
Mentari merasa sakit hatinya saat mendengar perkataan suaminya barusan. William sudah menganggap dirinya tidak pernah mengurus Allura dengan benar. Tidak ada dalam pikirannya, untuk membeda-bedakan antara Allura dan Liam. Sebab kini, kedua anak itu adalah tanggung jawabnya dan dalam asuhannya.
Selama ini, Mentari mengira hubungannya dengan Allura baik-baik saja. Allura pun tidak segan-segan dalam meminta sesuatu kepadanya. Padahal tanpa Mentari sadari, kalau Allura selalu melakukan banyak intrik, agar semua perhatian dan kasih sayangnya condong kepada dirinya, dibandingkan kepada Liam. Mentari sebenarnya tahu kalau Allura, sering cemburu. Namun dia menganggapnya hal itu biasa terjadi antar sesama saudara.
"Maaf, kalau aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya," balas Mentari dengan menahan tangisnya. Dia tidak mau berdebat dengan William. Apalagi di depan kedua anaknya. Itu akan mempengaruhi perkembangan mereka.
"Baby, bukan itu maksudku. Aku ...." William tidak melanjutkan lagi kata-katanya karena Mentari pergi meninggalkannya.
Mentari memilih mengelap tubuh Liam. Saat William datang menghampirinya pun, dia diam saja. Emosinya sedang tidak stabil, jika sedang datang bulan. Maka dia lebih baik diam. Tangannya cekatan saat mendandani anaknya. Tidak ada celotehannya saat mengajak bicara Liam. Begitu juga Liam hanya diam saja, sambil memandangi mommy-nya.
"Baby, aku tidak bilang kamu, 'kalau kamu tidak bisa menjadi ibu yang baik'. Aku tahu kamu ibu yang selalu berbuat baik. Hanya saja aku minta perhatikan juga keadaan Allura. Dia masih anak-anak, yang butuh bimbingan kita orang tuanya. Dia tidak tahu batasan-batasan sampai yang boleh dia lakukan," kata William dengan lembut.
Namun Mentari diam saja, tidak membalas ucapan William. Dia menyisir rambut Liam, kemudian membereskan alat-alat perlengkapan bayi milik anaknya.
"Baby ...," kata William.
"Maaf, Oppa." Mentari hanya bicara dua kata itu, lalu pergi meninggalkan William.
Mentari membuat bubur untuk Allura sambil menggendong Liam. Saat sakit, Liam selalu tidak mau jauh darinya. Bahkan Jennifer pun tidak bisa mengambil alih gendongannya.
"Sini Liam, sama aku saja." William akan mengambil alih Liam, tapi putranya itu malah menangis kencang dan mengeratkan pelukannya kepada Mentari.
"Biar kan saja Liam sama aku. Oppa bersiap-siaplah untuk pergi bekerja," balas Mentari tanpa melihat ke arahnya.
William tahu, saat ini Mentari sedang marah padanya. Melihat Mentari yang mengabaikan keberadaannya, membuat hatinya sakit.
"Baby, maaf. Aku tidak bermaksud melukai hatimu. Hanya saja aku, merasa takut kalau orang-orang yang aku sayangi, sakit. Aku takut kalau sampai kehilangan mereka lagi," kata William.
Mentari yang emosinya sedang labil, mengartikan maksud William, orang yang sakit dan meninggalkannya adalah Angela. Dia lupa kalau ayah mertuanya--Christhoper--juga meninggal karena sakit. Hati Mentari semakin terasa sakit, dan dadanya mendadak sesak.
'Sepertinya dia tidak akan pernah hilang dalam hati dan ingatanmu,' gumam Mentari dalam hatinya.
__ADS_1
Mentari diam saja tidak menanggapi perkataan William barusan. Dia sibuk mendiamkan Liam dan tangannya mengaduk bubur.
William pun yang merasa tidak dianggap keberadaannya, memilih pergi. Dia lupa kalau istrinya sedang datang bulan, perasaannya sangat sensitif.
*******
"Allura, makan dulu, ya." Mentari membawa semangkuk bubur.
Allura senang saat mendengar suara Mentari memanggilnya untuk makan. Dia sudah membayangkan akan makan disuapi seperti biasanya, bila dia sakit. Namun kebahagiannya itu, langsung lenyap saat melihat Mentari menggendong Liam.
