Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (48)


__ADS_3

       Mentari yang sakit hati dengan perlakuan William, memilih pergi dengan membawa anaknya. Dia tinggal di paviliun lantai bawah. Air matanya mengalir dengan sangat deras, menggambarkan rasa sakit di hatinya. Dia juga tidak mau bertemu dengan siapa pun. Para pelayan yang menghawatirkan dirinya juga, tidak diizinkan masuk.


   Sudah tiga hari Mentari dan Liam tinggal di paviliun. Selama itu pula dia tidak bertemu dengan William dan Allura. Meski keduanya kemarin mencoba menemui Mentari. Hanya Jennifer yang dibolehkan oleh Mentari, bertemu dengannya.


     William memaksa ingin bicara dengan Mentari, dan meminta maaf kepadanya. Dia juga sangat rindu ingin bisa bertemu dengan putranya. Akhirnya Mentari mengalah, karena Liam terus saja menanyakan daddy-nya. 


"Baiklah, ini terakhir kalinya aku memaafkanmu!" Ancam Mentari kepada William, dan diangguki olehnya. Satu ciuman mesra diberikan William sebagai tanda terima kasih.


     Mone yang kebetulan melihat itu, merasa sangat geram. Maka dia mencari Allura.


"Nona Allura, tuan dan nyonya sudah baikan kembali!" Terdengar nada tidak suka dari mulut Mone.


"Benarkah?!" tanya Allura tidak percaya.


     Setelah tiga hari dia tidak bisa bertemu dengan Mentari. Akhirnya sekarang dia bisa bertemu dengan mommy yang sudah sangat dirindukannya. Senyum bahagia terpancar dari wajah Allura. Mone yang melihat itu merasa tidak suka.


"Nona, mau aku beritahu cara agar perhatian tuan dan nyonya hanya untukmu?" tanya Mone dengan serius.


"Mau!" jawab Allura dengan sangat antusias.


"Singkirkan bayi itu!" Perintah Mone penuh dengan penekanan.


"Caranya?" tanya Allura. Kemudian Mone membisikan sesuatu ditelinga Allura.


"Kalau dia mati, bagaimana?"

__ADS_1


"Hidup dan mati seseorang itu berada di tangan Tuhan," jawab Mone.


     Allura tersenyum lebar saat melihat Mentari sedang menyiapkan makan malam. Dia sungguh sangat rindu ingin bermanja lagi kepadanya, seperti dulu.


     Namun, tanggapan Mentari berbeda. Dia mendiamkan Allura, tidak mau banyak bicara dengannya. Dia hanya menjawab singkat dari pertanyaan dan perkataan Allura. Mentari lebih menyibukkan diri menyuapi Liam. 


     Allura kembali membuat ulah. Saat Liam sedang tidur, wajahnya di tutup dengan batal. Untungnya Mentari kembali lagi ke kamar putranya untuk membawa handphone miliknya.


"Apa yang kamu lakukan!" Mentari menarik tubuh Allura dengan kuat sampai terjengkang. Diraih tubuh putranya itu yang hampir kehabisan napas.


"Kamu mau membunuh putraku!" bentak Mentari kepada Allura yang baru saja berdiri. Wajahnya sangat pucat ketakutan, kemudian dia pergi dengan berlari.


     Mentari memanggil dokter keluarga, agar memeriksa kondisi Liam. Sebab dia tidak tahu berapa lama tadi Allura membekap muka putranya. Untungnya Liam masih bisa diselamatkan nyawanya.


******


"Terus saja bela putri kesayanganmu itu! Lama-lama aku jadi muak sama kamu!" Mentari sungguh sangat marah kepada William, yang terus saja membela Allura.


"Tapi kamu tidak perlu sampai memarahinya dengan kata-kata kasar dan menyakiti hatinya," balas William.


"Kata-kata kasar apa! Justru dia itu masih kecil, tapi kelakuannya kayak psikopat pembunuh berdarah dingin!" Mentari yang sedang emosi meluapkan amarahnya kepada William.


"Mentari! Jangan kamu ulangi lagi kata-kata barusan! Anakku bukan pembunuh!" William mencengkram tangan Mentari begitu kuat, sehingga membuat dia meringis.


"Lepaskan!" Mentari meronta mencoba melepaskan dirinya.

__ADS_1


     Mentari pun keluar dari kamarnya, menuju ke kamar Liam. Saat dia menuju kamar putranya, di sana ada Allura dan Mone yang baru naik ke lantai dua.


     Tanpa Mentari duga tiba-tiba Mone menarik tangannya kemudian menggerakkan tangannya mendorong Allura, sehingga jatuhnya ke lantai bawah. Seolah-olah Mentari yang sudah mendorong jatuh Allura.


"Allura!" Teriak Mentari histeris.


"Nona Muda!" Mone berteriak tidak kalah kencang.


     William yang sedang berada di kamarnya, di kejutkan oleh teriakan dua orang itu. Maka dia cepat-cepat ke luar kamar untuk melihat apa yang sudah terjadi.


     William sangat terkejut saat melihat Allura kepalanya bersimbah darah. Hidung dan mulutnya pun mengeluarkan darah. Mentari memeluk tubuh Allura, dan berteriak memanggil para pelayan agar menghubungi rumah sakit, secepatnya untuk mengirim ambulan.


"Ada apa ini! Kenapa Allura bisa begini?!" tanya William ikut memeriksa tubuh Allura yang tidak bergerak.


"Nyonya Mentari ...  mendorong ... Nona Allura, dari lantai atas," jawab Mone.


"Jangan bohong Mone! Jelas-jelas kamu menarik tanganku dan mendorongkannya kepada Allura, yang sedang berdiri di bibir tangga!" Bantah Mentari dengan penuh emosi.


"Tuan, bisa cek rekaman cctv. Maka akan lihat siapa yang sudah mendorong Nona Allura, tadi." Mone memasang wajah sendunya dan terluka karena merasa sudah difitnah.


******


SPESIAL HARI INI AKU AKAN CRAZY UP. PANTENGIN TERUS YA. AKU BUAT SEASON DUA TAMAT HARI INI.


******

__ADS_1


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


__ADS_2