
Mentari dan William menginap satu hari di rumah Aurora. Bagaimanapun bagi William, Khalid dan Aurora adalah orang tuanya, yang sudah membesarkan dan mendidiknya saat kecil hingga beranjak remaja.
Bahkan bagi dia pengorbanan Khalid dan Aurora itu sangat besar baginya. Saat itu mereka membesarkan tiga anak sekaligus. Dirinya, Fatih, dan Alex, yang kadang membuatnya repot. Apalagi saat mereka bertiga sakit secara bersamaan. Maka Khalid dan Aurora tidak akan pergi bekerja, dan selalu begadang, sampai mereka semua sembuh.
Khalid dan Aurora juga menganggapnya William sebagai anaknya, bukan paman kecilnya. William akan ngambek bila dipanggil uncle atau paman apalagi om. William ingin disamakan seperti Fatih dan Alex. Bahkan dulu William lebih suka berkelakuan manja kepada Khalid dan Aurora, dibandingkan kepada Jennifer dan Christopher.
William pun punya kamar tersendiri khususnya di rumah Khalid, bahkan di mansion utama keluarga Hakim juga dia punya. William sudah diakui sebagai bagian dari keluarga Hakim.
******
Fatih dan Zahra pun datang ke rumah orang tuanya. Begitu tahu William dan Mentari mau menginap di rumah Khalid.
"Willi, besok jam berapa kalian berangkat ke Amerika?" tanya Aurora yang sedang duduk manis sambil bersandar di punggung sofa.
"Agak siangan, Ma." William asik menyembunyikan wajahnya di perut Mentari dan menciuminya dengan gemas.
Sebenarnya Mentari malu dengan kelakuan William itu. Apalagi sejak tadi Fatih dan Zahra melihat ke arah mereka. Semua orang yang ada di sana dapat melihat rona merah di wajah Mentari, yang malu dengan kelakuan suaminya itu.
"Oppa … sudah malu, sama yang lain," bisik Mentari sambil membelai rambut pirang milik William.
"Biarkan saja mereka, Baby." William masih asik saja menciumi perut Mentari, tidak menggubris keinginan istrinya itu.
Semua yang di sana hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Mentari dan William. Mentari yang malu-malu, sedangkan William yang tidak punya malu.
"Tapi, Oppa …." Mentari melihat orang-orang yang ada di sana malah melihat ke arahnya dengan memasang senyuman yang tertahan. " Aku malu!"
__ADS_1
Mentari yang buru-buru berdiri dan pergi ke ruang dapur tidak menghiraukan panggilan dari William. Dirinya sungguh sudah sangat malu, apalagi tadi pas habis sholat dan saat akan memakai jilbabnya. Aurora mengomentari leher jenjang Mentari yang banyak jejak peninggalan William semalam. Bahan Zahra meledeknya habis-habisan.
Bagi Mentari lebih baik dia menjauh dari suaminya dulu, saat ini. Di dapur pun, Mentari sudah minum dua gelas air putih. Wajah dan tubuhnya yang tadi terasa panas kini terasa kembali adem lagi.
Diusapnya perut dengan rasa sayang, dan bibirnya tersenyum lebar. Mentari sudah tidak sabar ingin cepat-cepat anaknya lahir.
"Mentari," sapa Zahra begitu dia masuk ke ruang dapur.
"Iya, ada Zahra?" tanya Mentari sambil melihat ke arah Zahra yang berjalan ke arahnya. Kemudian mendudukan dirinya di kursi sebelah Mentari.
Zahra pun bertanya kepada Mentari, bagaimana dia membagi waktu kerja dan mengurus suaminya. Walau mereka berdua sama-sama sibuk, tapi William berhasil membuat Mentari hamil.
Mentari malah bingung menjawabnya. Bukannya Zahra itu Dokter Ahli Kandungan, kenapa malah bertanya kepada Mentari yang kuliah di bidang bisnis dan manajemen.
