
William melacak dimana Mentari sekarang, dan dilihatnya sinyal itu menunjukan keberadaan istrinya. Ternyata Mentari sedang berada di kediaman Alex. Bahkan bersama Jennifer, di sana saat ini.
Maka dengan kecepatan penuh, William melajukan mobilnya menuju kediaman Andersson. Sebelum sampai ke sana William menyempatkan diri membeli kado untuk Mentari, karena kado pesanannya tidak keburu di ambil dan tokonya sudah tutup. Tidak lupa kue ulang tahun dadakan untuknya, yang di beli di toko kue yang akan tutup itu.
William sampai di depan gerbang kediaman Andersson. Laju mobilnya terhenti, karena ketatnya penjagaan di rumah Alex itu. Apalagi sekarang waktunya sudah larut malam. Bukan waktunya untuk bertamu.
Setelah menunggu lima menit, gerbang yang kokoh, tinggi menjulang itu akhirnya terbuka. William pun bisa masuk ke dalam halaman rumah Alex yang sangat begitu luas.
William berlari masuk ke dalam rumah Alex, begitu pintu depan dibuka oleh kepala pelayan. Langkahnya yang lebar memasuki setiap ruangan. Namun Mentari tidak ada di mana-mana.
"Tuan Willi, kalau anda mau mencari Nyonya Mentari, sekarang dia sedang berada di--" suara kepala pelayan tertutupi oleh suara ledakan dari arah halaman samping mansion.
William pun berlari ke arah halaman samping. Suara ledakan dari kembang api yang kini menghiasi langit malam terlihat di sana. Mentari tersenyum bahagia bersama dengan yang lainnya. Apalagi si Trio Kancil begitu sangat saat kembang api yang memiliki berbagai bentuk itu menghiasi langit.
William berlari ke arah Mentari, kemudian memeluknya, dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk istrinya itu.
"Selamat ulang tahun, Baby!" kata William sambil mengeratkan pelukannya. Ada rasa bersalah di dalam hati William, sampai suaranya bergetar.
Mentari begitu terkejut dengan kedatangan William yang tiba-tiba itu. Padahal hatinya yang hancur sudah di tata kembali saat mendapatkan nasehat dari Cantika tadi. Kini dia harus kembali merasakan kegoyahan, antara kecewa dan marah, tapi senang karena William akhirnya ingat akan hari ulang tahunnya.
Tidak mendapatkan respon apa-apa dari Mentari. Membuat William kalang kabut, karena dia tahu istrinya pasti sedang marah.
"Maafkan aku Baby, karena melupakan janji yang sudah dibuat. Aku sudah menyiapkan kue ulang tahun dan juga kadonya. Aku juga sudah menyiapkan tempat untuk merayakan ulang tahunmu," William berkata dengan isakan menahan tangisannya.
Mentari diam tidak menjawab atau membalas perkataan William. Rasanya dia ingin memaki, dan memarahi William. Namun dia ingat nasehat bundanya, agar selalu sabar dan memaafkan kesalahan pasangan hidupnya. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Maka memaafkan dan meminta maaf, itu harus dilakukan oleh setiap pasangan, agar hubungannya langgeng.
Mentari menarik napasnya,"kenapa Oppa, melupakannya?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar karena tertelan oleh suara dari kembang api.
__ADS_1
"Aku salah melihat tanggal. Aku kira besok hari ulang tahunmu, bukan hari ini." William memberi alasan.
"Aku sudah menyiapkan kado dan kue ulang tahunnya, juga tempatnya. Kalau sekarang pergi masih keburu, ayo!" William menarik paksa Mentari dan membopongnya. Dengan langkah kaki yang lebar dan cepat, kini William membawa Mentari ke luar dari kediaman Anderrson.
Mentari sangat senang saat William membawanya ke taman bermain, yang tadi siang dia datangi. Senyuman manisnya tercetak di wajah cantik Mentari.
