
Mentari merasa nyaman tinggal di rumah orang tuanya. Apalagi kini dia bisa bermanja sepuasnya kepada Bunda dan Ayah, ditambah juga dengan adik laki-laki kesayangannya. Membuat mood ibu hamil yang selalu ingin diperhatikan dari orang-orang sekitarnya itu, kini semakin baik. Tidak ada para pengawal dan pelayan yang berkeliaran di sekitar dia. Kecuali, Billi, itu juga dia tidak di izinkan ngikutin terus, Mentari karena dia selalu bersama Sinar menghabiskan waktu seharian.
Mentari ingin sekali makan ikan bakar maka, semua keluarganya pun memenuhi keinginan itu. Fajar juga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dari pada di kantor. Dia juga mendapat amanat dari Fatih, untuk menjaga Mentari, selama tinggal di rumah orang tuanya.
Kini, Fajar dan Billi sedang membakar ikan pesanan Mentari. Sedangkan Sinar dan Ja'far membuat nasi liwet dan sambal. Sementara, Mentari mencuci lalapan untuk pelengkap. Dia juga membuat rujak cuka, karena ingin makan yang segar-segar.
******
Kelima orang itu tengah asik berkumpul di teras belakang rumah, makan nasi liwet yang digelar di atas daun pisang. Mereka sangat menikmati acara makan siang bersama. Ditengah-tengah itu, Fatih melakukan video call kepada Mentari. Dia merasa sangat iri melihat kebersamaan mereka, dia juga ingin ikut bergabung. Apalagi saat mereka memamerkan ikan bakar kesukaan Fatih. Membuat dia hanya bisa menelan air liur.
"Mas, kabar Zahra, sekarang bagaimana?" tanya Mentari setelah puas menggoda Fatih dengan makanan yang tersaji didepannya.
"Alhamdulillah, ada kemajuan meski sedikit," jawab Fatih.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Jadi, kapan kalian akan pulang?" tanya Mentari.
"Belum bisa dipastikan. Kita harus lihat dulu perkembangan kesehatan Zahra."
"Mudah-mudahan semua bisa berjalan lebih baik lagi dari waktu ke waktunya."
"Aamiin! Aku sudah rindu sekali sama si kembar. Bagaimana kabarnya, hari ini?"
"Alhamdulillah, baik. Mereka masih saja aktif bergerak. Apalagi kalau malam hari. Makanya aku minta Bunda, tidur bersamaku, biar punggung aku bisa dielus-elus." Mentari malah tertawa renyah, karena disoraki sama Fajar.
"Bukan hanya itu saja Kak Fatih! Kak Mentari juga selalu menyuruh aku pijat kakinya. Tiap lihat aku, bawaannya nyuruh pijat kaki!" Fajar yang ikut duduk disamping Mentari juga malah ikut tertawa. Fatih yang di seberang pun ikut tertawa tertahan. Takut mengganggu tidur Zahra.
__ADS_1
Sungguh Fatih rasanya ingin berlari ke rumah mertuanya, kalau saja dia tidak punya kewajiban lain. Bagaimanapun dari semua yang dia harus diutamakan sekarang adalah kesehatan Zahra. Untungnya Mentari mau memakluminya, bukan berarti dia tidak peduli akan keadaan istri kedua. Hanya saja ini adalah pilihan yang baik bagi semuanya. Bahkan Fatih akan bisa istirahat saat ada Abah gantian mau menemani dia di rumah sakit.
******
Sudah lima hari Fatih tidak bertemu Mentari. Itu karena Zahra selalu drop kondisinya jika emosinya tidak stabil. Hanya dengan melihat Fatih berada disisinya membuat dia bisa bangkit, dari beban pikiran yang biasa terjadi, kepada orang-orang yang sedang mengalami pengobatan yang beresiko kematian.
Jadi, untuk mengobati rindunya kepada Mentari. Fatih selalu melakukan video call saat subuh, makan siang, dan saat malam hari. Mentari juga suka mengingatkan Fatih untuk menjaga kesehatan. Tidak boleh begadang karena melakukan pekerjaan kantor. Fatih malah senang saat dirinya diomeli sama Mentari karena terlihat kurusan. Fatih selama mengurus Zahra di rumah sakit, dia tidak terlalu memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Dia mengakui kalau berat badannya turun drastis.
