Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (20)


__ADS_3

     Mentari merasakan perutnya sakit, karena kedua bayi di dalam kandungannya terus bergerak aktif. Seolah mereka berdua sedang bermain saling sikut dan tendang. Mentari hanya bisa meringis, sambil mengusap-usap perutnya.


     Jam sudah menunjukan tengah malam, tetapi Mentari tidak bisa memejamkan matanya. Sudah berbagai posisi, dia coba agar bisa terasa nyaman dan bisa langsung tidur. Namun, lagi-lagi si kembar bergerak aktif. Membuat Mentari sering meringis, menahan rasa sakit dan ngilu.


"Sayang, sudah mainnya, ya! Kita bobo, yuk!" kata Mentari sambil mengusap-usap perutnya.


     Akhirnya si kembar mau juga diam, mungkin sudah lelah bermain. Baru juga bisa merasakan kenyamanan dalam tidurnya. Mentari harus merasakan sakit di bagian punggungnya. Dia merasa panas dan pegal, ingin diusap-usap rasanya. Maka, Mentari mencoba mengusap punggungnya memakai minyak telon.


     Saat kehamilannya dulu, selalu ada William disisinya. Jadi, saat merasa pegal, dengan sigap William akan memijat atau mengusap-usap sampai dia tertidur. 


     Apalagi kini dia hamil kembar, jadi ukuran perutnya juga jauh lebih besar. Sehingga membuat Mentari kesulitan kalau mau memijat kakinya atau menggosok punggungnya.


     Mentari baru bisa tidur nyenyak saat menjelang dini hari. Jadi, dia tidur cuma sebentar.


******


     Acara sarapan di rumah Khalid semakin ramai ditambah adanya Bagaskara dan Billi yang ikut gabung makan bersama. Pagi itu semua orang dalam keadaan sangat baik. Jadi, mereka membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Begitu juga dengan Zahra, dia jauh terlihat semangat dan senyumnya terus terukir di wajahnya yang pucat.


     Mentari juga begitu, meski kadang terlihat menahan ngantuk karena kurangnya jam tidur. Sinar beberapa kali mengusap punggung putrinya itu. Itu malah membuat Mentari nyaman dan ingin membaringkan tubuhnya.


     "Bun, nanti ke kamar, ya! Kakak ingin punggung dielus seperti barusan," kata Mentari sambil tertawa pelan dan diangguki oleh Sinar.


     Rupanya apa yang dikatakan oleh Mentari kepada Sinar terdengar oleh Fatih yang duduk disampingnya. Fatih merasa cemburu, kenapa Mentari tidak meminta kepadanya. Malah minta sama bundanya.


     Sehabis sarapan, Fatih tidak langsung berangkat ke kantor malah masuk ke ruang kerja Khalid. Hal itu membuat Mentari dan Zahra merasa aneh. Padahal kedua istrinya sudah siap akan mengantarkan sampai depan rumah.


"Mas, kok belum berangkat?" tanya Zahra begitu Fatih ke luar dari ruangan itu.


"Sepertinya aku akan berangkat agak siangan ada hal penting yang harus diurus terlebih dahulu," jawab Fatih.


     Zahra merasa sangat senang karena akan ada waktu baginya untuk bisa lebih lama dengan Fatih. Sebaliknya, Mentari sudah tidak kuat ingin membaringkan tubuh dan diusap-usap punggungnya. Kalau urusan yang Fatih bilang ada hubungan dengan dirinya, maka bisa dipastikan dia tidak akan bisa tidur.

__ADS_1


"Kalian kembalilah," kata Fatih.


     Zahra pun kembali ke kamarnya yang ada di lantai atas, di ikuti oleh Bagaskara. Padahal dia ingin menghabiskan sedikit waktunya dengan Fatih. Sementara, Mentari menuju kamarnya yang ada di lantai satu, yang di kawal oleh Billi.


     Sinar pun mengikuti Mentari, pergi ke kamar tidur. Sesuai keinginan sang anak yang minta diusap-usap punggungnya. Billi duduk di kursi yang dekat dengan pintu kamar. Kalau ada apa-apa dia bisa langsung menghampiri majikannya.


"Bun, sambil tidur juga!" ajak Mentari kepada Sinar agar ikut berbaring di atas kasurnya.


