
William merutuk dirinya karena lagi-lagi dia membuat wanita yang paling di cinta, terluka kembali hatinya. Dia sungguh tidak menyangka ada kejadian itu di masa lalu. Sungguh dia tidak tahu dan tidak pernah merasa pernah melakukannya.
"Baby, maafkan aku ... pukul saja! Bila itu membuat perasaan kamu bisa lebih baik." William yang masih bersimpuh di lantai dan mendongakkan wajahnya kepada Mentari.
"Oppa ... yang sudah terjadi di masa lalu, tidak akan bisa diubah lagi!" Mentari menatap kesal ke arah William.
"Iya, tapi percayalah hanya kamu yang aku inginkan. Hanya kamu, satu-satunya wanita yang berharga bagiku." William menggenggam tangan Mentari. "Aku sejak dulu selalu berusaha menjauhi pergaulan bebas," kata William sambil terisak.
"Sungguh, aku tidak pernah tertarik untuk menyentuh Angel. Meski kami berpacaran dulu. Ciuman pun bukan aku yang memulai duluan," lanjut William dan itu mengundang reaksi dari Mentari.
Mentari membelalakkan matanya kepada William, begitu mendengar kata ciuman antara William dan Angel. Terlihat pancaran tidak suka dari matanya. Mentari cemburu mendengar itu.
"Itu ... bisa dihitung dengan jari," kata William buru-buru begitu melihat mata Mentari.
"Bohong!" Mentari tidak percaya karena setiap hari entah berapa kali William mencium dirinya.
"Beneran, aku nggak pernah memulainya lebih dulu," kata William sambil mengangkat dua jari tangannya.
"Buktinya tiap hari ... Oppa nyosor entah berapa kali, kepadaku!" Mentari menatap tajam ke arah suaminya.
"Itu karena aku sudah kecanduan kamu, Baby," jawab William sambil tersenyum malu.
"Pokonya Oppa harus dihukum!" Mentari berdiri dan menjauh dari kasurnya.
"Hukum saja aku, bila itu bisa memaafkan kesalahanku padamu!" William merasa mendapat angin segar karena Mentari tidak minta cerai kepadanya. Hukuman apapun itu, akan dia laksanakan dengan baik.
"Hukumannya adalah ... Oppa tidak boleh menyentuh aku, sampai bayi ini lahir," kata Mentari sambil tersenyum senang.
"Apa! Tidak bisa begitu," William menolak hukuman dari Mentari.
"Sudah jangan membantah! Namanya juga hukuman. Nggak akan ada yang enak dan menyenangkan." Mentari duduk di sofa yang dekat dengan jendela.
"Tapi Baby. Kamu tahu sendiri, aku tidak akan kuat bila tidak menyentuh kamu," kata William merajuk. Ini sungguh hukuman terberat baginya.
"Dua bulan kalau begitu," kata Mentari dengan menahan tawanya karena melihat ekspresi wajah William.
__ADS_1
"Baby ... dua hari saja gimana?" tawar William tatapan matanya memelas.
"Tidak bisa! Pokonya harus dua bulan, titik!" Mentari bersikukuh pada pendiriannya.
"Baby, jangan membunuh aku secara perlahan," William masih menunjukan wajah memelasnya dan duduk disamping Mentari.
Suara pintu kamar mereka, ada yang mengetuk dari luar, tapi ketukannya terasa aneh. Ringan dan kurang bertenaga. Mentari berjalan ke arah pintu, dan William pun mengikutinya dari belakang. Saat membukakan pintu Mentari melihat ada Allura di sana.
"Maaf ...," kata Allura sambil menundukkan kepalanya dan meremas roknya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Mentari sambil menundukkan badannya.
"Bisakah aku tidur bersama ... Mom-my?" Allura berkata dengan malu-malu.
"Oh, tentu saja. Ayo Mommy temani kamu tidur!" ajak Mentari sambil menuntun Allura menuju ke kamarnya yang berada di sebelah kamarnya.
"Baby ... lalu aku ...?" William mengikuti mereka berdua.
"Oppa, sedang di hukum. Jadi tidur sendiri," kata Mentari.
Akhirnya mereka tidur bertiga di kamar yang dibuat mendadak di siapkan untuk Allura. William tentu saja nemplok memeluk Mentari dari belakang. Sementara Mentari memeluk Allura, dan mengelus punggungnya.
