Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (36)


__ADS_3

    Tim keamanan keluarga Hakim, akhirnya meminta rekaman cctv kepada Kepala Toko. Akhirnya mereka pun sama-sama mencari wanita paruh baya yang sudah menyuruh untuk menusuk perut Mentari.


    Baru lima menit mereka memeriksa rekaman cctv, di layar terlihat seorang wanita paruh baya yang belanja sangat banyak. Para penyusup pun langsung bereaksi.


"Ini Pak, orangnya!" tunjuk mereka berdua kompak.


"Yakin, dia orang yang sudah menyuruh kalian?" tanya salah seorang anggota Tim keamanan.


"Sumpah! Beneran Pak, buat apa kami berbohong," jawab kedua orang itu kompak.


"Oh, ibu ini! Dia ... bu Widuri, langganan toko kami," kata Kepala Toko itu ikut mengomentari .


"Bapak kenal dengan ibu ini?" tanya anggota tim keamanan sambil melihat ke arahnya.


"Iya, dia biasanya belanja tiap hari atau dua hari sekali. Tergantung anaknya, tapi belakangan ini dia tidak pernah ikut lagi belanja bersama ini bu Widuri." Kepala Toko itu tidak tahu kalau Jihan sudah ditahan di polisi.


"Jadi nama ibu ini adalah Widuri. Apa dia tinggal di sekitar sini?" tanya anggota tim keamanan yang lainnya.


"Iya, rumahnya di komplek ujung jalan ini," jawab si Kepala Toko dengan yakin.


    Kemudian tim keamanan pun ke luar dari ruang kantor minimarket. Saat itu bersamaan dengan Widuri masuk ke minimarket untuk belanja di sana. Tim keamanan yang melihatnya langsung menghampiri Widuri yang sedang memilih mie instan yang berada di rak pajangan.


"Bu Widuri, bisakah anda ikut dengan kami?!" pinta tim keamanan saat mereka berhadapan dengan Widuri.


     Widuri yang terkejut dengan kedatangan tiba-tiba seorang pria berseragam. Langsung mencoba kabur, darinya. Namun orang tadi berhasil mengejarnya saat akan membuka pintu kaca yang lumayan berat itu.


"Lepaskan saya! Saya tidak punya salah apa-apa!" teriak Widuri sambil mencoba melepaskan diri cengkraman pria berseragam tadi.


"Kalau ibu merasa tidak punya salah, kenapa lari?!" tanya pria berseragam itu.


"Pokoknya aku mau pulang! Lepaskan!" teriak Widuri sambil memukul badan anggota tim keamanan keluarga Hakim itu.


    Kejadian itu membuat rasa penasaran dari para pengunjung minimarket itu. Banyak orang-orang berkerumun di dekat pintu keluar masuk. Ingin melihat apa yang sedang terjadi. Apalagi melihat Widuri berteriak sambil menangis.

__ADS_1


"Bawa dia saja ke markas, sekarang!" perintah salah seorang dari rekan timnya itu.


    Maka dia pun menyeret tubuh gempal Widuri, agar ikut dengannya. Widuri masih dengan tangisan histeris dan teriakannya, saat digiring ke dalam mobil. Para penyusup juga ikut dimasukkan dalam satu mobil dengannya.


"Bapak-bapak … Ibu-ibu … maaf atas kejadian barusan. Ibu tadi, merupakan seorang penjahat yang berniat membunuh seorang ibu hamil. Agar nanti suaminya bisa dinikahkan sama anaknya." Kepala Toko membubarkan kerumunan orang-orang di sana. Maka para warga pun membubarkan diri dengan berbisik-bisik membicarakan masalah barusan.


*****


     Fatih dan Mentari di minta oleh Aurora untuk tinggal di rumahnya. Sejak semalam mereka sudah tinggal di rumah Khalid. Agar keamanan mereka lebih terjamin.


"Pah, aku merasa curiga ada yang menyabotase cctv dan alarm di rumah Fatih!" Fatih menemui Khalid saat makan siang di kantornya.


"Maksud kamu?!" tanya Khalid dengan nada terkejut.


