
Fatih membalas pelukan Mentari dan menariknya agar ikut berbaring bersama di atas kasur. Dilepaskan jilbab yang sedang dipakai oleh Mentari. Dilihatnya wajah Mentari yang sangat dirindukannya selama seminggu ini. Fatih yang mencoba menahan dirinya selama seminggu ini untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, akhirnya tumbang juga. Apalagi dengan perkataan Mentari, waktu itu, sikap Mentari yang mendadak tak acuh. Membuat beban pikirannya semakin bertumpuk. Ditambah lagi nasehat Alif, agar dirinya menjaga jarak dengan Mentari agar tahu seberapa besar berharga dia bagi istrinya itu.
Fatih merasa kecewa dengan Mentari atas perkataan dan pikirannya. Ditambah dengan sikap cuek dan tak acuh di hari-hari berikunya membuat dia semakin menderita. Fatih tidak mau kalau harus kehilangan Mentari, dalam hidup dia. Namun, tidak mau juga melihatnya hidup dengan perasaan menderita kalau berada disisinya.
Salah satu cara untuk mengetahui keinginan Mentari adalah dengan membicarakan lagi dengannya. Namun, semua itu belum terlaksana. Fatih sudah jatuh sakit duluan.
Sakit yang diderita sekarang malah membawa hikmah baginya. Dia jadi tahu perasaan dan keinginan sesungguhnya dari Mentari. Rasa cinta untuk istri kedua semakin kuat dan membuatnya serakah. Apapun yang terjadi Fatih tidak akan melepaskan Mentari. Tidak peduli meski nantinya Mentari protes.
"Ada apa?" tanya Fatih sambil membelai anak rambut Mentari.
"Mas, menjadi kurus. Maafkan aku yang tidak bisa mengurus suami dengan baik," jawab Mentari.
"Kalau begitu tugas kamu sekarang mengembalikan lagi tubuhku kembali ke semula." Fatih tersenyum manis karena mendapat perhatian lagi dari Mentari.
"Baik, dengan senang hati akan aku lakukan!" Satu kecupan diberikan oleh Mentari dan membuat Fatih tersenyum lebar.
"Satu hal lagi yang harus kamu lakukan!" Tangan Fatih sudah mulai menjelajah ke tempat favoritnya.
"Mas, masih sakit harus banyak istirahat. Tidak boleh kecapean," kata Mentari sambil menahan dirinya dari rangsangan suaminya.
"Honey, kamu yang akan mengambil alih," bisik Fatih dengan suaranya yang mulai memberat.
******
Fajar, Ja'far dan Sinar menjenguk Fatih, pada malam harinya. Setelah tadi sore, Mentari memberi tahu kalau Fatih, jatuh pingsan dan belum sadar-sadar.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ja'far.
"Alhamdulillah, Yah. Sudah mendingan karena Mentari sudah merawat aku dengan baik," jawab Fatih.
"Tentu saja sekarang kamu lebih baik. Karena selama seminggu kemarin sibuk terus bekerja dan tidak menyentuh Mentari. Akibatnya jatuh sakit," kata Aurora frontal dan itu membuat Fatih dan Mentari malu. Wajah keduanya pun berubah merah padam.
Ja'far melotot ke arah Fatih. Sedangkan Fajar dan Sinar hanya tersenyum simpul memakluminya. Aurora kesal karena Fatih terus mengurung Mentari di kamarnya. Padahal si kembar ingin menyusu, tidak mau dikasih susu formula.
Abah dan Mirna tidak bisa datang karena mereka sedang sibuk di rumah Tahfiz yang baru didirikan. Saat ini Abah dan Mirna sudah pindah ke kabupaten yang ada di pinggiran kota. Baru tiga hari mereka pindah. Saat itu Fatih dan Zahra ikut mengantarkan dan menghadiri pembukaan di sana. Meski sudah melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Kondisi Zahra baik-baik saja, tidak ada keluhan. Saat melakukan pengecekan pun semua hasilnya baik.
Malam itu keluarga Khalid dan Ja'far makan malam bersama di rumah Fatih. Aurora dan Sinar memasak menu makanan. Sedangkan Khalid dan Ja'far mengasuh si kembar. Zahra, Mentari, Fatih dan Fajar bicara santai di kamar Mentari.
Mentari tidak mengizinkan Fatih untuk ikut nimbrung bersama Khalid dan Ja'far. Pasti nanti ujung-ujungnya akan membicarakan masalah bisnis. Mentari ingin suaminya itu istirahat nggak boleh banyak pikiran, agar cepat sembuh. Bahkan tadi Mentari memberitahu Alif akan kondisi Fatih. Lalu memintanya untuk mengurusi perusahaan selama tiga hari.
******
"Honey, jam berapa kalian akan pergi ke dokter anak?" tanya Fatih sambil memeluk tubuh Mentari dari belakang.
"Jam delapan, tadi sudah ambil nomor dan kita urutan ke dua. Biar cepat selesai lalu pulang," jawab Mentari sambil memasang bros di kerudungnya.
"Padahal aku juga bisa mengantar kalian. Kenapa harus di larang?" Fatih memasang wajah cemberut karena Mentari mulai mendelikan matanya karena kesal.
"Sayangku, cintaku, mau cepat sembuh atau nggak?" Mentari mulai memasang mode istri cerewet.
Fatih yang melihat ekspresi wajah Mentari, malah tertawa terkekeh. Menurutnya malah terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Iya, Mas, akan menurut. Diam di rumah dan menunggu kepulangan kalian."
"Tubuh Mas itu masih demam dan harus istirahat agar cepat sembuh.
Mentari dan Aurora membawa si kembar ke dokter anak. Billi yang menjadi pengawal sekaligus supir untuk mereka merasa senang. Senyum terus terukir di wajahnya. Selama ini komunikasi dengannya masih menggunakan tulisan.
Kedatangan Mentari dan Aurora disambut baik oleh dokter pribadi khusus untuk si kembar. Perkembangan si kembar sangat baik. Bahkan berat badannya terus meningkat dan perkembangan fungsi orangan dalamnya juga baik. Mentari takut terjadi sesuatu kepada si kembar karena mereka terlahir prematur.
Hampir setengah jam mereka memeriksa si kembar kemudian memberi imunisasi untuknya. Mentari pun meminta izin dulu ke toilet. Sedangkan si kembar bersama Aurora dan Billi.
Seseorang sedang memerhatikan gerak-gerik Mentari. Saat Mentari berjalan ke arah toilet, orang itu juga mengikutinya.
"Bersiap-siaplah, Mentari sedang sendirian."
******
Siapa yang sedang mengintai Mentari?
Billi mulai beraksi, untuk menjadi seorang yang akan melindungi Mentari.
Tunggu kelanjutannya ya.
Konflik besar baru mulai ya! kalau nggak ada konflik nggak akan tamat-tamat.
terima kasih.
__ADS_1