
Anggit yang sedang asik rebahan di kamar sambil memainkan laptopnya untuk memeriksa laporan keuntungan dari perusahaan yang sedang ditanganinya. Dikejutkan dengan teriakan suara mamanya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Anggit belum tahu kalau saat ini polisi sedang memburunya saat ini.
"Anggit, buka pintunya dulu, Sayang!" pinta Dewi kepada putri semata wayangnya.
"Ada apa, Mah?" tanya Anggit sambil membuka pintunya malas karena sudah mengganggu pekerjaannya.
"Mama mau tanya. Apa yang sudah kamu rencanakan dengan Melisa?" tanya Dewi dengan menahan amarahnya.
"Nggak punya rencana apa-apa, kita lagi sibuk sama kerjaan kita masing-masing," jawab Anggit kurang memahami maksud perkataan mamanya.
"Tapi, Melisa bilang kalau kamu yang merencanakan penculikan kepada Mentari," kata Dewi.
Mendengar itu, Anggit benar-benar terkejut. Sebab, tidak menyangka kalau mamanya tahu soal rahasia dengan Melisa.
"Mama tahu itu dari mana? Jangan ngada-ngada. Aku mana mungkin melakukan itu pada keponakan kesayangan mama," kilah Anggit.
Dewi tahu kalau Anggit tidak suka kepada Mentari. Namun, penyebabnya apa dia belum tahu.
"Kenapa kamu tidak menyukai Mentari. Dia anak yang baik dan menyenangkan. Apa karena dia sepupu dari Cantika? Mentari juga sepupu kamu, Anggit!" Dewi menekankan dari dulu agar Anggit bisa banyak belajar dari Mentari.
"Sepupu? Perasaan kita nggak punya hubungan darah deh, Ma! Kenapa Mama begitu memuja Mentari, sih?" Anggit menjadi kesal sangat terlihat dari wajahnya dan kerlingan mata dan decakan dari bibirnya.
"Kenapa kamu ngomong begitu?" Dewi mulai meninggi suaranya karena tidak suka dengan perkataan Anggit.
"Sudahlah, Ma! Aku mau kerja lagi!" Anggit langsung menutup pintu kamarnya. Dia tidak suka saat mamanya menyebut-nyebut nama Mentari.
Dewi tidak suka dengan sikap Anggit yang menjadi lebih buruk setelah keluar dari penjara. Kalau dulu dia masih menurut sama omongan orang tua, walau kadang keras kepala dengan pendapatnya. Dia juga suka bermanja-manjaan kepadanya, atau merayu orang tuanya untuk mengabulkan keinginannya. Kini, bicara pun jarang mereka lakukan. Apalagi Melisa itu teman yang sama-sama keluar penjara bersamanya. Dewi takut kalau Anggit dipenjara lagi.
******
__ADS_1
Operasi William berjalan dengan lancar, dan tinggal menunggu sadar. Fatih dan Alex pun pulang ke rumah Fatih untuk melihat si kembar. Alex ingin bertemu dengan keponakannya yang terlihat sangat menggemaskan ketika di lihat dari video.
Fatih dan Alex mengendarai mobil masing-masing. Rencananya setelah dari rumah Fatih dia akan menginap semalam di Mansion keluarga Hakim. Untuk memulihkan kondisi tubuhnya sebelum dia pulang ke Amerika.
Fatih dan Alex mengucapkan salam saat memasuki rumah. Mentari dan Zahra yang sedang mengasuh si kembar dikejutkan dengan kedatangan Alex.
"Kak Al, kanapa wajah kamu? Wajah ganteng Kak Al, kini di penuhi oleh bulu," kata Mentari sambil menatap wajah Alex. Tidak tahu kalau Fatih mendelikan matanya saat mendengar Mentari memuji wajah Alex.
"Ini gara-gara Cantika ngidam aku disuruh menumbuhkan brewok, katanya biar bisa ngeluarin," balas Alex sambil tersenyum malu.
"Gimana sih, Kak Cantika. Suami sudah ganteng malah di suruh tumbuhin brewok begini!" Mentari tanpa sadar menyentuh brewok di wajah Alex. Itu membuat semua orang terkejut. Fatih pun langsung menarik tangan Mentari dari wajah Alex.
Mentari yang baru saja sadar dengan perbuatannya itu, hanya bisa tersenyum kaku dan mengacungkan dua jarinya sama Fatih. Alex dan Zahra malah tertawa geli melihat Fatih dan Mentari.
"Wah, ini Rayyan dan Raihan! Sudah agak lebih besar dibanding dengan di video kiriman terakhir kali." Alex menggendong Rayyan kemudian Raihan pun bergerak ingin digendong juga olehnya. Maka dengan sebelah tangannya dia pun menggendong Raihan. Kini kedua bayi itu tertawa senang.
"Wah ini anak-anak kalian tidak canggung sama orang baru?" Tanya Alex sambil sesekali menciumi pipi si kembar.
"Bagaimana kabar, kakek Willi?" tanya Mentari penasaran.
"Operasi berjalan lancar. Namun, dia belum sadar," jawab Fatih.
"Ada satu hal yang aku takutkan," kata Alex dengan ragu-ragu.
Fatih langsung bereaksi saat mendengar perkataan Alex. Dia sudah merasa hal yang tidak menyenangkan.
"Apa itu?" tanya Zahra.
Alex menarik napasnya dengan panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
__ADS_1
"Kalau Alex tidak akan sadar dalam waktu dekat ini," jawab Alex.
Ketiga orang itu kaget dengan ucapan Alex. Bahkan Mentari sudah berkaca-kaca matanya.
"Kenapa?" tanya Mentari.
"Karena dia menginginkan kematian segera datang kepadanya," jawab Alex.
Fatih melihat air mata sudah membasahi wajah Mentari. Dia tahu pasti, istrinya itu merasa bersalah.
"Apa Kakek Willi, kini sudah gila. Menganggap tidak penting nyawanya!" Suara Fatih meninggi sehingga si kembar menangis.
Maka Zahra dan Mentari membawanya ke dalam kamar tidurnya atas perintah Fatih.
"Apa maksudnya Al?" tanya Fatih menatap dengan perasaan was-was.
"Aku kurang yakin dengan ini. Hanya saja dia pernah bilang kepadaku, beberapa waktu lalu ...," jawab Alex dengan nada rendah.
******
Apa yang menyebabkan William ingin segera mati?
Apa yang akan dilakukan oleh Fatih?
Lalu Anggit, apa yang akan dia perbuat?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
__ADS_1
Bagi teman-teman yang ingin ikutan giveaway, silakan. Waktu masih lama.
Terima kasih.