Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN, ZAHRA (34)


__ADS_3

    Fatih langsung memeluk tubuh Mentari sangat erat. Dia juga menangis, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu. Buang jauh pikiran itu!" pinta Fatih di sela tangisannya.


"Kamu tahu, betapa aku sangat mencintaimu! Mana mungkin aku akan melepaskanmu!"


     Mentari diam saja, bahkan dia tidak membalas pelukan suaminya itu. Mentari hanya meneteskan air matanya, tanpa suara tangisan.


"Bukannya Kakak, yang tidak menginginkan aku menjadi istrimu. Kakak 'kan hanya butuh keturunan saja. Sekarang keturunan Kakak sedang tumbuh di dalam perutku. Jadi Kakak--"


     Ucapan Mentari terputus karena ciuman Fatih. Mentari tidak berkutik, karena Fatih menciumnya dengan ganas. Pelukannya pun semakin dipererat walau menggunakan sebelah tangannya. Sedangkan yang sebelahnya lagi dipakai untuk menahan tengkuk dan kepala Mentari. Jujur Mentari tidak menikmati ciuman Fatih kali ini. Dia juga berusaha mendorong tubuh Fatih.


"Dengarkan Mas, baik-baik! Aku menikahimu bukan karena menginginkan keturunan. Aku sebelum meminangmu, selalu meminta petunjuk kepada Allah. Karena aku tidak mau menyakiti hati wanita yang menjadi istriku." Fatih berbicara setelah melepaskan ciumannya, tetapi tidak dengan pelukannya.


"Dalam istikharahku meminta diberikan wanita shalihah yang bisa menemaniku baik di dunia dan akhirat. Wanita yang sama-sama mengharapkan ridho-NYA. Wanita yang bisa aku jaga dan membimbingnya."


"Karena sewaktu Zahra, memintaku untuk menjadikan kamu sebagai madunya. Aku sangat terkejut dan juga takut. Aku takut kalau aku akan mengulangi kesalahan yang pernah Kakek Willi lakukan kepadamu," jelas Fatih mengungkapkan perasaannya.


"Dalam istikharah, aku selalu menemukan dirimu. Wanita yang aku inginkan untuk menemaniku. Rasa yakin aku semakin bertambah, saat kamu mau mencoba melakukan istikharah juga." Mata Fatih dan Mentari saling pandang mengikat satu sama lain.


    Kini di mata Fatih, Mentari bisa melihat lagi pancaran rasa cinta untuknya. Mentari jadinya galau sendiri.


"Lalu kenapa Kakak tadi pagi-pagi bicaranya seperti itu?!" Mentari tidak mengerti akan perasaan Fatih padanya saat ini.


    Fatih menarik tangan Mentari, masuk ke dalam ruang kerjanya. Mereka duduk di sofa, dan saling berhadapan. Fatih tersenyum hangat kepada Mentari. Itu membuat jantung Mentari bertalu-talu kembali.


"Entah kamu akan percaya atau tidak?! Sebenarnya aku sudah kena guna-guna agar membenci kamu. Aku tadi sampai diruqyah," kata Fatih sambil menahan rasa malunya.


     Sementara itu Mentari menatap Fatih tidak percaya. Fatih jadi salah tingkah dilihat seperti itu oleh Mentari.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Fatih sambil membetulkan rambut Mentari dan menyelipkan ke belakang telinganya.


"Jadi Mas, marah-marah sama aku itu … karena guna-guna?!" tanya Mentari sambil menatap Fatih tak percaya.


"Hm … hm … jadi sudah kembali panggil aku, dengan sebutan Mas nih … nggak Kakak lagi?" goda Fatih sambil tersenyum jahil ke arah Mentari.

__ADS_1


"Aaa …," Mentari menyembunyikan wajahnya di dada Fatih karena malu. Fatih pun tertawa terkekeh melihat kelakuan istri mudanya itu.


"Sejujurnya, saat kamu pertama kali menjelaskan, siapa Arman. Mas sudah tidak akan mempermasalahkan lagi. Karena Mas yakin, kamu nggak akan berpaling kepadanya," kata Fatih sambil mencium pucuk kepala Mentari.


"Kenapa?" Mentari mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Fatih. Sehingga mata mereka saling beradu.


"Karena Mas itu merasa lebih tampan dari dia ... lebih pintar dari dia … lebih keren dari dia … lebih--" ucapan Fatih terpotong oleh kecupan singkat Mentari.


"Jangan sombong! Nanti ada setan yang merasuk lagi," kata Mentari sambil tersenyum geli karena melihat wajah Fatih yang terdiam karena terkejut.


"Itu bukan sombong, hanya memberitahu kenyataannya kok," balas Fatih sambil memencet hidung mancung Mentari karena gemas. Mereka pun tertawa bersama.


