Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (17)


__ADS_3

   Mentari sedang menyiapkan sarapan pagi, karena Widuri sedang tidak ada di rumah. Fatih tentu saja ikut membantunya, walau kebanyakan dia mengganggu Mentari. Karena di dapur hanya ada mereka berdua, Fatih tidak segan-segan memeluk tubuh Mentari dari belakang. Hanya ketika berduaan saja, Fatih merasa bebas mengungkapkan perasaannya. Melakukan apa yang dia mau terhadap Mentari.


    Saat kedua istri sedang bersamanya dia akan bertindak sewajarnya saja biar adil, karena takut ada yang merasa tersakiti akibat cemburu. Fatih juga akan bertindak lebih intim saat hanya berduaan dengan Zahra. Tanpa harus takut membuat Mentari cemburu. Punya dua istri bagi Fatih, harus bisa bertindak adil. Apalagi di saat mereka bertiga sedang bersama-sama. Agar tidak ada yang merasa di abaikan.


"Mas, coba ini rasanya sudah pas, apa belum?" Mentari menyuapi Fatih, untuk mengetes rasa pasakannya.


"Sudah, enak. Seperti biasanya," jawab Fatih yang masih memeluk tubuh Mentari, sambil sesekali mengusap perut Mentari yang mulai terasa keras.


     Mentari membiarkan Fatih berlaku sesukanya. Karena dia juga tidak merasa kesulitan saat memasak. Rasa bahagia Fatih yang telah menjadi calon seorang ayah, membuat dia suka sekali mengelus perut yang berisi anaknya. Bukan hanya Fatih saja, mantan suaminya juga suka mengelus perutnya saat hamil anaknya dulu. Alex juga sangat suka mengelus perut Cantika, saat hamil si kembar Shine dan Sky.


"Mas, bisa tolong panggilkan Zahra! Tumben dia belum keluar kamar," pinta Mentari sambil mengarahkan wajahnya ke arah samping, dan mendapat ciuman dari Fatih.


"Baiklah,"


    Fatih pun, bergegas menuju kamar Zahra, dan masuk ke sana. Ternyata Zahra sudah bangun dan duduk melihat keluar jendela. Maka dia pun berjalan ke arahnya. Dilihatnya wajah Zahra terlihat sembab, dan matanya sedikit bengkak,itu membuat Fatih khawatir.


"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Fatih sambil menarik Zahra agar melihat ke arahnya.


    Melihat suaminya ada di depannya sekarang, membuat Zahra menangis kembali. Dia jadi teringat kembali kejadian beberapa menit yang lalu saat dirinya hendak membuat sarapan. Dia melihat suami dan madunya sedang bermesraan, walau yang dia lihat hanya pelukan dari belakang. Dia juga sering melakukan itu saat masak bersama suaminya. Tapi saat melihat, suaminya melakukan dengan wanita lain, hatinya merasa sakit, dia cemburu, dan tidak suka.


"Sayang, kenapa menangis? Apa penyakit kamu kambuh lagi?" tanya Fatih dengan nada panik bercampur cemas.


    Zahra hanya menggelengkan kepalanya saja, dia lebih memilih menangis.


"Kalau begitu, ada apa? Jangan membuat Mas khawatir seperti ini! Ayo katakan, ada apa?" 


"Aku cemburu, Mas. Saat melihatmu bersama Mentari." Zahara berkata dengan suaranya yang tertahan karena sedang menangis.

__ADS_1


    Mendengar itu, Fatih ingin tertawa, tapi dia tahan. Karena dia tidak mau menyulut emosi istrinya lebih marah lagi.


"Kenapa cemburu? Kalian sama-sama istriku." 


"Aku nggak suka, kalau Mas lebih mencintai Mentari dibandingkan aku!"


     Fatih menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Dilihatnya Zahra yang masih mengeluarkan air matanya. Kemudian Fatih menghapusnya.


"Bukannya dulu, Mas pernah bilang. Kalau kamu meminta Mas untuk menikah lagi, berarti kamu sudah siap dengan cinta Mas yang akan terbagi. Kamu bilang sudah siap membaginya dengan madu kamu."


