Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (25)


__ADS_3

     William yang masih setia diam di depan rumah Ja'far. Dia berharap bisa diizinkan masuk oleh pemilik rumah. Bahkan dia meminta izin sama bapak RT setempat, agar tidak diusir dari  area lingkungan mereka. William makan dan minum pun mengandalkan warung yang ada di sana. Kadang dia pergi ke minimarket memborong makanan cemilan dan air mineral Kemasan.


    Siang hari ketika matahari lagi terik-teriknya, William sedang duduk santai di atas kap mobilnya. Sesekali menyapa warga yang lewat dan kadang berbicara sebentar.


"Mister, kenapa duduk di sini? Nggak masuk ke dalam rumah?" tanya salah seorang tetangga Ja'far.


     William yang ditanya seperti itu, malah tersenyum. "Lagi berjemur, Pak!" jawab William.


"Oh, iya … ya. Orang bule sukanya berjemur," tetangga itu tertawa renyah. "Mentari! Kenapa suami kamu disuruh berjemur di sini?" teriak lelaki itu sambil melihat ke arah atas.


    William pun mengalihkan wajahnya dan melihat Mentari sedang berdiri di balkon kamarnya. Senyum merekah terpampang jelas di wajah William saat melihat Mentari. Kemudian dia mengangkat tangannya ke atas dan menyatukan jari tengahnya membentuk hati yang besar. Serta ciuman jarak jauh diberikan kepada Mentari.


   Mentari yang melihat kelakuan suaminya itu, hanya tersenyum tersipu malu. Kemudian membalasnya, dan cepat-cepat masuk lagi ke kamarnya, dengan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Dasar anak muda … suka bikin iri orang lain saja!" kata si tetangga melihat kelakuan William dan Mentari. "Aduh Mentari makin cantik aja!" lanjutnya sesat Mentari masuk ke kamarnya lagi.


"Hm … hm!" William berdehem tidak suka, dia cemburu saat ada laki-laki yang terpesona sama kecantikan Mentari. Apalagi kini tubuhnya makin kelihatan berisi, pipinya yang merona kini terlihat chubby.


    Tetangga itu hanya bisa tersenyum kaku memperlihatkan deretan giginya yang menguning karena kebanyakan minum kopi dan teh. Kemudian dia pamit pergi dari sana.


    William pun melanjutkan lagi duduk santai di atas kap mobilnya sambil melihat ke arah kamar Mentari. Berharap dia bisa melihat lagi istri kecilnya itu.


    Mentari merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang dekat dengan jendela. Kemarin dia meminta bantuan Mang Asep secara diam-diam, untuk menggeserkan kasurnya ke dekat jendela kamarnya. Supaya dia bisa melihat William sambil duduk atau rebahan di sana.


     Saat mendapatkan ciuman jarak jauh dari William tadi. Mentari begitu senang, senyum di bibir ranumnya tidak pernah hilang. Dirinya seperti kembali lagi saat baru jadian dengan William dahulu. Jantungnya berdebar bertalu-talu dan hatinya serasa berbunga.


    Seandainya ayah Mentari tidak melarang dirinya untuk bertemu dengan William. Tentu Mentari akan berlari ke arah suaminya itu.


******


Satu hari sebelumnya …


    Mentari diam-diam membungkus kan nasi sama lauk pauk ke dalam sebuah pembungkus nasi. Tidak lupa juga sama sebotol air mineral berukuran satu liter lebih, biar tidak dehidrasi.


    Ja'far tahu saat Mentari memberikan makan untuk William kepada Bi Eneng, karena dia berdiri tidak jauh dari pintu dapur.

__ADS_1


"Hm," suara deheman Ja'far membuat Mentari terkejut.


     Mentari merasa takut kalau ayahnya, akan marah kepadanya, karena sudah memberikan makanan untuk William. Jadinya Mentari hanya menundukkan kepalanya.


"Kakak nggak perlu takut begitu," kata Ja'far saat melihat wajah putri sulungnya yang berubah menjadi tegang saat melihat dirinya.


"Maaf, Yah. Mentari tidak mau kalau suamiku kelaparan. Nanti dia akan sakit, kalau telat makan." Mentari menatap Ja'far dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, Ayah tidak akan marah. Justru Ayah senang saat kamu memperhatikan kebutuhan suamimu itu," balas Ja'far sambil mengelus kepala Mentari.