     Mereka berdua sudah saling memaafkan dan melupakan masalahnya. Seolah tidak pernah terjadi. Kini keduanya tidur saling berpelukan. Mungkin karena kekuatan cinta mereka, sehingga keduanya saling memahami.


******


     Saat pagi harinya, Mentari membuat sarapan dibantu oleh Fatih. Mereka terlihat sebagai pasangan baru yang sangat romantis. Bahkan Zahra yang baru saja masuk ke dalam dapur dibuat terkejut. Saat melihat Fatih sedang mencicipi masakan Mentari dan bilang enak, kemudian mencium pipinya.


"Akhirnya kalian baikan juga!" suara Zahra membuat keduanya membalikkan badan.


"Iya dong, mana mungkin aku marah-marah lama." Fatih tersenyum ke arah Zahra. Sementara Mentari tersenyum simpul, karena malu.


    Mentari pun mengajukan cuti, selama tiga hari. Karena pekerjaan proyek barunya kemarin sudah diambil alih oleh Fajar. Dia ingin memanjakan diri dulu, setelah perang batin kemarin.


    Zahra dijemput oleh ibunya, untuk ke rumah Aisyah. Mau syukuran tujuh bulanan. Tadinya Mentari juga mau ikut, karena Andromeda itu sepupunya Cantika. Tapi Fatih menahannya tidak boleh keluar rumah.


    Mentari akhirnya menelepon Sinar, bundanya. Karena di rumah sendirian, merasa kesal. Aurora sedang mendampingi Khalid ke Jerman sambil menjenguk Ghazali.


    Kini Mentari sedang tiduran di sofa dengan kepalanya berada di pangkuan sang bunda. Sinar mengelus kepala Mentari penuh sayang. Dia tahu permasalahan anaknya sejak kemarin. Namun dia hanya mengawasi tidak mau ikut campur masalah yang sedang dihadapi oleh putri kesayangannya itu. Karena dia percaya Mentari mampu menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebagai orang tua dia hanya bisa memberi nasehat kepada putrinya.


"Dalam berumah tangga pasti saja akan ada konflik atau masalah yang mengiringi."


"Kita, harus ada yang mengalah, walau bukan kalah,"


"Meminta maaf, walau mungkin bukan kita yang salah,"

__ADS_1


"Bila menasehati, jangan membuatnya sakit hati,"


    Sinar memberikan wejangan untuk putrinya. Dia tidak ingin putrinya mengalami lagi kegagalan dalam rumah tangganya. Dulu dia tidak bisa berada di sisi putrinya, saat rumah tangganya gonjang ganjing. 


     Mentari banyak berbicara mengenai ilmu dalam menjalankan rumah tangga. Agar seperti rumah tangga orang tuanya. Sehebat apapun masalah yang menimpanya. Mereka menghadapinya bersama-sama. Meski sudah puluhan tahun menikah, mereka terlihat seperti pasangan baru.


     Siang harinya Fatih pulang untuk makan siang di rumah. Sedangkan Sinar pulang sebelum makan siang. Jadinya hanya Mentari dan Fatih yang makan bersama.


    Karena mereka kemarin habis marahan, kini giliran sayang-sayangan. Karena pekerjaan di kantor juga sudah selesai. Fatih tidak kembali lagi ke kantor. Dia lebih memilih menghabiskan waktu dengan Mentari. Dulu Fatih sering mengejek Alex dan William, karena tidak bisa jauh lama-lama dari sang istri. Ternyata kini dia juga, merasakannya.


******


     Widuri kini sedang duduk di dalam rumah si Mbah dukun. Dia ingin tahu kelanjutan hasil dari kesaktian si Mbah dukun.


"Mbah kenapa? Wajahnya kok pucat?" tanya Widuri khawatir.


"Ini akibat ulah si target. Ternyata dia bukan orang lemah, seperti yang aku kira!" jawab si Mbah dukun dengan suaranya yang serak-serak keras.


"Jadi sekarang gimana?"


"Gatot! Gagal total!" balas si Mbah dukun.


"Jadi Fatih, tidak akan jadi menantuku dong, Mbah?!" terdengar suara Widuri yang kecewa.


"Tidak akan! Mereka tidak berjodoh!" kata si Mbah dukun lagi.


"Kalau begitu, balikin lagi semua uang yang sudah aku berikan kepadamu, Mbah!" pinta Widuri kembali, sambil menengadahkan sebelah tangannya.


"Mana bisa begitu!" si Mbah dukun marah kepada Widuri, karena uang bayarannya di minta kembali.


"Iya, tentu saja. Karena Mbah tidak sanggup memenuhi permintaan aku! untuk menjadikan Fatih itu, sebagai menantu!" Widuri matanya terbelalak melihat ke arah si Mbah dukun.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.


TERIMA KASIH.


__ADS_2