Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (37)


__ADS_3

    Sementara Widuri di bawa ke markas Tim Keamanan Keluarga Hakim. Dia diinterogasi oleh kepala tim keamanan.


"Ibu Widuri, apa anda yang sudah menyuruh mereka berdua untuk membunuh nyonya Mentari?" tanya laki-laki bertubuh tinggi tegap di hadapan Widuri.


"Siapa, mereka?" tanya Widuri dengan memasang wajahnya yang judes, pura-pura tidak tahu kepada dua orang laki-laki yang duduk tak jauh darinya.


"Tapi mereka mengenal anda!" suara kepala tim yang tegas dan tatapan matanya membuat Widuri gemetaran.


"Saya tidak tahu sama mereka! Bila mereka tahu siapa saya. Itu karena saya orang terkenal!" bantah Widuri dan malah menyombongkan dirinya, sebagai orang terkenal.


"Oh, jadi anda ini orang terkenalnya?" tanya tim kepala sambil matanya melotot ke arah Widuri.


    Widuri merasa sudah panas dingin dilihat seperti itu oleh laki-laki tampan dan gagah. Berbeda jauh dengan suaminya. Dia sudah berkurang karismanya, apalagi suaminya kerja di luar negeri.


"Iya, Mas… kalau boleh tahu. Mas siapa namanya?" tanya Widuri dengan tatapan terpesonanya kepada kepala tim yang masih terlihat muda di usianya yang baru menginjak kepala empat itu.


    Kepala tim, malah bengong mendengar jawaban dari Widuri barusan. Dia terkejut sekaligus kesal pada Widuri. Ditanya masalah penusukan, malah mengalihkan kepada minta kenalan padanya.


"Maaf Nyonya Widuri, saya tidak akan memberi tahu nama kepada orang yang tidak penting bagiku," jawab Kepala Tim dengan nada bicara yang dingin.


"Tapi aku bisa membaca nama yang ada di bajumu, Mas!" kata Widuri sambil tersenyum senang. Matanya juga memancarkan rasa cinta yang menggelora.


    Kepala Tim langsung melihat ke arah name tag miliknya. Kemudian kembali menatap Widuri, dengan tatapan matanya yang tajam.


"Bagaskara … nama yang bagus, sebagus wajahnya yang rupawan," kata Widuri sambil tersenyum manis, malu-malu kepada Kepala Tim.


    Bagaskara merasa jengah dengan kelakuan Widuri, yang sejak tadi mencoba mengalihkan perhatiannya. Kemudian di gebraknya meja di depan, yang memisahkan dirinya dengan Widuri. Dengan begitu keras, dan membuat semua orang di sana terkejut.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim, Mas. Aku jadinya kaget!" kata Widuri sambil mengelus dadanya.


"Aku harap anda serius menjawab semua pertanyaanku!" Bagaskara mulai marah dengan meninggikan suaranya.


"Iya. Tadi saya sudah bilang. Kalau tidak mengenal mereka berdua," kata Widuri lagi dengan nada suara yang bergetar karena takut melihat kemarahan Bagaskara.


"Anda masih saja mau berkelit? Jawab dengan jujur sebelum saya memberi hukuman kepada anda!" Bagaskara menatap tajam ke arah Widuri dengan aura intimidasi yang kuat. Sehingga Widuri bergetar kedua kakinya.


"Apa Mas punya bukti kalau aku mengenal mereka?" tanya Widuri balik sambil memasang wajahnya yang galak.


"Apa saya perlu keluarkan buktinya?!" balas Bagaskara tidak mau kalah sama emak-emak model Widuri.


"Coba saya ingin lihat buktinya. Kalau saya mengenal mereka berdua!" tantang Widuri sambil nyolot kepada Bagaskara.


     Kemudian dua orang anggota tim keamanan datang membawa sebuah televisi layar datar yang berukuran lumayan besar. Komplit beserta segala perangkat video. Kemudian salah seorang dari mereka menyalakan televisi itu. Dilihatnya kamera CCTV yang berada di dekat terminal menangkap sosok Widuri yang menghampiri dua penyusup itu. Lalu mengeluarkan sebuah foto, sambil berbicara, kemudian memberikan sebuah amplop. Si penyusup itu mengeluarkan isi amplopnya yang berisi uang. Mereka bertiga pun salaman sebagai tanda jadi.


