
Mentari menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Dihirupnya udara sebanyak yang dia mampu hirup. Kemudian dia keluarkan lewat mulutnya. Mentari mengulangi itu sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh wajahnya.
William terus mengetuk pintu dan memanggil nama Mentari. Dia begitu takut terjadi apa-apa kepada istrinya itu.
Mentari pun keluar dari kamar mandi, dan melihat ada William di depan pintu. William langsung memeluk tubuh Mentari.
"Baby, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya William yang masih memeluk tubuh Mentari.
"Oppa ada apa? Kenapa berteriak memanggilku?" Mentari malah balik bertanya.
"Aku khawatir, karena kamu lama sekali di kamar mandi. Aku takut terjadi sesuatu kepada kamu, Sayang." William mencium pucuk kepala Mentari berkali-kali dan terakhir mencium bibir lembut milik istrinya itu.
Mentari membiarkan William berbuat sesukanya. Hanya saja dia tidak memberikan respon akan tindakannya. Saat ini hati dan pikirannya masih kusut belum tertata kembali.
"Ada apa Baby?" tanya William begitu melepas ciumannya. Dia merasa ada yang aneh dengan Mentari.
"Oppa sebaiknya istirahat biar cepat sembuh! Ayo tidur lagi!" Mentari menarik tangan William dan membawanya ke ranjang mereka.
"Tidurlah!" suruh Mentari sambil menyelimuti tubuh William.
"Temani!" pinta William begitu Mentari akan beranjak.
"Allura sedang menungguku. Dia minta dibacakan buku," kata Mentari dengan lembut.
"Baca bukunya di sini saja, ya!" pinta William lagi dengan tatapan memohon.
Mentari pun menganggukan kepalanya. Dia tidak mau berdebat. Apalagi suaminya sedang sakit. Akhirnya Mentari membacakan buku dongeng untuk ayah dan anak itu.
Mentari duduk di tengah-tengah keduanya. Dia juga duduk bersandar, semetara William memeluk dan mengelus perut Mentari yang sudah memasuki tujuh bulan. Allura merapatkan tubuhnya kepada Mentari. Kini keduanya sudah tidur siang.
Mentari pun bangun dan meninggalkan ayah dan anak itu. Saat ini dia membutuhkan seseorang yang bisa diajak bercerita tentang masalahnya.
*******
Cantika adalah orang pertama yang Mentari hubungi. Namun beberapa kali dia mencoba menghubungi, tidak di angkat juga. Mentari tidak tahu kalau Cantika sedang ke rumah sakit membawa Sky yang demam tinggi, dan dia lupa membawa handphone miliknya.
Akhirnya dia memutuskan menghubungi bundanya--Sinar--tapi cepat-cepat Mentari matikan.
"Bunda pasti akan marah lagi nanti sama Oppa," gumam Mentari.
"Ahk, Zahra!" Mentari teringat kepada sahabatnya itu.
Maka Mentari pun menghubungi Zahra. Serta meminta pendapatnya. Zahra juga bukan orang yang suka mengumbar aib orang lain.
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam Zahra begitu teleponnya diangkat.
"Wa'alaikumsalam, Zahra." Mentari membalas salam, "maaf apa aku mengganggu waktumu?" tanya Mentari.
" Tidak. Aku juga sedang sendirian dan kamar," jawab Zahra.
"Kak Fatih kemana?" tanya Mentari lagi.
"Sedang keluar kota, memeriksa kantor cabang perusahaan dan beberapa pabrik," jawab Zahra.
"Bolehkah aku minta pendapat kamu?" tanya Mentari dengan hati yang ragu untuk menceritakan masalahnya.
"Tentang apa?" tanya Zahra penasaran.
Kemudian Mentari menceritakan yang sedang terjadi kepada keluarganya saat ini. Dia menahan Isak tangisnya saat menceritakan kalau William menyembunyikan hasil tes DNA nya dengan Allura.
Bukan hanya Mentari yang menahan tangisannya. Zahra malah lebih parah, dia menangis tergugu. Saat dia mendengar kisah sahabatnya yang selalu saja ada masalah besar yang menghantam kehidupan rumah tangganya. Baru saja sahabatnya itu bahagia karena rujuk kembali membangun rumah tangganya. Kini ada masalah besar lagi yang menimpa mereka.
"Jujur ... hatiku saat ini sangat sakit. Namun Aku tidak bisa menyalahkan William. Karena itu kejadiannya dahulu sebelum kenal sama aku," kata Mentari kemudian menghirup udara yang banyak untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya, "Tapi aku juga tidak mau menyalahkan Allura. Dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa."
