
"Mentari," bisik Fatih kepada Mentari, dengan pelan dan lembut. Dipeluknya tubuh Mentari yang bergetar. Fatih memeluk tubuh Mentari dengan perasaan yang posesif.
Mentari yang mendengar suara sang suami, kini semakin mempererat pelukannya. Dia merasa lega dengan kehadiran Fatih, yang kini tengah memeluk dirinya.
Mentari memeluk tubuh Fatih sangat erat, dengan wajah di sembunyikan di dada sang suami. Tangisannya masih terdengar pilu. Dia merasa telah mengkhianati kepercayaan suaminya karena tidak bisa menjaga harga diri sebagai seorang istri.
"Maaf … Mas," kata Mentari di sela isakan tangisnya.
"Jangan menangis, sudah ada aku di sini!" Fatih masih terkejut dengan keadaan Mentari yang terlihat kacau emosinya.
"Maaf ...," kata Mentari, terus mengulang itu.
Fatih tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa? Namun, dia tahu kalau Mentari merasa bersalah karena kejadian barusan. Maka Fatih, mengiyakan saja apa kata Mentari.
"Tapi ... kamu itu nggak salah apa-apa," kata Fatih sambil mengusap punggung Mentari.
"Tidak! Aku ... punya salah," balas Mentari dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak salah apa-apa," kata Fatih meyakinkan Mentari.
"Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik!" pekik Mentari.
"Katakan ada apa?" tanya Fatih dengan lembut.
Kemudian, Fatih, mengurai pelukannya dan melihat wajah Mentari, yang memerah karena menangis. Diusapnya air mata itu dengan jari-jari panjangnya.
Baginya, kejadian yang dilihat tadi, Mentari tidak 'lah bersalah. Sebab dia tahu kalau Mentari tidak akan pernah menghianati dirinya.
"Tadi ... Oppa ...." Mentari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Fatih melihat sorot mata Mentari yang penuh dengan ketakutan. Dia akhirnya tahu kalau laki-laki yang sudah mencium istrinya itu adalah kakek William. Ada rasa marah dan cemburu timbul di hati Fatih. Dia ingin rasanya menghajar lagi William, sampai babak belur seperti dulu. Bahkan kalau bisa ingin lebih.
Fatih baru teringat dengan laki-laki yang sudah di tonjok olehnya tadi. Dia melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa-siapa sekarang.
"Apa saja yang sudah dia lakukan kepadamu?" tanya Fatih sambil mengangkat dagu Mentari.
Melihat tatapan Fatih, malah membuat tangisan Mentari kembali pecah. Digosoknya bibir yang sudah bengkak itu dengan kuat. Mentari ini menghilangkan rasanya. Sekarang yang dia rasakan adalah rasa sakit dan pedih.
"Apa yang kamu lakukan!" Fatih menarik tangan Mentari yang menggosok bibirnya dengan sangat kuat.
"Aku benci ... nggak hilang juga rasanya," kata Mentari dengan tatapan terluka.
Kemudian Fatih mencium bibir Mentari. Dia mencoba menghilangkan rasa ciuman William yang dirasakan oleh Mentari. Ciuman lembut yang dapat membuai diri Mentari.
"Apa sekarang rasanya sudah hilang?" tanya Fatih sambil tersenyum jahil, "kalau belum aku akan mencium bibirmu lagi sampai rasanya benar-benar nggak ada. Hanya ciuman dari aku saja yang dapat kamu ingat dan rasakan."
Fatih benar-benar melakukannya. Entah berapa kali. Sampai yakin kalau Mentari sudah tidak merasakan lagi sentuhan dari William. Digantikan dengan rasa sentuhannya yang lembut tapi menuntut.
Mentari menggelengkan kepalanya, kemudian berkata, "peluk aku dengan erat, Mas."
Fatih pun mengikuti keinginan Mentari. Memeluk tubuh dia dengan sangat erat. Kemudian membisikan kata-kata cinta dan sayang untuknya. Sehingga membuat Mentari, menjadi tenang. Wangi tubuh Fatih, dihirup dalam-dalam. Mentari suka dengan aroma maskulin yang menguar dari suaminya itu.
******
Fatih memutuskan menunda keberangkatannya ke Amerika, hingga nanti malam. Bagaimanapun juga dia tidak bisa mengabaikan perusahaannya yang ada di sana.
Keadaan Mentari yang kacau, membuat semua orang kaget, heran, dan bertanya-tanya. Namun, Fatih memberikan kode kepada semua orang, agar jangan menanyakannya. Mentari tidak mau menjauhkan dirinya dari Fatih. Dia takut kalau William, akan tiba-tiba muncul didepannya.
Mentari dan Zahra tinggal di rumah Khalid, untuk sementara sampai Fatih pulang kembali ke Indonesia. Keamanan rumah Khalid lebih terjamin. Mentari tidak mau keluar rumah, sedangkan Zahra, dia harus menghadiri acara di pesantren. Sehingga, meminta Tim Keamanan Keluarga Hakim untuk mengawalnya.
__ADS_1
******
Mentari setiap hari di telepon oleh Fatih, lebih dari tiga kali. Begitu juga dengan Zahra, setiap waktu jadwal minum obat, pasti Fatih akan menelponnya. Baik Mentari maupun Zahra, senang dengan perhatian Fatih, meski mereka berjauhan.
"Zahra, tolong Ibu, bawakan kue-kue ini, ke aula, ya!" pinta Mirna--ibunya Zahra.
"Baik, Bu!" Zahra bergegas, menjalankan perintah ibunya, dan melupakan jadwal minum obat, untuk siang hari.
Zahra yang disibukkan oleh kegiatan di pesantren, lagi-lagi lupa melewatkan jadwal minum obatnya. Padahal tadi Fatih sudah menghubunginya saat jadwal minum obat. Zahra baru ingat itu, saat Fatih menelepon waktu jadwal minum obat malam hari.
"Astaghfirullahal'adzim, Ya Allah, aku lupa minum obat tadi siang! Bagaimana ini?" gumam Zahra, dengan dihantui perasaan takut dan bersalah.
Hati Zahra mulai gelisah karena kealpaan dia minum obat, pasti akan ada efeknya. Apalagi sekarang dia dalam banyak aktivitas. Kondisi tubuhnya pasti lelah. Padahal dia sudah berjanji kepada suami dan mertuanya, tidak akan lupa minum obat.
Sebenarnya Fatih, tidak setuju saat Zahra minta izin untuk menginap tiga hari di rumah orang tuanya karena akan ada acara di pesantren. Namun, Mirna--mertuanya--meneleponnya minta Zahra diizinkan untuk ikut kegiatan di pesantren.
******
KIRA-KIRA ZAHRA, KONDISINYA AKAN BAGAIMANA YA? KARENA LAGI-LAGI DIA TIDAK MEMINUM OBATNYA.
WILLIAM, APA YANG AKAN DI RENCANAKAN UNTUK MENDAPATKAN MENTARI KEMBALI?
NANTIKAN KELANJUTANNYA YA (•‿•)
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.