******
Zahra sekarang lebih senang saat Fatih menyuapi dia makan dan memastikan sendiri meminum obatnya. Orang yang dibutuhkan dan diinginkan oleh Zahra yang harus selalu disisinya adalah Fatih, bukan yang lainnya. Bukan Umminya, yang kadang selalu bicara akan kelemahan dirinya, yang harus dikasihani.
Berbeda dengan Fatih, yang selalu menyemangati kalau dirinya adalah wanita hebat. Sehingga semangat untuk sembuh berkobar kembali di hati dan pikirannya.
"Mas!" panggil Zahra kepada Fatih saat dia merasa bosan karena Fatih masih sibuk dengan laporan yang baru saja dibawa oleh Alif.
"Aku bosan. Ingin jalan-jalan ke taman depan!" Zahra melihat pohon-pohon yang tumbuh di sana.
"Tidak boleh, Sayang! Dokter belum mengizinkan kamu boleh jalan-jalan ke luar kamar." Fatih mengingatkan pesan dokter.
Ruang inap Zahra juga bukan ruangan biasa. Ruangan itu di buat khusus untuk Zahra, oleh Khalid. Agar benar-benar mendapatkan fasilitas terbaik saat pengobatannya. Ruang yang bersih dan seteril.
******
Mentari mendapatkan sebuah paket barang. Namun, tidak ada nama dan alamat dari si pengirim. Mentari pun hanya menyimpan di atas meja riasnya, tidak ada keinginan untuk langsung membuka paket itu. Baru saat malam hari dia membukanya karena penasaran dengan isinya.
__ADS_1
Mentari sangat terkejut saat membaca pesan yang ada di selembar kertas di dalam kotaknya. Tulisannya hanya bertulis satu baris kalimat 'Kenangan terindah dan berharga dalam hidupku'. Mentari mengerutkan keningnya saat membuka kotak yang isinya seperti kotak musik miliknya dulu. Hadiah dari William sebelum mereka menikah. Dengan tangan gemetaran, Mentari membuka kotak musik itu.
Air matanya langsung jatuh meluncur saat membuka kotak musik ada layar kecil bukan patung yang menari. Dalam layar itu memutar video yang berisi dia dengan William saat mereka masih bersama. Dimana dia dan William terlihat sangat bahagia. Senyum kebahagian terukir dari wajah keduanya. Mentari dengan jelas tahu kapan video itu dibuat. Dadanya bergemuruh saat memori di otaknya mengingatkan lagi dia akan kebersamaannya dengan mantan suaminya. Saat itu, tidak pernah terbayangkan kalau mereka akan berpisah dikemudian hari.
Bukan hanya dengan William. Dalam kotak musik itu ada Allura dan dirinya saat dia masih hamil Liam. Mereka berdua tertawa karena menggoda William. Ketika dia tidur bersama Allura, atau saat keduanya membuat kue. Video itu hasil rekaman William yang dia ambil sambil mengganggu dirinya dan Allura. Tawa gadis kecilnya yang tidak pernah dia lihat lagi sebelum perpisahannya.
Tangisnya semakin pecah saat video menampilkan Liam saat baru lahir dan masih merah. Liam saat bisa tengkurap dengan sendirinya. Mulai merangkak dan saat belajar berdiri yang selalu terjatuh, tapi Liam malah tertawa dan mencoba berdiri lagi meski jatuh kembali. Liam yang sudah bisa berjalan dan mengejar mainan mobilnya yang bergerak sendiri.
Mentari tidak bisa lagi melanjutkan melihat video itu ketika Liam pertama kali bisa memanggil dirinya dengan sebutan "mom--mommy--luv yu", dengan bibirnya yang mungil. Mentari menutup kotak musik itu. Dia menangis tersedu-sedu, karena merindukan kedua anak itu. Ada rasa penyesalan dalam hatinya untuk mereka.
******
Mentari mulai melow lagi....
Akan ada kirim untuknya yang lebih mengguncang dirinya. Apa itu?
Tunggu kelanjutannya ya.
Author sampe mewek saat baca kembali kerangka naskah yang akan dibuat nanti. Entah akan dipangkas seperti season satu atau tidak, gimana mood Author.
******
JANGAN LUPA KLIK, LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.