya cepat hilang!" suruh Sinar sambil tersenyum.
Ja'far yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya membuka mulutnya, ''kak, ada masalah apa sama suami kamu? Pagi-pagi sudah banting pintu?!"
__ADS_1
Sinar menyenggol kaki suaminya. Memberi kode jangan dulu bicarakan itu.
"Mas Fatih cemburu sama kakek Willi. Kemarin ada yang mengirim paket untuk Mentari. Isinya itu kotak musik yang didalamnya ada video Kakak sama kakek Willi, saat masih bersama dulu. Juga video Kakak sama Allura, dan video ... Liam," jawab Mentari yang matanya mulai berkaca-kaca lagi kalau mengingat putra kesayangannya itu.
"Mas Fatih minta Kakak untuk melupakan semua hal tentang kakek Willi. Bagaimana bisa kakak lupa, dia 'kan orang di masa lalu yang tidak akan lupa. Kecuali kalau kakak hilang ingatan." Lanjut Mentari.
"Meski begitu, kakak harusnya menjaga perasaan Fatih. Dia 'kan suami kamu! Kakak tidak boleh menyinggung apapun tentang William di depan Fatih. Itu cukup jadi kenangan yang disimpan di sudut hati dan memori dalam otak, kakak saja sendiri. Jika ada benda yang berhubungan masa lalu kakak dengan William. Simpan di dalam kotak dan letakan di tempat yang seharusnya diletakkan." Kata Sinar menasehati Mentari.
******
Fatih yang sedang memejamkan mata dikejutkan dengan suara dering handphone miliknya. Dilihatnya ada nama My Love di layar. Senyuman di wajah langsung terbit.
"Assalamu'alaikum, my honey!"
"Wa'alaikumsalam, Mas. Cuma mau bilang jangan lupa sarapan! Jaga kesehatan baik-baik. Assalamu'alaikum."
Fatih terdiam, dia terkejut, kemudian tertawa karena membayangkan Mentari yang pasti sedang manyun.
"Wa'alaikumsalam," kata Fatih meski dia tahu Mentari tidak akan mendengar jawaban salamnya.
"Papa, sudah sarapan?" tanya Fatih.
"Sudah tadi di rumah. Apa kamu belum sarapan?" Khalid balik bertanya.
Fatih pun menganggukkan kepalanya. Khalid pun menyuruhnya untuk makan dahulu. Abah juga ternyata belum sarapan, maka Fatih pun mengajaknya makan bersama.
******
Akhirnya Fatih dan Abah sarapan bersama di kantin rumah sakit. Mereka memesan soto ayam dan teh hangat. Fatih mengajak Abah duduk di meja paling pojok. Keduanya makan dengan diam.
"Nak Fatih, maaf ya. Zahra banyak merepotkan kamu," kata Abah.
"Itu sudah kewajiban Fatih, Bah! Zahra 'kan istri Fatih."
"Karena Zahra sakit dan harus dirawat lama di rumah sakit. Jadinya, kamu jarang bertemu dengan Mentari. Pekerjaan kantor pun harus kamu kerjakan di rumah sakit."
__ADS_1
Fatih terdiam saat dilihat Abah masih akan melanjutkan ucapannya.
"Tadi Abah, menasehati Zahra. Saat dia bangun dan menanyakan keberadaan kamu. Abah tidak mau Zahra menjadi egois. Bagaimanapun juga kamu adalah, lelaki yang punya dua orang istri. Kalau Fatih sudah seharian bersama Zahra, maka saat malam giliran Mentari. Atau satu hari bersama Zahra maka besoknya satu hari bersama Mentari."
"Zahra memang sudah egois karena takut, saat dia meninggal kamu tidak berada disisinya. Makanya, saat dia membuka matanya, selalu keberadaan kamu yang dia cari. Itulah yang sering membuat dia drop jika tidak ada kamu di dekatnya."
"Zahra begitu sangat mencintai kamu. Meski di hati kamu Mentari adalah ratunya. Keinginan dia selalu bisa bersama denganmu baik kehidupannya di dunia ini, dan kelak di akhirat."
"Maafkan Fatih, Bah. Belum bisa berbuat adil untuk Zahra. Meski Fatih sudah berusaha untuk berbuat adil."
"Justru Abah, salut sama kamu. Sudah bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami yang selalu memperhatikan keadaan kedua istrimu. Meski kamu sedang di sini, tapi keadaan Mentari masih selalu kamu pantau. Begitu juga sebaliknya, saat Zahra tidak bersama kamu, perhatian pun selalu kamu berikan."
"Nak Fatih, jangan merasa menjadi beban dengan apa yang sudah terjadi kepada Zahra. Itu sudah takdir dari Allah, yang penting adalah lakukan yang terbaik menurut kita diniatkan karena Allah. Soal, akhir bagaimana? Kita serahkan semuanya kepada Sang Pemberi Keputusan."
"Abah, juga minta maaf. Atas perbuatan atau perkataan Ummi yang kadang menyudutkan kamu. Dia begitu karena takut terjadi apa-apa kepada Zahra. Ummi mengira dengan adanya kamu di sisi Zahra, akan mempercepat proses penyembuhannya. Dia ingin melihat Zahra yang selalu ceria dan aktif seperti dulu lagi."
"Walau kadang Ummi masih saja kena hasut Widuri dan temannya. Meski sudah Abah nasehati, tetap saja pengaruh mereka lebih kuat. Abah juga akan membawa Ummi untuk pindah ke desa. Di sana Abah akan membangun rumah Tahfiz. Agar Ummi juga punya kegiatan baru mengajar anak-anak yang baru belajar mengaji."
"Mungkin hal ini yang tadi memicu pikiran Zahra tadi sampai dia muntah-muntah. Ummi tidak mau ikut Abah, alasannya dia harus menjaga rumah Widuri sampai Jihan keluar penjara. Katanya tinggal sebulan lagi akan keluar. Ayahnya Jihan menyewa pengacara untuk membebaskannya dari penjara."
******
Aduh akan ada Jihan! Apa dia sudah tobat setelah di penjara?
Bagaimana kelanjutan Mentari dan Fatih apa masih akan marahan?
Zahra bagaimana kondisinya setelah ini?"
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.