    Mentari membalas dengan memeluk tubuh ayahnya. Menangis terharu dan mengucapkan terima kasih.


"Ingat satu hal ini! Jangan temui dulu William selama satu Minggu. Ayah ingin tahu seberapa gigihnya dia ingin mempertahankan dirimu tetap menjadi istrinya. Serta ingin menguji seberapa besar cintanya untukmu," kata Ja'far mengurai pelukannya, kemudian melihat ke wajah Mentari. Mentari pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum bahagia.


"Terima kasih Ayah! Mentari sangat sayang sama Ayah," Mentari kembali memeluk tubuh Ja'far dan menggoyangkan tubuh ayahnya itu sambil tersenyum bahagia.


******


    William yang masih asik duduk di atas kap mobilnya melihat ke arah kamar Mentari. Saat terlihat ada Mentari di dekat jendela kamarnya dia berteriak, " Baby, I love you. I miss you!" sambil tangannya membentuk hati yang besar. Tak lupa senyuman lebarnya dan sorot mata yang berbinar.


    Menjelang Ashar dia mandi di masjid sekalian sholat berjamaah. Saat bertemu dengan Ja'far mereka hanya bersalaman. 


"Terima kasih Bu Eneng. Tolong kasih surat ini untuk Mentari, ya Bi!" William menyerahkan sebuah surat untuk Mentari, yang ditulisnya tadi siang.


"Siap Mister!" balas Bi Eneng sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya beberapa kali.


    William senang karena Mentari begitu masih memperhatikan kebutuhannya. Sejak sarapan sampai makan malam pun Mentari yang membuatkan dan menyiapkannya.


     Malam harinya William tidur di mobil, dan saat akan tidur terlelap, pintu kaca mobilnya diketuk oleh seseorang. Di sana ada Mang Asep yang sedang memegang selimut dan bantal untuknya.


"Ini Mister … dari Neng Mentari, katanya biar tidak kedinginan. Neng Mentari bilang nggak mau kalau Mister sampai sakit." Mang Asep menyerahkan selimut tebal dan sebuah bantal.


"Terima kasih Mang Asep!" kata William dengan senyum simpul di bibirnya.


     William memekik senang saat mencium bantal itu, " wangi Baby … aku merindukannya!" 

__ADS_1


    Mentari sengaja memberikan bantal yang selama ini suka dipakainya. Agar William bisa mencium sisa dari tubuhnya yang menempel di bantal itu. Malam yang dingin itu, William tidur dengan nyenyak. Seolah ada Mentari tidur di dekatnya.


******


    Saat pagi hari, William baru saja menyelesaikan sarapan yang diantar oleh Bi Eneng. Terlihat mobil milik Fatih akan memasuki rumah Ja'far.


    Fatih merasa heran kenapa ada mobil William terparkir di depan rumah Mentari. Sebenarnya Fatih hanya mengantarkan Zahra yang ingin bertemu dengan Mentari, semenjak lusa kemarin. Begitu mendengar kabar Mentari, Zahra yang sudah bersahabat dengannya ingin segera menemuinya. Karena keduanya sibuk, jadi baru sekarang mereka bisa merealisasikannya.


"Itu mobilnya kakek Willi! Kenapa ada di sini?" tanya Fatih kepada Zahra saat mereka akan masuk ke dalam gerbang.


"Itu kakek Willi nya ada!" tunjuk Zahra saat melihat William berjalan keluar dari mobilnya.


"Lagi ngapain kakek Willi duduk di sana?" tanya Fatih yang melihat William malah duduk di atas kap mobil kemudian melambaikan tangan kerahnya.


"Mas tidak tahu, dengan apa yang sudah terjadi antara Mentari dengan William?" tanya Zahra sambil memandang tidak percaya ke arah Fatih.


"Memangnya ada apa?" tanya Fatih setelah dia menggelengkan kepalanya.


******


FATIH : AKHIRNYA AKU MUNCUL JUGA SETELAH SEKIAN LAMA.


WILLI : UTHOR ... FATIH KENAPA MUNCUL SEKARANG! INI MASIH SEASON AKU!


AUTHOR : BIAR TAMBAH RAME!!!


WILLI : AWAS JANGAN BIARKAN DIA MENGHAJARKU YA UTHOR!!


FATIH : AKU JUGA MAU THOR!!!


AUTHOR : 🙄


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2