"Tidak, ah. Nanti malah ikut tidur." Tolak Sinar akan ajakan Mentari.


"Apa kakak sering tidak bisa tidur kalau malam hari?" tanya Sinar sambil memulai mengusap punggung Mentari.


"Tidak juga. Biasanya si kembar kalau lagi aktif, kakak jadi terjaga. Tapi cukup dielus perutnya, mereka akan diam lagi. Tetapi, semalam mereka tidak mau diam. Perut terasa bergejolak oleh gerakan mereka," jawab Mentari sambil menikmati usapan ibunya.


"Apa terasa sakit saat si kembar bergerak lincah?"


"Ya, sedikit. Ngilu dan agak perih. Tapi yang paling tidak nyaman adalah punggung terasa panas dan pegal. Eh, dulu juga pas lagi hamil Liam, emang pegal juga sih. Paling suka saat punggung diusap-usap oleh Oppa. Setelah itu baru bisa tidur. Mungkin karena perut sudah besar, ya Bun." Mentari menjawab tanpa tahu kalau ada Fatih sedang berdiri di belakang mereka.


"Mas ...." Mentari bisa menangkap tatapan sedih atau terluka dari mata suaminya.


     Sinar pun ikut membalikan tubuhnya. Dia melihat menantu itu menatap ke arah Mentari. Maka dengan sigap, Sinar memilih keluar kamar.


     Mentari menatap Fatih yang masih berdiri di dekat ranjang mereka. Dia yakin kalau suaminya itu tadi mendengar sesuatu yang membuat dia tidak suka. Mentari bisa menebak apa yang bisa membuat Fatih berekspresi seperti itu.


"Maaf," gumam Fatih.


"Tidak Ma--" Perkataan Mentari dipotong.


"Aku belum bisa menjadi suami yang selalu mengerti keadaan kamu." Lanjut Fatih, dengan nada suara yang penuh penyesalan.


    Mentari langsung berdiri di depan Fatih. Kemudian dipeluknya tubuh yang selalu membuat dia nyaman. Melihat keadaan Fatih sekarang. Malah membuat Mentari merasa bersalah. Dia sama sekali tidak ada niat membandingkan Fatih dengan William. Hanya saja dia mengingat kembali akan kejadian yang telah lama berlalu.

__ADS_1


"Aku yang harusnya, meminta maaf kepadamu, Mas. Kalau perkataanku menyinggung perasaanmu. Padahal kamu sudah melakukan sebaik mungkin apa yang, Mas bisa. Aku tahu itu. Mas selalu mengerti apa yang aku mau dan melakukannya dengan baik. Tidak ada niatan dalam diriku untuk membandingkan dirimu dengan siapa pun!" Mentari memeluk tubuh Fatih sangat erat dan menumpahkan perasaan dia karena sudah menyinggung perasaan suaminya.


     Mentari tahu kalau suaminya selalu memikirkan apa yang terbaik bagi istri dan anak yang masih ada di dalam kandungan. Belum lagi pikiran dan tubuhnya harus mengurus Zahra yang sakit. Juga perusahaan yang semakin berkembang pesat. Mentari tidak mau menambah beban pikiran Fatih.


"Bagiku, Fatih adalah laki-laki terhebat! Terkeren! Terbaik! Tertampan! Tercinta pokoknya nomer satu di dunia!" Mentari mencoba merayu Fatih agar merasa menjadi orang yang paling berarti dalam hidupnya.


     Fatih tersenyum senang saat mendengar perkataan Mentari barusan. Dia sangat senang saat melihat Mentari bersikap seperti ini.


    Fatih pun menguraikan pelukannya. Dihapusnya air mata di pipi chubby Mentari. Dikecupnya kedua mata Mentari yang memerah.


"Coba katakan lagi yang barusan!" Pintanya dan dituruti oleh Mentari. Setiap kata pujian ditunjukan untuk suaminya. Mentari mendapatkan satu kecupan dari Fatih.


    Akhirnya, Mentari berbaring sambil diusap-usap punggungnya oleh Fatih, sampai tertidur. Sebenarnya, Fatih juga ingin ikut tidur dengan Mentari. Kalau saja James tidak meneleponnya.


******


Apa yang akan dibicarakan Fatih dan James?


Bagaimana dengan persiapan Zahra yang akan melakukan kemoterapi?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


     

__ADS_1


__ADS_2