
Widuri dan Jihan terdiam dengan tubuhnya yang bergetar. Saat mendengar kata-kata dari Ustadz Ahmad.
"Aku ... tidak pernah ... punya pikiran … seperti itu ... Kang! Itu … hanya Zahra ... saja yang pikirannya ... jahat," kata Widuri sambil terbata-bata.
Mendengar Widuri bicara begitu, Zahra langsung naik pitam. "Bibi … bukannya selama ini, selalu memaksa kepada aku, agar menjadikan Jihan sebagai istri ketiga Mas Fatih. Lalu Bibi juga yang sudah memasukan obat perangsang kedalam air minumnya pada malam, saat Mentari sedang pulang ke rumah orang tuanya. Karena Bibi tahu aku tidak bisa melayani kebutuhan batin Mas Fatih. Jadinya kalian memanfaatkan itu!" Zahra yang biasanya anteng, adem, ayem kalau bicara, kini suaranya meninggi emosinya meledak-ledak. Dia tidak terima dirinya difitnah seperti itu oleh Widuri.
Fatih baru melihat Zahra yang seperti ini. Dipeluknya tubuh Zahra dan diusapnya kepala istrinya itu, agar kembali tenang.
Bukan hanya Fatih yang terkejut, kedua orang tua Zahra pun sama terkejutnya. Karena biasanya Zahra kalau marah hanya merajuk saja, tidak pernah berteriak-teriak seperti tadi.
Alif dan Yuni juga ikutan kesal sama kelakuan dan ucapannya Widuri. Maka mereka berdua pun akan mengambil tindakan.
"Maaf semuanya. Karena saat ini masalahnya sedang aku hadapi. Maka saya akan melaporkan hal ini ke kantor polisi. Atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan kasus percobaan pembunuhan kepada saya." Alif berkata dengan suaranya yang agem dan tinggi.
"Apa!" Widuri langsung berdiri tegak dan Jihan terlepas dari pelukannya.
"Berani-beraninya kamu melakukan ini pada anakku!" Widuri menggebrak meja sambil matanya melotot kepada Alif.
Fatih yang mulai jengah dengan kelakuan Widuri pun langsung bereaksi.
"Bibi Widuri, itu hak Alif kalau mau melaporkan Jihan. Atas tindakan yang telah dilakukan olehnya. Karena Alif telah merasa jadi korban. Harusnya kalian berpikir dulu sebelum bertindak!" Fatih yang biasanya selalu sopan kepada yang lebih tua, kini dengan beraninya berteriak bahkan di depan mertuanya.
"Nak Fatih tolong jangan biarkan masalah ini sampai ke polisi," kata Mirna, ibunya Zahra yang sejak tadi diam saja memperhatikan.
"Maaf ibu, masalah sekarang bukan dengan Fatih, tapi dengan Alif. Dulu ibu meminta aku untuk memaafkan kelakuan mereka, aku menurutinya karena rasa hormatku kepada ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Zahra. Sekarang urusannya sudah berbeda," jawab Fatih sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Fatih barusan, akhirnya Mirna meminta kepada Alif untuk memaafkan Jihan. Serta tidak perlu melaporkannya kepada polisi. Namun Alif kekeh akan melaporkannya, apalagi melihat kelakuan ibu dan anak yang seperti itu. Membuatnya tidak simpati.
Tak lama kemudian datanglah dua orang polisi ke dalam ruangan itu. Melihat ada polisi yang masuk, membuat Widuri dan Jihan berteriak dan menangis histeris.
"Pak Alif, jadi mana pelaku yang sudah melakukan perbuatan jahat itu?!" Kata polisi yang sudah berumur paruh baya begitu mereka berdiri berhadapan.
__ADS_1
"Itu orangnya, Pak!" tunjuk Alif kepada Jihan yang kini berpelukan dengan Widuri sambil berteriak-teriak histeris tidak mau di bawa ke kantor polisi.
"Saudari Jihan atas perlakuan tidak menyenangkan dan percobaan pembunuhan kepada Bapak Alif. Anda akan ditahan, sampai kasusnya selesai disidangkan.
"Tidak mau! Aku tidak mau di penjara!" teriak Jihan histeris.
Polisi itu langsung memegang kedua tangan Jihan, agar terlepas dari Widuri. Kedua orang itu sama-sama berteriak. Fatih dan Alif sangat tidak suka kegaduhan ini.
"Nak Fatih, jangan biarkan mereka berdua membawa Jihan!" teriak Mirna, yang sekarang ikutan mencoba melepaskan Jihan dari tangan polisi yang hendak membawa bersamanya.
Ustadz Ahmad menarik tubuh istrinya. Kemudian menasehati istrinya itu. "Biarkan Jihan dibawa oleh para polisi itu. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah mencari caranya, bagaimana supaya Jihan bisa bebas," kata Ustadz Ahmad.
Mendengar ucapan suaminya itu, akhirnya Mirna melepaskan tangannya. Kini dia beralih kepada Fatih, dan meminta menyediakan pengacara untuk membebaskan Jihan.
