Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (32)


__ADS_3

    Fatih berangkat bekerja tanpa pamit kepada Mentari. Dia duduk di dalam mobil, tanpa menjalankannya. Fatih memejamkan matanya, memijat pelipisnya yang terasa sakit.


     Semalam dia tidak bisa tidur terus memikirkan dirinya. Fatih begitu takut kehilangan Mentari dari sisinya. Dalam hati dan pikirannya hanya dia, yang boleh memilikinya, menyentuhnya, dan melihatnya.


    Saat tengah malam tadi, Fatih sudah tidak tahan ingin bertemu sekali dengan Mentari. Namun tubuhnya dipeluk erat oleh Zahra. Baru menjelang dini hari, Fatih bisa melepaskan diri dari Zahra.


    Fatih pun mendatangi kamar Mentari. Saat masuk ke kamar, hatinya terasa sakit melihat Mentari memeluk bantal yang selalu dipakainya.


    Fatih merasa aneh dengan dirinya, tadi sangat menggebu ingin melihat Mentari. Namun kini, saat melihatnya dia malah benci. Fatih pun akhirnya keluar dari kamar Mentari.


    Baru saja lima langkah dari pintu, perasaan ingin bertemu dengan Mentari menggebu kembali. Maka dia pun memutuskan masuk lagi ke kamar Mentari. Rasa benci itu muncul lagi saat melihat Mentari yang sedang tertidur di atas kasurnya.


    Fatih terus melakukan itu berulang kali. Sampai tak terasa waktu mulai memasuki waktu tahajud. Karena bunyi alarm Mentari menandakan bangun tidur sudah berbunyi dengan nyaring.


"Ada apa dengan aku, ya?!"


"Kenapa ini bisa terjadi?"


    Fatih bermonolog, sambil memeluk stir mobilnya. Memikirkan apa yang sudah terjadi padanya.


"Apa ini yang namanya cemburu buta?"


"Aku malah menyakiti hati Mentari," gumam Fatih dengan suaranya yang lirih.


    Pesan dari Alif, membuyarkan pikiran Fatih. Akhirnya Fatih pun melajukan mobilnya ke kantor perusahaannya.


*******


     Zahra dan Aurora, mengetuk pintu kamar Mentari. Memintanya untuk membukakan pintu, karena di kunci. Mentari pun, membukakan pintu kamar untuk mertua dan kakak madunya itu.


    Mereka langsung bisa melihat mata Mentari yang bengkak. Baik Zahra dan Aurora, tahu kalau Mentari habis menangis.


"Ada apa dengan kalian sebenarnya?!" tanya Aurora sambil memeluk Mentari.


"Mas Fatih, menuduh Mentari sudah selingkuh, Ma." Masih dengan suara seraknya Mentari menjawab pertanyaan dari mertuanya itu.


"Kenapa Fatih sampai punya pemikiran seperti itu?" tanya Aurora dengan wajahnya yang bingung.

__ADS_1


    Mentari pun mengambil beberapa foto yang kemarin dilemparkan oleh Fatih, di dalam tasnya, dan menyerahkan kepada Aurora.


    Aurora dan Zahra melihat foto-foto itu. Mereka berdua terkejut melihatnya.


"Mentari … ini?" tanya Aurora sambil melihat ke arah Mentari.


"Akan Mentari ceritakan kejadian yang sebenarnya. Kalau kalian tidak percaya, ada cctv di cafe itu. Kalian semua bisa memintanya." Mentari merasa terhakimi oleh pandangan Aurora dan Zahra saat melihat foto Zahra dan Arman.


"Maafkan Mama, Mentari. Mama percaya kamu bukan wanita yang seperti itu." Aurora kemudian berdiri dan memeluk menantunya itu.


"Siapa laki-laki ini?" tanya Zahra menunjukan foto Arman.


"Dia, Arman yang mau dijodohkan oleh nenek Ratih dulu. Apa kalian ingat? Saat hari aku menerima pinangan Mas Fatih. Nenek Ratih datang bersama rombongannya." Mentari diajak duduk oleh Aurora, di sisi ranjangnya.


"Oh … iya. Aku ingat yang katanya seorang guru … itu?!" Zahra bertanya sambil tersenyum.


"Iya. Lusa kemarin, saat Mas Fatih mengantar Zahra berobat. Aku dan teman-temanku makan di cafe. Kami bertemu kembali dengan Arman. Ini pertemuan kedua kami setelah kedatangannya dahulu kerumah," jelas Mentari.


"Sebelumnya kalian juga pernah bertemu?" tanya Aurora dengan nada terkejutnya.