******
Allura senang saat Mentari mau menerima dirinya untuk berada di mansion Green. Mentari juga tadi menyambut dan memeluk dirinya dengan senyuman hangatnya. Bahkan sampai dia tidak sadar memanggil Mentari, dengan Mommy. Namun Mentari tidak mempermasalahkan panggilan untuknya. Allura pun kini memanggil Mentari dengan panggilan Mommy.
Allura dulu memanggil Angel, dengan sebutan mama. Dia juga tidak terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan Angel. Makanya perhatian dari Mentari saat makan siang tadi dia merasa sangat senang. Dia merasa pertama kalinya ada orang yang memberikan perhatiannya kepada dirinya.
Allura juga sangat senang saat Mentari menyisir rambut dan mendandaninya setelah selesai mandi tadi. Allura merasakan kasih sayang seorang ibu itu, dari Mentari. Senyumnya pun terus tercetak di wajahnya. Allura yang haus akan kasih sayang, begitu sangat senang dengan Mentari yang selalu memberi kasih sayang untuknya.
******
Mentari yang melihat Allura, sebagai gadis kecil yang ketakutan dan tatapannya yang selalu memohon kepadanya. Membuat dirinya, bersimpati kepada gadis kecil malang itu. Apalagi saat dia memandikan Allura tadi, di tubuhnya yang sangat kurus itu. Ada beberapa memar, baik yang masih terlihat baru, atau yang sudah mulai samar. Allura banyak bercerita tentang kehidupannya. Gadis kecil itu sering ditinggal oleh Angel dan dia dirumah sendirian. Bahkan sering kelaparan karena Jonny tidak pernah memberikan makan untuknya. Kalau dia minta uang untuk membeli makanan, maka pukulan yang akan diterima olehnya.
Mentari tidak melampiaskan rasa kesalnya terhadap Angel kepada Allura. Sebab anaknya tidak tahu apa-apa, tentang kelakuan busuk yang telah dilakukan oleh ibunya. Mentari juga berharap kalau Allura jangan sampai seperti Angel--ibunya. Maka dia bertekad akan mendidik Allura menjadi anak yang baik.
__ADS_1
Mentari pun sejak awal sudah sayang kepada Allura. Bayangan tatapan matanya, saat pertama kali beradu pandang, waktu di pantai. Sudah mencuri perhatiannya. Entah kenapa hatinya begitu berdesir saat melihat tatapan mata biru milik Allura.
******
William mengajak Allura ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Dia melakukan tes di rumah sakit miliknya. Mentari pun ikut mendampingi proses itu.
"Daddy, apa aku ... boleh makan es krim?" tanya Allura dengan suaranya yang pelan. Saat mereka berada dalam perjalanan pulangnya.
"Ya, boleh." William pun membelokkan mobilnya, dan mengantar Allura membeli es krim di minimarket.
Mereka bertiga pun makan es krim, sambil duduk di taman. Allura merasa sangat senang, dia merasa punya orang tua sungguhan. Apalagi saat dia menyuapi es krim, kepada William dan Mentari bergantian. Dia dulu iri saat melihat ada anak yang menyuapi es krim kepada orang tuanya. Kini keinginannya itu bisa terwujud.
******
Satu Minggu pun berlalu, dan hasil dari tes DNA pun sudah keluar. William pun datang seorang diri ke rumah sakit. Sementara Mentari dan Allura sedang sibuk membuat kue dan puding di rumahnya.
Hubungan ketiga orang itu pun semakin dekat. Kini Allura tidak malu-malu lagi terhadap Mentari dan William. Dia sering bermanja-manja kepada Mentari maupun William. Apalagi Mentari yang selalu peduli dan memberikan perhatian lebih untuknya.
Mentari juga mengajari Allura belajar. Ternyata Allura belum begitu lancar membaca dan menulis. Jauh banget di bandingkan dengan si Trio Kancil, meski umur mereka seumuran.
******
William pun mendatangi dokter yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan tes DNA dia dan Allura. Dia merasa deg-degan, saat dokter itu membuka amplopnya.
"Tuan William, menurut hasil tesnya. Bahwa Anda dan Allura adalah ayah dan anak!" Dokter itu menyerahkan kertas hasil tesnya.
Tubuh William langsung terasa lemas. Dia tidak menyangka kalau Allura itu beneran anaknya dengan Angel. Sungguh di sudut hatinya, dia tidak terima dari hasil tes itu. Namun dia tidak bisa apa-apa lagi karena semuanya sudah terjadi.
"Benar kata Mentari. Semua sudah terjadi, dan tidak akan bisa kembali lagi," gumamnya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.