"Tapi, Mas. Aku tidak mau posisi aku di hatimu bergeser! Hanya aku yang boleh bertahta di hatimu, Mas! Jangan sampai posisi aku di hatimu di gantikan olehnya. Aku tidak mau!"


"Aku tidak tahu, itu akan seperti apa kedepannya. Karena kita tahu, Allah yang membolak-balikan hati kita."


"Iya. Tapi aku 'kan istri pertamamu, Mas!"


"Apa, sekarang kamu menyesal menyuruh Mas menikah lagi?" 


"Bukannya sejak awal Mas menolak keinginan kamu, untuk dimadu dengan Mentari!" lanjut Fatih, tanpa tahu ada Mentari yang berdiri di depan pintu kamar Zahra untuk menyusulnya.


"Mas sudah memberi penjelasan, tentang anak kita bisa mengadopsinya. Masalah penyakit kamu, kita sedang mengobatinya."


    Fatih yang berdiri membelakangi pintu kamar, tidak tahu kalau ada seorang wanita lagi yang baru saja di sakiti hatinya, karena mendengar perkataannya itu.


"Kamu masih saja memaksa Mas untuk menikahi Mentari. Bahkan kamu mengancam saat itu. Membuat Mas tidak punya pilihan lain,"


    Zahra diam dan menundukan kepalanya. Dia tidak berani membalas kata-kata suaminya itu. Karena memang benar apa yang dia bicarakan.

__ADS_1


    Mentari yang mendengar itu, meneteskan air matanya. Sesak dan nyeri yang sekarang dirasakan di dadanya kini. Dengan langkah perlahan dia menjauh dari sana. Mentari memilih masuk ke kamarnya, dan menumpahkan rasa sakit hatinya dengan menangis lepas. Tanpa takut ada yang mendengarnya, karena kamarnya kedap suara . Dia sengaja mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang tiba-tiba masuk.


     Mentari tidak menyangka kalau Fatih sesungguhnya tidak mau menikah dengannya sejak awal. Itu adalah kenyataan yang baru di ketahuinya. Karena yang dia tahu, Zahra bilang Fatih pun menginginkan pernikahan ini. Berbeda dengan yang dia dengar barusan.


     Mentari menangis sambil duduk di lantai samping ranjangnya. Sambil memegang perut yang berisi anaknya, dia menangis seolah sedang membagi perasaannya kepada bayi-bayi yang ada di dalam rahimnya.


"Ya Allah, aku tidak pernah mengharapkan cinta darinya, karena aku tahu dia begitu mencintai istrinya."


"Tapi kenapa saat dia berkata tidak pernah menginginkan pernikahannya dengan aku, hatiku sangat sakit,"


"Bohong, dia ingin punya anak! Nyatanya dia berniat untuk mengadopsi anak dari orang lain," 


    Mentari terus merancu mengungkapkan isi hatinya yang sedang terluka saat ini. Sudah setengah jam dia menangis meraung-raung menumpahkan kesedihannya. Setelah dirasa puas dia pergi ke kamar mandi, untuk membasuh mukanya yang sembab.


    Dilihatnya jam dinding sudah menunjukan jam tujuh pagi, biasanya Fatih akan mandi. Maka Mentari pun membuka pintu kamarnya, dan di saat bersamaan Fatih hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Mentari, apa kamu sudah sarapan terlebih dahulu?" tanya Fatih sambil tersenyum ke arah Mentari.


"Hm, " jawab Mentari, kemudian dia berjalan ke arah lemari pakaian Fatih untuk menyiapkan baju kerja untuknya.


    Beberapa kali Mentari menarik napasnya, agar mengurangi rasa sesak di dadanya, yang kembali hadir saat melihat Fatih barusan.


"Astagfirullahaladzim … Astagfirullahaladzim …,"  Mentari terus beristighfar dengan suara yang lirih untuk menenangkan hatinya. Mentari berusaha jangan sampai air matanya kembali keluar saat ada Fatih atau Zahra sedang bersamanya.


"Ayo Mentari, kamu pasti bisa! Ini masih belum seberapa? Kamu pasti bisa melewati ini," gumam Mentari menyemangati dirinya sendiri.


******

__ADS_1


JANGAN LUPA BACA JUGA KARYA AKU YANG LAINNYA YA.



__ADS_2