
Fatih semenjak pagi merasa gelisah, pikirannya terus berpusat ke Mentari. Bahkan pekerjaan laporan bulanan dari tiap divisi, tidak ada satu pun yang dia periksa. Untungnya hari ini ibu mertuanya tidak datang. Jadi, dia bisa lebih tenang pikiran dari ocehannya, yang sering malah memperkeruh keadaan.
"Assalamu'alaikum," salam dari laki-laki paruh baya yang selalu Fatih hormati.
"Wa'alaikumsalam," jawab Fatih dengan senang sampai senyum di wajahnya langsung terpatri. Tangan mertuanya, Fatih cium dengan takzim.
"Bagaimana keadaan Zahra sekarang?!" tanya Abah.
"Alhamdulillah, ada kemajuan meski sedikit. Tapi kata dokter itu bagus, karena mengarah ke arah kesehatan pasien," jawab Fatih.
"Alhamdulillah, pengobatan yang menyita banyak waktu, uang, dan pikiran ini, mudah-mudahan bisa memberikan hasil yang baik, sesuai dengan apa yang kita harapkan," balas Abah.
"Aamiin. Apa Abah akan menginap di sini malam ini?" tanya Fatih dengan hati penuh harap, kalau bapak mertuanya itu akan menginap di rumah sakit.
" Boleh, kebetulan besok jadwal mengajar juga siang hari," jawab Abah.
"Alhamdulillah," batin Fatih senang.
"Fatih senang Abah mau ikut menjaga Zahra. Sebenarnya, sejak pagi Fatih kepikiran terus Mentari. Takut terjadi apa-apa padanya. Meski tadi sempat video call dengannya. Mentari selalu bilang baik-baik saja karena tidak suka membuat orang lain cemas. Jadi, Fatih ingin malam ini pulang untuk menemui dan menemani Mentari."
"Pulanglah, Nak! Mentari juga istrimu yang sama harus kamu perhatikan. Biar Abah di sini yang menjaga Zahra."
"Terima kasih, Abah. Fatih merasa tertolong sekali. Kalau ada apa-apa sama Zahra, panggil dokter jaga saja. Nanti hubungi Fatih kalau ada apa-apa."
"Iya. Sudah sana kalau mau pulang. Jangan sampai kemalaman di jalan."
"Baik, Abah. Fatih berangkat dulu. Assalamu'alaikum," pamit Fatih.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan!"
******
Fatih pun dengan kecepatan maksimal melajukan mobilnya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mentari. Hampir satu Minggu dia tidak menyentuh dan memeluk istrinya itu. Rasa rindunya sudah begitu menggunung.
Fatih memasuki rumah mertuanya. Dia terkejut saat melihat semua orang berkumpul di depan kamar Mentari. Begitu juga dengan mereka yang ada di sana, terkejut dengan kedatangan Fatih.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
"Ini ... ada apa?"
__ADS_1
"Mentari mengurung diri, tidak mau membukakan pintu kamarnya," jawab Sinar.
"Kenapa bisa begitu?"
"Tidak tahu, tadi Magrib masih baik-baik saja. Tapi setelah isya, Mentari tidak keluar kamar." Ja'far mengingat apa yang tadi terjadi.
"Kalau begitu biar Fatih yang coba membujuknya," kata Fatih.
Fatih pun mengetuk pintu kamar Mentari. Setelah membujuknya beberapa kali, akhirnya pintu kamar pun di buka. Semua orang pun merasa lega. Hanya Fatih yang masuk ke kamar Mentari.
Wajah Mentari kelihatan bengkak karena kebanyakan menangis, dia memeluk tubuh Fatih dengan sangat erat, walau terganjal dengan perutnya yang besar. Fatih pun mengusap kepala Mentari, penuh dengan rasa sayang.
"Ada apa? Kenapa mengurung diri di kamar?" tanya Fatih dengan berbisik.
"Aku merasa sakit," jawab Mentari dan itu membuat Fatih terkejut.
"Sakit apa? Mana yang sakit? Ayo kita ke dokter?" Bertubi-tubi pertanyaan dari Fatih yang panik, dan mengurai pelukannya dengan Mentari, kemudian memeriksa tubuh istrinya.
"Di sini yang sakit," jawab Mentari sambil menunjukan bagian dadanya.