"Tadi Fatih cek semua cctv yang ada di rumah, yang langsung terhubung dengan monitor utama tim keamanan keluarga Hakim. Di sana tidak terlihat adanya penyusup masuk ke dalam rumah,"


"Semalam juga alarm, tidak berbunyi saat ada orang asing masuk ke dalam pintu rumah," 


    Khalid mendengarkan cerita Fatih dengan seksama. Kemudian dia menghubungi markas tim keamanan keluarga Hakim. Untuk memastikan, ada tidaknya orang yang sudah membobol sistem keamanan di rumah Fatih.


"Apa ada orang yang bisa kamu di curigai?" tanya Khalid sambil melihat ke arah anaknya.


"Ya. Hanya saja, Fatih harap bukan dia orangnya!"


"Mentari merasa belakangan ini, selalu ada yang mengawasinya. Fatih juga sedang menyelidiki orang yang sudah mengirimkan foto-foto Mentari dengan Arman. Sehingga Fatih cemburu padanya," aku Fatih kepada Khalid.


"Apakah mereka itu orang yang sama?" tanya Khalid penasaran.


"Tadinya Fatih tidak berpikir ke arah situ. Hanya saja, saat mengecek rekaman cctv tadi. Jadi punya pikiran kalau orang itu yang sudah membobol sistem keamanan rumah Fatih," jawab Fatih dengan wajah cemasnya.


"Kamu belum apa-apa sudah begitu!" Khalid terkekeh melihat ekspresi wajah Fatih yang terlihat sangat jelas.


"Jujur Fatih takut kalau dia akan membawa Mentari lagi," kata Fatih dengan nada yang lirih.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Sekarang Mentari sudah menjadi milikmu. Dia sudah tidak punya hak apa-apa lagi. Mentari juga sudah mencintaimu, dia tidak akan berpaling kepadanya lagi," Khalid mencoba menyemangati putra sulungnya itu.


"Ya, Fatih percaya itu. Hanya saja semalam Mentari menyebut nama dia dalam tidurnya. Selama menikah dengannya, baru semalam Fatih mendengar Mentari memanggil namanya lagi." Fatih menceritakan ke resahan dalam dirinya ke papanya itu.


"Apapun yang terjadi nanti percayalah kalau kalian tidak akan berpisah," Khalid mengingatkan Fatih agar jangan sampai melepaskan Mentari.


"Fatih tidak mau berpisah dengan Mentari. Apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan Mentari," kata Fatih dengan penuh keyakinannya.


"Ya, Papa juga berharap kalian akan selalu bersama sampai maut memisahkan kalian," Khalid menepuk-nepuk tangan Fatih sebagai tanda dukungannya.


"Lalu Zahra, apa dia masih di rumah adiknya?" tanya Khalid setelah meminum jus alpukat miliknya.


"Iya, nanti Fatih akan jemput setelah pulang dari kantor. Sebenarnya Fatih tidak mengizinkan dia menginap semalam. Namun ibu memaksa agar Zahra diizinkan untuk menginap di rumah adiknya." Fatih mencurahkan isi hatinya yang selalu saja sering bertentangan dengan ibu mertuanya itu. Berbeda dengan Abah, dia selalu sepemikiran dengannya.


"Kasihan Zahra … biarkan sekali-kali dia menginap di rumah saudaranya," kata Khalid sambil tersenyum.


"Zahra sedang masa pengobatan Pah, dia harus banyak istirahat, makanan yang terjamin nilai kandungan gizinya, obatnya jangan sampai di minum. Kalau di rumah, Fatih dan Mentari selalu bisa mengawasi Zahra. Minum obat juga Zahra selalu diingatkan, karena dia tidak suka minum obat, jadinya sering melupakannya." Fatih menghirup udara, kemudian menghembuskannya perlahan.


******


Mentari duduk di sofa dekat jendela kamarnya. Dia melihat ke arah taman depan milik Mama mertuanya itu, yang banyak di taman berbagai jenis bunga. Melihat bunga-bunga itu mengingatkannya kembali kepada mimpinya semalam dimana dia sedang bermain dengan putra tersayangnya. Kemudian datang William dan merebut paksa anaknya dari gendongan dia. Walau dia sudah berteriak memanggil-manggil namanya, William tetap pergi membawa putra mereka. Mentari yang menangis meraung-raung dalam mimpinya, terbangun oleh panggilan Fatih, yang mencoba menyadarkannya.


******


TEMAN-TEMAN, AKHIRNYA AKU BISA UP JUGA HARI INI. MUDAH-MUDAHAN NANTI MALAM BISA UP LAGI.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2