"Mungkin ini adalah amanah yang dititipkan Allah kepadaku dan juga Oppa Willi. Agar bisa menjadi hamba yang lebih baik lagi. Soal anak itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Mau nggak mau, siap nggak siap. Bila sudah waktunya Allah akan memberikannya kepada kita." Mentari mendadak menjadi bijaksana dan dewasa setelah masalah kemarin menerjang rumah tangganya.
Satu hal yang tidak Zahra tahu, kalau Mentari dan William sering bercocok tanam tiap harinya. Sementara Zahra dan Fatih bisa dihitung dengan jari dalam satu bulannya. Jadi peluang Mentari hamil lebih besar. Walau itu tidak 100% benar dan dapat terbukti. Hanya saja William dan Mentari, yang ingin punya anak terus berusaha semaksimal mungkin.
Fatih yang melihat dan mendengarkan, Zahra dan Mentari berbicara di dapur, hanya menundukan kepalanya. Dia tidak suka saat melihat Zahra bersedih.
******
Malam itu Fatih dan Zahra pun ikut menginap di rumah Khalid. Jadinya William juga ikut begadang bersama Fatih dan Khalid. Mereka membicarakan banyak hal dari percakapan hal yang sepele, sampai pembicaraan hal yang berat.
Sementara Mentari tidur bersama Zahra di kamar Aurora. Mereka bertiga tidur di kasur yang luas milik Aurora dan Khalid. Mentari dan Zahra mendapat wejangan dari Aurora agar bisa menjadi istri yang baik dan disayang oleh suami.
__ADS_1
Saat akan tidur, William tidak bisa menemukan Mentari berada di dalam kamarnya. Maka dia mencarinya, ke kamar Aurora. Ternyata benar saja, dilihatnya Mentari tidur di samping kanan Aurora sementara Zahra tidur di samping kirinya.
Maka William membopong Mentari dengan hati-hati. Agar istrinya itu tidak bangun, akibat guncangannya. Saat keluar dari kamar Aurora, Fatih pun hendak masuk ke kamar orang tuanya itu, dan menjemput Zahra.
"Mentari juga sudah tertidur rupanya," kata Fatih saat berpapasan dengan William. Dilihatnya Mentari yang sudah tertidur pulas, sedang berada dalam gendongan William.
Fatih memberi isyarat bibir tanpa bersuara kepada William. William pun menganggukan kepalanya membenarkan perkataan Fatih.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak jika tidak memeluk Mentari," bisik William di dekat telinga Fatih.
"Dasar bucin!" balas Fatih sambil terkekeh.
Menurut Fatih, kalau William dan Alex itu aneh. Mereka tidak bisa lama-lama jauh dari istrinya. Apalagi Alex paling parah rasa cintanya kepada Cantika, dia terlalu posesif. Bahkan dia tidak bisa jauh dari Cantika selama tiga hari, bahkan kalau pergi dinas kerja lebih dari tiga hari, maka dia akan mengajak istrinya itu.
William memeluk tubuh Mentari dengan penuh rasa sayang. Diusap punggungnya saat merasakan pergerakkan dari Mentari, agar kembali terlelap. William bertekad akan memberikan semua, yang terbaik bagi istri dan anaknya.
Dia juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Apalagi sampai mengucapkan kata perpisahan di antara mereka. "Ya Allah, mudah-mudahan aku dan Mentari bisa selalu bersama dan hidup bahagia," William berdoa dengan suaranya yang lirih, sambil melihat wajah cantik istrinya.
Sementara di kamar sebelah, atau tepat di kamarnya Fatih. Fatih berdoa agar bisa diberikan keturunan secepatnya. Karena mempunyai anak yang sholeh dan hebat adalah impiannya. Dia tidak tahu, kalau Zahra sudah terbangun, dan meneteskan air matanya, saat mendengar doanya, karena belum bisa membuat impian suaminya itu terwujud.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.