    Widuri melihat rekaman dirinya di video itu. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak bisa berbicara sedikit pun. Matanya kini mengarah kepada kedua laki-laki suruhannya. Dia ingin memaki mereka, karena kebodohannya, tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.


    Dalam hatinya, Widuri mengutuk keluarga keponakannya. Agar mereka selalu mendapat kesulitan dan hidup sengsara selama nyawa masih dikandung badan.


    Tadinya dia berniat menjadikan Fatih sebagai menantunya. Karena iri dengan Mirna. Zahra punya seorang suami yang kaya raya hartanya nggak akan ada habis-habisnya. Wajahnya juga tampan, dan baik akhlaknya. Sayang dan menghormati sama mertuanya. Aisyah, adik Zahra juga mempunyai suami yang kaya raya, walau tak sekaya Fatih. Dia juga sama tampan dan baik orangnya.


    Sehingga Widuri sangat iri kepada Mirna. Apalagi saat tahu Zahra meminta Fatih untuk menikah lagi. Widuri sudah ingin menyuruh Jihan sebagai calon istri baru Fatih. Namun nyatanya, Zahra malah meminta Mentari sebagai madunya.


"Lalu mau kamu apa!" Widuri yang sudah merasa terpojok, kini balas membentak Bagaskara.


"Aku mau, anda di penjara!" Bagaskara menyeringai kepada Widuri.

__ADS_1


    Melihat Bagaskara seperti itu membuat Widuri semakin ketakutan. Dia menelan salivanya, karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. Kepalanya sangat terasa berat dan pusing.


"Kalau anda sampai pingsan di sini. Maka saat anda sadar, sudah ada di pulau tak berpenghuni." Bagaskara semakin bersemangat menekan Widuri. Sehingga mau tak mau Widuri harus sadar, jangan sampai pingsan.


******


     Fatih menjemput Zahra di rumah adiknya. Dia tidak lama-lama di sana, karena ingin cepat-cepat pulang. Dia sudah sangat rindu ingin bertemu dengan Mentari. Dalam perjalanan pulang Fatih dan Zahra membicarakan kejadian semalam. Zahra sangat terkejut, begitu Fatih selesai menceritakan semuanya.


"Lalu sekarang ... bi Widuri, berada di mana?" tanya Zahra penasaran.


"Tadi pak Bagaskara, membawanya ke kantor polisi. Menyerahkannya, dengan tuduhan kasus percobaan pembunuhan terhadap ibu dan bayi dalam kandungannya." Fatih yang masih saja geram saat mengingat lagi kelakuan bibi istri pertamanya itu.


"Kalau begitu, sungguh kasihan Paman. Anak dan istrinya, kini masuk penjara. Padahal dia banting tulang di negeri orang, demi menafkahi anak dan istrinya, yang banyak kemauannya itu." Zahra mulai merasa terenyuh hatinya bila mengingat perjuangan pamannya demi kebahagiaan anak dan istrinya.


"Itu resiko sendiri. Kenapa mereka melakukan perbuatan melanggar hukum. Jadi terima saja akibatnya!" Fatih merasa puas tidak puas atas di penjaranya Jihan dan Widuri. Kalau bisa mereka berdua diberi hukuman yang sangat berat.


     Saat lampu merah, Fatih memalingkan wajahnya ke arah kanan bahu jalan. Tanpa sengaja dia melihat sosok pria bule yang sungguh sangat familiar. Rambut pirang, iris mata biru langit, bertubuh tinggi tegap, dan jajanan makanan di pinggir jalan. 


    Jantung Fatih bergemuruh kencang, saat melihat sosok yang paling tidak mau lagi di lihat dalam hidupnya. Saat hendak mastikannya, suara klakson dari kendaraan yang antri di belakang mobil miliknya, mengganggu konsentrasi dia.


"Mas jalan!" Zahra sudah beberapa kali menepuk-nepuk lengan suaminya itu.


    Fatih pun dengan cepat melajukan mobilnya, agar bisa cepat sampai ke rumahnya. Ingin melihat istri mudanya, apa masih ada di rumah orang tuanya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2