'Bayi, itu lagi,' gumamnya dalam hati Allura.
"Ayo, bangun! Makan dulu biar cepat sembuh," kata Mentari sambil menyerahkan semangkuk bubur.
Allura menepis mangkuk bubur itu, sehingga terlempar ke lantai. Membuat suara pecahan mangkuk yang memekakkan telinga. Membuat isinya--bubur--itu tumpah dan berceceran kemana-mana di lantai.
Mentari menatap marah ke arah Allura. Merasa hasil kerja dan perhatiannya tidak di hargai oleh gadis kecil yang kini menangis dengan sangat keras. Sehingga Liam yang dalam gendongannya juga ikut menangis.
"Baby, ada apa lagi ini?!" tanya William dengan nada yang geram. Kedua anaknya menangis dengan kencang.
"Allura tidak mau makan sepertinya," jawab Mentari datar, kemudian keluar kamar Allura dan memanggil pelayan untuk membersihkan lantainya yang kotor oleh pecahan mangkuk dan bubur.
"Ada apa, Sayang? Kenapa tidak mau makan?" tanya William sambil mengelus kepala Allura, mencoba mendiamkan tangisannya.
"Maaf, Tuan. Tadi, nyonya marah karena gara-gara Nona Allura sakit, Tuan memarahi nyonya. Sepertinya nyonya melampiaskan rasa kekesalannya kepada Nona Allura, dan melemparkan mangkuk berisi bubur itu ke lantai," jawab Mone dengan ekspresi wajah yang ketakutan. Kemudian, matanya sesaat menatap tajam ke arah Allura, saat anak itu akan bicara.
"Aku rasa istriku tidak seperti itu kelakuannya." William menatap tajam ke arah Mone.
"Kalau tidak percaya, silakan saja tanya sama Nona Allura?!" Mone memberikan tantangan kepada William.
"Benarkah itu, Sayang?" tanya William kepada Allura.
__ADS_1
Allura yang belakangan sering ditekan dengan ancaman oleh Mone, membuatnya menuruti keinginan si pelayannya. Maka Allura pun menganggukkan kepalanya.
"Tuan, sebenarnya nyonya itu sering menyakiti Nona. Kami tidak berani bicara karena selalu diancam akan di usir dan dilaporkan kepada polisi. Meski kami tidak punya masalah apa-apa. Katanya dengan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Green, dia bisa melakukan apa saja."
"Aku tidak yakin istriku melakukan hal itu," kata William.
"Tuan, tidak tahu kalau nyonya juga suka menghina mamanya Nona Allura dengan sebutan p*****r. Tukang merebut suami orang. Bahkan menyebut Nona dengan sebutan anak haram," kata Mone dengan menggebu-gebu.
"Katakan Allura, kalau yang Mone katakan itu tidak benar!" pinta William.
Namun Allura malah semakin kencang menangis. Dia menyesal menuruti perkataan Mone dari dulu. Gara-gara dirinya, kini orang yang di sayangi olehnya--Mentari-- harus di fitnah.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi!" William memeluk tubuh Allura yang masih saja menangis.
William yang tadinya tidak percaya, kini hatinya mulai ragu. Dalam otaknya dia berpikir. 'Kenapa sifat Mentari tiba-tiba berubah.'
"Tuan, harusnya Anda tahu. Kalau nyonya juga sering menghukum Nona Allura, dengan mengurungnya di gudang." Lapor si Mone kepada William.
Hati William mulai marah saat mendengar perkataan Mone. Dicengkeramnya rahang pelayan itu. Ditatapnya dengan tajam dan penuh amarah.
"Mentari bukan orang yang seperti itu!" bentak William kemudian mendorong Mone, sehingga mundur beberapa langkah.
"Tuan, silahkan saja tanya kepada Nona Allura sendiri!" suruh Mone.
Perhatian William kini tertuju kepada Allura, yang sejak tadi terus menangis. Didekatinya Allura yang duduk di atas kasur.
"Sayang, apa mommy, selalu menghukum kamu?" tanya William sambil duduk berhadapan dengan Allura.
*******
HAI TEMAN-TEMAN SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI MENTARI-WILLIAM. BACA JUGA KARYA DARI MAMA RENI (MAMA ONLINE AKU)
__ADS_1