Zahra malah semakin kencang menangisnya. "Mentari kamu adalah wanita hebat yang aku kenal!"
"Kalau orang lain, pasti dia akan melempar jauh dari kehidupannya, anak dari wanita lain itu," kata Zahra di sela-sela isak tangisnya.
"Iya, makanya kamu adalah wanita hebat. Tidak mengedepankan keegoisan kamu. Bahkan kamu mau mengurus anak Mak Lampir itu," kata Zahra. Kemudian keduanya tertawa gara-gara kata Mal Lampir.
"Jadi apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang?" tanya Mentari kepada Zahra.
"Kamu tinggal bicarakan ini dengan William saat kondisi kesehatannya sudah pulih," jawab Zahra.
"Hm ... tadinya juga aku berpikir seperti itu. Hanya saja, mommy Jennifer belum tahu ini. Hari ini rencananya mommy akan kembali setelah satu bulan pergi. Untuk memeriksa beberapa perusahaan yang ada di Eropa," kata Mentari.
"Jadi Grandma Jennifer belum tahu William punya anak?" tanya Zahra terkejut.
"Belum," jawab Mentari dengan pelan.
"Apa yang akan kamu lakukan, seandainya Grandma tidak mau menerima Allura sebagai cucunya?" tanya Zahra.
"Bagaimana pun juga Aku harus menjelaskan supaya mommy mau menerima kehadiran Allura di sini. Karena aku akan menjaga dan mendidik Allura. Setidaknya dia tahu mana yang baik dan buruk. Tahu apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan," jawab Mentari.
*******
Setelah banyak bercerita dengan Zahra, kini hati dan pikiran Mentari sudah terasa ringan. Beban yang sejak tadi terasa menimpa dirinya, kini terasa hilang.
__ADS_1
Mentari membangunkan William dan Allura karena hari sudah sore. Mereka pun menghabiskan waktu di samping teras rumah. Mentari sudah bisa berinteraksi kembali seperti biasa ketika dengan William.
"Sayang … Mommy pulang!" Jennifer memanggil Mentari begitu masuk ke rumahnya.
"Mommy sudah pulang!" pekik Mentari, kemudian dia lekas berdiri dan mendatangi mertuanya itu.
Jennifer langsung memeluk Mentari begitu melihat menantunya. "Sayang, semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Jennifer sambil memandang wajah Mentari.
"Alhamdulillah, baik Mom," jawab Mentari sambil tersenyum manis kepada mertuanya.
"Syukurlah. Liburan kalian waktu ke villa di pantai, apa menyenangkan?" tanya begitu duduk di sofa.
"Iya, Mom. Seperti biasa." Mentari memberi isyarat kepada pelayan untuk membawakan minuman dan kue yang sudah dia buat khusus untuk Jennifer kemarin.
"Mommy," William yang baru sampai di sana langsung memeluk tubuh Jennifer.
"Hai, Willi apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanyanya kepada putranya itu.
"Iya, Mom," jawab William.
Jennifer terkejut saat melihat ada seorang anak kecil yang berdiri di belakang William. Matanya menelisik wajah gadis kecil yang berwarna biru.
"Siapa dia, Willi?" tanya Jennifer sambil melihat ke arah Allura.
William mendadak kaku tubuhnya. Dia melupakan anaknya itu. William bingung memulainya dari mana dulu.
"Dia ...." William merasa kesulitan saat akan bicara. Lidahnya terasa kelu.
"Namanya Allura, Mom," kata Mentari sambil tersenyum. "Allura ayo beri salam sama Grandma!" perintah Mentari kepada Allura.
"Jangan bilang kalau gadis kecil ini adalah anaknya Angel!" Jennifer melihat ada kemiripan Angel di wajah Allura.
******
TERIMA KASIH AKU UCAPKAN KEPADA TEMAN-TEMAN YANG SELALU SETIA MEMBACA KARYA AKU INI. MAAF KARENA SELAMA BULAN INI UP HANYA 1 BAB. PADAHAL RENCANANYA AKU MAU TAMAT BULAN INI.
APA DAYA, KITA BERENCANA. TUHAN 'LAH YANG MENENTUKAN.
******
Teman-teman sambil menunggu Up lanjutan dari Mentari-William. Baca juga karya sahabat aku. Nama Author : Aisy Arabia. Judulnya : Ratu Vs Selir Tuan Erlan.
Baca kasih like dan komen.
__ADS_1