"Nak Fatih, ibu minta supaya pengacara keluarga Hakim dapat membebaskan Jihan. Ayo telepon mereka sekarang!" Mirna memaksa Fatih untuk menyewakan pengacara keluarganya.
Zahra terlihat sangat kesal, sama kelakuan ibunya yang masih saja membela Jihan. Sudah jelas-jelas dia bersalah. Masih saja dibela, makanya dia nggak akan ngerti-ngerti meski berulang kali melakukannya.
"Bibi mohon bebaskan Jihan!" sambil berderai air mata, Widuri meminta Fatih untuk membebaskannya.
"Maaf Bibi, yang melaporkan Jihan ke polisi itu bukan aku. Melainkan Alif yang sudah jadi korban kejahatan kalian. Apabila sudah terbukti Jihan bersalah, maka Bibi juga, siap-siap saja akan ada panggilan ke pengadilan." Fatih menjauhkan kakinya dari Widuri yang terus saja di peluknya.
Akhirnya Jihan dibawa ke kantor polisi dengan paksa. Kejadian itu membuat heboh karyawan di sana. Karena tidak pernah ada polisi yang masuk ke dalam kantor. Kini mereka datang dan membawa karyawan magang yang baru dua hari kerja.
Desas-desus pun terjadi di kantor Fatih. Fatih yang tidak suka ada gosip di kantornya. Meminta bagian humas untuk memberitahu kebenarannya. Sehingga tidak ada lagi gosip yang tersebar.
******
Ibu Zahra terus saja menelepon Fatih, agar dikirimnya pengacara untuk membebaskan Jihan. Dia melakukannya tanpa sepengetahuan Ustadz Ahmad. Karena suaminya itu tidak setuju kalau Mirna selalu ikut campur urusan anak dan menantunya. Namun hasutan Widuri lebih di dengar oleh Mirna daripada ucapan suaminya itu.
Fatih yang kesal dengan tindakan yang sering dilakukan oleh ibu mertuanya itu. Sampai-sampai tidak mau lagi menerima panggilan teleponnya. Mau memblokir dia nggak enak, bagaimanapun juga dia ibu dari istrinya. Bila tidak ditanggapi, dia terus saja meneror dengan panggilan-panggilan teleponnya, yang tidak kenal waktu.
__ADS_1
"Fatih, kenapa wajahmu terlihat sangat kesal?" tanya Aurora saat melihat Fatih melemparkan handphone-nya ke sofa dengan kesal. Karena Aurora tidak pernah melihat Fatih dengan kelakuan seperti ini.
Kemudian Fatih pun menceritakan kejadian hari kemarin yang terjadi di kantornya. Terus ibu mertuanya yang terus menelpon dirinya yang tak mengenal waktu. Untung saja semalam dia tidur dengan Zahra. Jadi dia dan dirinya yang terganggu dengan tidurnya akibat suara deringan telepon dari Mirna.
Saat Fatih dan Aurora membicarakan ini. Telepon genggam milik Fatih berdering kembali. Kali ini Aurora yang mengangkatnya.
"A--"
"Fatih bagaiamana? Apa sudah ada pengacara yang akan membebaskan Jihan!" Suara Mirna langsung memotong salam Aurora.
"Seharusnya lakukan salam dulu, Ibu Mirna. Kalau lagi menghubungi seseorang. Agar pembicaraan kita ada manfaat dan maknanya. Serta jauh dari perkataan yang sia-sia. Assalamu'alaikum," kata Aurora sambil meninggikan salamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mirna dengan jantung berdebar kencang dan mukanya yang sangat merah karena malu sama Aurora.
"Ada apa dari kemarin sore sampai sekarang terus menelepon anakku?!" tanya Aurora dengan nada suaranya yang datar.
"Eh ... itu, apa ada Nak Fatih? saya ingin bicara dengannya," tanya Mirna dengan gugup.
"Fatih ada, tapi sekarang di lagi pusing karena waktu tidurnya terganggu semalam karena kelakuan anda yang terus saja meneleponnya," jawab Aurora langsung tanpa basa-basi.
"Oh begitu ... maaf sudah mengganggu," Mirna langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam. Itu jelas membuat Aurora marah karena merasa tidak dihomatinya.
"Apa-apaan kelakuan dia. Begitu telepon di angkat dia langsung nyerocos tanpa mengucapkan salam. Saat menutup panggilannya pun seenak jidat dia, main tutup aja tanpa mengucapkan salam. Tidak punya adab sekali!" Aurora melampiaskan rasa kekesalannya. Tidak peduli ada Zahra yang duduk di samping Fatih dan berseberangan dengannya.
Zahra yang merasa tidak enak dengan kelakuan ibunya, hanya menundukan kepalannya saja. Karena dia malu dan hatinya agak tergores. Walau bagaimanapun dia tetap ibunya yang sudah melahirkannya dan membesarkannya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.