"Oppa, ini …." Mentari tersenyum ke arah William.
"Iya. Bukannya aku sudah janji kepadamu, akan menghabiskan waktu bermain di taman bermain ini," kata William sambil tersenyum lembut ke arah istrinya itu, dan mengelus lembut pipi Mentari.
Kini malam hari jadi taman hiburannya sudah tutup untuk umum. William meminta kepada pemilik taman hiburan, untuk menyewakan kepadanya, karena dia ingin menghabiskan waktunya dengan Mentari menaiki semua wahana yang ada di sana.
Mentari dan William menaiki satu persatu wahana di sana. Tawa keduanya memecah kesunyian di taman bermain itu. William sangat senang saat melihat Mentari ceria kembali lagi.
Mentari sudah memaafkan kesalahan yang diperbuat oleh William. Dia tidak mau menjadi pendendam, atau pembalas dendam. Dia ingin hidup bahagia bersama dengan suaminya itu. Selagi kesalahan William masih bisa dimaafkan, maka dia juga akan memaafkannya.
"Selamat ulang tahun istriku tercinta. Walau terlambat aku ingin mengucapkannya langsung dengan mulutku." William dan Mentari duduk saling berhadapan.
Saat hampir mendekati puncak teratas, William mengeluarkan kadonya. Memberikan kepada Mentari, dengan senyuman di wajahnya.
"Walau bukan ini sebenarnya kado yang sudah aku siapkan untuk kamu. Namun aku berharap kamu menyukainya," kata William sambil membuka kotak perhiasan yang isinya sebuah kalung yang memiliki gantungan berbentuk bintang.
Mentari melihat kado yang sudah disiapkan oleh suaminya itu merasa sangat senang. "Terima kasih, Oppa!" Mentari mencium pipi William.
"Apa kamu suka dengan kadonya?" tanya William dengan deg-degan.
"Iya, suka sekali!" Mentari tersenyum lebar.
__ADS_1
Saat mereka berada di puncak, William mencium mesra Mentari. Dia meniru adegan yang sering muncul di anime Jepang yang dulu sering dilihat olehnya. Mentari pun membalasnya dengan penuh perasaan.
Pesta kembang api pun sudah disiapkan oleh William. Dia tidak mau kalah dengan kembang api yang diluncurkan di kediaman Alex tadi. Sampai tengah malam mereka berdua menghabiskan waktu di taman bermain itu. Entah berapa banyak uang yang William keluarkan hanya untuk membuat Mentari bahagia di hari ulang tahunnya.
******
Malam harinya mereka menginap di apartemen William, dan menghabiskan waktu dengan bercinta, sampai menjelang subuh. Mentari dan William tidur setelah sarapan pagi. Keduanya sengaja menonaktifkan ponsel miliknya masing-masing sejak semalam, karena tidak mau diganggu.
******
Dua hari setelah ulang tahun Mentari, Angel mendatangi lagi kantor William. Namun kali ini dia dilarang masuk ke dalam kantornya. Jadinya dia menunggu di ruang bisa William menerima tamu.
Mentari juga datang karena sebentar lagi waktunya makan siang. Dia diberitahu sama sekretaris William kalau ada Angel di ruang tunggu. Maka Mentari pun mendatangi ruangan yang ada di samping kantor William, yang terhubung oleh sebuah pintu.
"Angel apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Mentari dengan menatapnya tajam.
Karena posisi Mentari membelakangi pintu masuk jadi dia tidak tahu kalau akan ada orang yang masuk. Tiba-tiba tangan Mentari ditarik oleh Angel. Kemudian menamparkannya ke pipi Angel. Seolah-olah Mentari yang menampar pipi Angel. Bahkan Angel sampai menjatuhkan dirinya ke lantai. Mentari terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Angel. Diwaktu yang bersamaan pintu itu terbuka, dan William masuk ke sana.
"Angel!" Suara William yang panik langsung memenuhi ruangan itu.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG LAGI HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1