
"Anak kamu, telah menceraikan Mentari. Dia tidak mengizinkan Liam dibawa olehnya," kata Edward begitu melihat ibu tirinya.
"Willi, katakan kalau itu tidak benar?!" Jennifer berkata dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisannya.
"Itu benar, Mom."
"Kau ... brengsek, Willi!" Jennifer marah dan melemparkan tas tangan dalam genggamannya ke arah muka William.
"Ed, bawa saja Liam, bersamamu! Berikan dia kepada Mentari. Aku tidak mau cucuku di asuh oleh laki-laki brengsek ini!" teriak Jennifer.
Edward pun berjalan hendak menaiki anak tangga. Namun, William berhasil menarik tubuh kakek tua itu. Sehingga terjatuh dan kepalanya membentur ujung nakas yang ada di samping tangga.
"Edward!" pekik Jennifer.
"Kakek!" Disaat bersamaan Fatih masuk ke mansion William, datang mau menjemput kakeknya.
Fatih yang baru sampai ke Amerika, untuk melakukan pengecekan pada perusahaannya. Saat masuk ke dalam mansion kakeknya, ada Mentari sedang duduk di sofa sambil menangis. Kemudian Mentari menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Fatih pun mendatangi mansion kakek Willi.
Fatih berlari menghampiri tubuh kakeknya--Edward--yang sudah tidak sadarkan diri. Maka dengan cepat dia membawa Edward ke rumah sakit.
Kondisi Edward, sangat memprihatinkan. Dia mengalami koma. Fatih menghubungi orang tuanya, dan juga Uncle Jonathan yang tinggal di Italia.
Kondisi Edward semakin memburuk. Pembuluh darah di otaknya pecah. Kemungkinan bisa hidup sudah sangat mustahil. Fatih benar-benar sangat marah kepada William.
__ADS_1
******
Ditemuinya William di perusahaan Green. Fatih ingin melampiaskan amarahnya kepada kakek mudanya itu. Pertemuan antara Fatih dan William, malah terjadi baku hantam.
Fatih yang diselimuti amarah benar-benar menghajar William. Pukulan dan tendangan dia layangkan kepada William. Fatih menghajar William tanpa ampun. Tidak peduli bagaimana kedepannya hubungan mereka, yang penting sekarang dia melampiaskan amarah dan kekesalannya kepada kakek mudanya itu.
Fatih mengalami robekan di ujung bibir dan memar di dekat mata serta tulang pipinya. Sementara, William mengalami robekan di kedua ujung bibirnya. Tulang hidung dan beberapa rusuknya juga patah. Kedua mata William sulit dibuka karena dua tonjokan dari kepalan Fatih sukses mendarat di sana. Hidungnya pun terus mengeluarkan darah.
Merasa terdesak William mengeluarkan pistolnya. Dia hendak menembak kaki atau tangan, Fatih. Namun, dengan gesit Fatih bisa menghindar dari tembakan yang di lancarkan kepadanya. Justru Fatih bisa merebut pistol William dan menembakan dua pelurunya ke arah paha dan bahu.
Fatih benar-benar tidak memberi ampun kepada William. Saat pistol di arahkan ke kepala William, Alex datang dan menghentikan mereka berdua.
******
Semua keluarga Edward Green, berduka atas meninggalnya sosok laki-laki baik hati. Mereka menyalahkan William atas kematian Edward. Sehingga timbul rasa sangat benci kepada William. Mulai sejak hari itu, mereka semua memutuskan segala hubungannya dengan William.
******
Liam yang terus mencari mommy-nya, menangis tiap waktu. Dia mengalami demam yang tinggi. Jennifer meminta kepada tim keamanan mansion, untuk mengizinkan Mentari masuk ke rumahnya. Namun, mereka tidak bisa karena sudah ada perintah dari William, tidak boleh memasukan orang lain ke mansion-nya. Mau siapapun itu.
Jennifer juga ikut sakit, melihat cucu kesayangannya berbaring lemah di atas kasurnya. Dia memperkerjakan dokter pribadinya dan seorang perawat, untuk menjaga Liam, selama dua puluh empat jam.
Sudah tiga hari Liam sakit, dan semakin parah. Dokter meminta untuk mendatangkan Mentari. Sebab ikatan batin ibu dan anak itu sangat kuat. Namun, William kukuh pada pendiriannya. Dia tidak mau menemukan Mentari dengan putranya.
__ADS_1
Bahkan, William sendiri dirawat di rumah. Dia tidak mau, saat dia dirawat di rumah sakit. Nanti Liam dibawa oleh orang lain dari mansionnya.
******
Mentari setiap hari duduk di balkon kamarnya, berharap bisa melihat Liam. Meski dalam jarak yang jauh. Dia menggunakan teropong jarak jauh, untuk memantau kamar Liam. Namun, tidak ada tanda-tanda putranya main keluar. Selama ini dia tinggal di mansion milik Edward. Keluarga Edward Green, masih dalam suasana berkabung. Setiap harinya Mentari menghabiskan waktu bersama Zahra. Hanya dia teman yang bisa diajak berbagi olehnya. Cantika saat ini sibuk merawat mertuanya--Arthur--yang mengalami kecelakaan.
******
Liam kondisinya semakin kritis, dan dia terus saja mengigau memanggil mommy. Sebab takut terjadi apa-apa kepada Liam, maka William membawanya ke rumah sakit. Meski kondisi tubuhnya sendiri juga masih dalam keadaan sakit. William memaksakan dirinya untuk menjaga buah hatinya.
Siang harinya, Liam tidak mampu lagi bertahan. Bocah berumur belum genap dua tahun itu, menghembuskan napas terakhirnya, dia terus memanggil mommy, dengan suaranya yang sudah sangat lemah . Sampai meninggalnya pun dia tidak bisa melihat wanita yang sangat di rindukannya, selalu menjaga dan merawatnya.
******
SPESIAL HARI INI ... AKU KASIH CRAZY UP. PANTENGIN TERUS YA. KARENA SEASON 2, AKAN TAMAT.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1