"Kalau begitu, ayo! Kita pergi ke dokter! Eh, ke UGD biar cepat ditangani," ajak Fatih yang masih cemas dengan kondisi kesehatan Mentari.
"Bukan sakit yang bisa diobati oleh dokter," kata Mentari dan malah membuat Fatih semakin ketakutan.
"My Honey, memangnya kamu sakit apa? Kenapa dokter tidak bisa mengobati? Apa kamu sakit penyakit langka?" Fatih masih saja bertanya secara terus menerus dengan wajah yang terlihat sangat cemas dan panik. Tidak bertemu hampir seminggu dengan istrinya, keadaannya malah membuatnya khawatir.
"Mas, sakit aku itu bukan penyakit. Jadi, tidak perlu dokter. Aku hanya perlu kamu!" jawab Mentari dengan gemas sama tingkah suaminya.
Fatih terkejut saat mendengar perkataan Mentari. Fatih kini memahami maksud dari perkataan Mentari.
"Maaf, hampir satu Minggu ini aku tidak pernah mendatangimu." Fatih berbicara dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak mempermasalahkan itu karena Mas, juga sedang membantu proses penyembuhan Zahra. Aku hanya takut membayangkan kalau suatu saat nanti, Mas dan aku akan berpisah. Apa--" ucapan Mentari terpotong oleh ciuman Fatih.
"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi! Sudah aku bilang dari dulu, kalau aku tidak akan pernah melepaskan kamu!" Fatih mengingatkan Mentari akan perasaannya.
"Dengarkan ... Mentari Khairunisa Mochtar bin Ja'far Abdul Mochtar, Aku ... Al Fatih Green Hakim bin Khalid Maulana Hakim, berjanji tidak akan pernah melepaskan kamu seumur hidupku! Aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu segenap jiwa dan ragaku!" Fatih menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh, dan Mentari pun menangis bahagia sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku ... Mentari Khairunnisa Mochtar bin Ja'far Abdul Mochtar akan selalu berada di sisi suamiku ... Fatih Green Hakim bin Khalid Maulana Hakim, dan mengabdi kepadanya. Menjalankan tugas sebagai istri, dan akan selalu mencintai dan menyayangi selama seumur hidupku." Mentari pun membalas ungkapan perasaan Fatih.
Fatih pun sangat senang mendengarnya. Dia berikan ciuman mesra untuk Mentari. Begitu juga Mentari membalasnya. Keduanya larut dalam perasaan yang menggebu dan bergelora.
__ADS_1
******
"Mas, apa nggak apa-apa kalau tidur di sini malam ini? Bagaimana dengan Zahra? Kalau ada apa-apa sama dia, nanti Mas yang akan disalahkan lagi oleh Ummi," kata Mentari.
"Ada Abah yang tunggu di rumah sakit. Kalau ada apa-apa nanti Abah akan menghubungiku," balas Fatih.
"Nanti kalau aku melahirkan ... Mas harus ada di sisi aku, ikut membantu, ya!" Pinta Mentari.
"Iya, tentu saja. Mana mungkin aku akan membiarkan istriku berjuang sendirian saat melahirkan. Kita 'kan buatnya juga sama-sama," kata Fatih sambil menarik turunkan alisnya dan senyum jahil tercipta di wajahnya yang tampan.
"Janji loh!" Mentari menyodorkan jari kelingkingnya kepada Fatih.
"Iya, janji!" Fatih pun ikut menyambutnya.
Mentari pun tertidur dalam pelukan Fatih. Setelah sekian lama, Akhirnya Fatih bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Kedua sejoli itu, benar-benar menikmati kebersamaan mereka.
******
Pagi harinya, Fatih melihat kotak musik yang diletakan di meja rias. Awalnya Fatih hanya iseng saja, membuka kotak musik itu. Matanya memerah saat melihat video antara Mentari dan William saat masih menjadi pasangan. Fatih langsung di landa cemburu melihat keromantisan antara Mentari dan William.
"Mas …." Mentari terkejut saat melihat Fatih memegang kotak musik, yang buru-buru ditutup oleh Fatih yang hanya melihat bagian Mentari sama William. Sedangkan bagian Allura dan Liam, Fatih belum melihatnya.
******
Kira-kira Fatih dan Mentari akan marah nggak, ya?
Apa Zahra akan merajuk kembali sama Fatih atau tidak?
William kemana? sering buat rusuh.
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1