"Iya, Mah. Beberapa hari yang lalu aku bertemu saat keluar dari cafe dan Arman akan masuk. Dia yang memanggilku duluan, karena aku tidak ingat wajah dia. Aku dan dia hanya basa basi mengucapkan salam saja. Entah siapa yang mengirimkan foto pertemuan tidak disengaja itu, kepada Mas Fatih." Mentari membuka kembali memori yang ingin dilupakannya itu.


"Hari kemarin lusa itu …." Mentari menarik napasnya, karena dadanya yang terasa sesak.


"Mentari makan bersama teman-teman sekantor. Lalu aku kenalkan Arman kepada salah satu rekan kerja yang belum menikah. Kita semua tertawa menggoda dua orang itu yang kelihatan malu-malu tapi mau. Karena aku mendapat telepon dari Fajar untuk segera kembali ke kantor. Aku terburu-buru sampai tidak memperhatikan ada tumpahan bumbu masakan di lantai, yang belum dibersihkan. Aku terpeleset, untungnya Arman dengan sigap menangkap aku. Kalau tidak pasti bayi ini yang akan jadi korban." Mentari memeluk perutnya sambil menangis.


   Aurora beristighfar dan bersyukur bergantian saat mendengar cerita Mentari. Dia juga ikut memeluk perut Mentari yang di dalam ada cucu kembarnya. Sedangkan Zahra berjongkok di depan Mentari, dia ikut memegang perut madunya itu.


"Tidak terjadi apa-apa 'kan sama mereka?" tanya Zahra dengan pelan.


"Hm, Alhamdulillah. Mereka bayi yang kuat. Saat itu aku langsung meminta Ayah mengantarkan ke rumah sakit untuk di cek kondisinya. Karena saat itu, aku benar-benar terkejut. Sampai-sampai jantungku berdebar terus." Mentari memberitahu hasil pemeriksaannya.


"Aku dan Arman, dari kemarin mau menjelaskan semuanya, tapi Mas Fatih sudah tidak mau mendengarnya." 


"Bahkan sekarang Mas Fatih sudah tidak mau melihat aku lagi," ucap Mentari dengan suaranya yang rendah, mengisyaratkan betapa terluka hatinya saat ini.


"Tidak! Jangan punya pikiran seperti itu Mentari!" bantah Zahra.

__ADS_1


"Mas Fatih, dia begitu sangat mencintaimu! Saat ini dia hanya sedang cemburu saja," lanjut Zahra lagi.


"Aku merasa sedang diikuti, beberapa hari ini. Ternyata ada orang yang memfoto aku dan Arman, lalu mengirimkannya kepada Mas Fatih. Sepertinya ini disengaja!" Mentari memberitahu tentang asumsinya, karena tiga kali pertemuan dengan Arman, Fatih pasti tahu. Sehingga ujung-ujungnya akan marahan.


"Benarkah itu?" tanya Aurora terkejut mendengarnya.


"Aku sudah meminta bantuan kepada Fajar untuk meminta mengecek cctv, di kawasan kantor. Apa ada orang yang mencurigakan, yang mengikuti aku beberapa hari ini," jawab Mentari sambil melihat ke arah mertuanya.


"Aku juga, minta rekaman cctv restoran ke Kak Andromeda. Karena di sana aku dan Arman juga bertemu," lanjut Mentari lagi.


*****


     Fatih wajahnya saat ini sangat muram. Tidak ada cahaya di matanya, yang biasanya bersinar penuh kebahagiaan. Senyumannya pun menghilang dari wajah tampannya itu.


    Alif yang melihat itu menjadi penasaran. Karena baru kali ini, seumur hidup Alif melihat wajah muram Fatih.


"Hm … hm … Bos, apa kita bubarkan saja rapatnya?!" tanya Alif, dengan suara rendah.


"Hm," jawab Fatih singkat.


"Baiklah rapat hari ini, kita pending ya! Sampai waktu yang tidak ditentukan!" Suara tegas Alif memenuhi ruang rapat itu.


    Saat semua orang sudah pergi, kini Alif duduk di kursi, dekat Fatih. "Coba, sekarang katakan apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Alif penasaran.


"Kita sedang rapat. Nanti saja kita bahas ini," jawab Fatih tanpa tahu kalau rapat sudah dibubarkan.


"Rapat sudah bubar dari tadi!"


"Apa!" teriak Fatih sambil melihat ke seluruh ruangan itu.


"Kenapa?!" Fatih menatap tajam ke arah Alif.


"Karena pikiranmu sedang kacau!" Alif membalas tatapan sahabatnya itu.


*******


MAAF TADI TIDAK SENGAJA KE UP,

__ADS_1


MAKLUM EFEK NGANTUK.


TERIMA KASIH UNTUK PENGERTIANNYA.


__ADS_2