
Beberapa jam sebelumnya …
Setelah Angel diminta pulang oleh William. Akhirnya William pun memasuki ruang kerjanya. Namun dia tidak mendapati Mentari di sana. Dicarinya di kamar tempat istirahatnya, juga tidak ada.
Maka William pun melacak keberadaan Mentari lewat GPS yang ada di handphonenya. Dilihatnya sinyal GPS itu ada di area kantor perusahaannya. William pun tersenyum, mengira Mentari masih ada di area parkir.
William masuk ke lift khusus yang berada di pojok ruang kerjanya. Lift itu bisa langsung menuju ke area parkir khusus untuknya. Sambil bersenandung William berjalan ke arah mobil Mentari.
Betapa terkejutnya William saat tidak mendapati Mentari yang berada di sana. Dia kembali mengecek keberadaan Mentari melalui telepon genggamnya yang bisa menyadap GPS phone cell Mentari. Sinyalnya menunjukan phone Cell Mentari berada di area parkir.
Maka William memperkecil skala pencariannya. Ternyata telepon genggam milik Mentari berada di dalam mobilnya. William pun mencoba membuka pintu mobil milik Mentari itu. Lagi-lagi William dibuat terkejut, karena pintu mobilnya Mentari tidak di kunci.
"Dasar dia itu suka sekali berbuat ceroboh!" gumam William sambil masuk ke dalam mobil Mentari.
Dicarinya handphone milik Mentari, ternyata isi tasnya Mentai masih seperti biasa, sebagaimana biasanya dia pergi. William menyangkan Mentari sedang ke luar sebentar. Maka William pun menunggu di dalam mobil Mentari sambil menahan laparnya, karena dia belum makan. Bekal yang tadi di bawa oleh Mentari juga masih berada di atas meja ruang kerjanya.
Sudah satu jam William berdiam di dalam mobil Mentari. Namun sang pemilik mobil belum juga kelihatan batang hidungnya. William yang kesal kembali mengecek keberadaan Mentari melalui perhiasannya. Dia mengecek GPS yang dipasang di cincin kawin mereka.
William mengerutkan keningnya saat melihat sinyal yang dipancarkan dari cincin kawin, berada di dekatnya. William pun mencari Mentari di sekitar mobilnya. Namun hasilnya nihil, Mentari tidak ada di sana. William dibuat panik saat karena Mentari tidak diketahui keberadaanya. Sampai-sampai dia meminta tim pasukan keluarga Green untuk mencari keberadaan Mentari.
Meski sampai sore mereka melakukan pencarian terhadap Mentari. Tidak satu orang pun yang bisa menemukannya. William sudah ketar-ketir di buatnya. Pikiran dia sudah kacau, hatinya tak menentu perasaannya.
Saat William mengecek kembali isi tas milik Mentari. Betapa marahnya dia saat tahu Mentari sudah melepaskan cincin kawinnya yang kini tersimpan dalam kantong dalam tas mahal milik istrinya itu.
Dikarenakan keberadaan Mentari tidak ditemukan di kantornya. Maka tim pasukan keluarga Green berpencar mencari keberadaan Mentari.
William pun pulang dalam keadaan marah. Dia menunggu kabar dari para anak buahnya itu. Meski sudah malam keberadaan Mentari belum juga diketahuinya. Ruang kerjanya menjadi pelampiasan amarah William. Ruangan yang selama ini selalu rapi dan bersih, kini dalam keadaan berantakan seperti sudah tertiup badai tornado.
"Tuan Willi, nyonya Mentari sekarang sedang berada di depan gerbang," lapor kepala pelayan.
"Jemput dia!" perintah William.
William pun berjalan dan menunggu kedatangan Mentari di depan pintu rumahnya. Dilihatnya Mentari yang berjalan gontai menaiki anak tangga di teras depan.
******
__ADS_1
William menatap tajam kepada Mentari. Kini keduanya sedang berada di ruang keluarga. Tidak diizinkan seorang pun untuk memasuki ruangan itu.
"Kamu pergi kemana seharian ini?" tanya William dengan menahan amarahnya, karena sejak pulang Mentari terus menundukan kepalanya tidak mau bertatap muka.
"Jalan-jalan," jawab Mentari dengan nada ketus.
"Bisakah kamu melihat orang yang sedang diajak bicara?" William mulai gemas dengan tingkah Mentari yang seolah tidak mau melihatnya.
"Aku rasa tidak perlu juga, yang penting itu mendengarkan kalau lagi diajak bicara, dan menjawab bila ditanya," balas Mentari masih dengan nada ketusnya.
"Aku tidak suka! Saat mengajak orang bicara dia tidak mendengarkan ucapanku!" William berbicara dengan nada suara yang tinggi, dan itu juga membuat Mentari tidak suka.
"Sejak tadi aku juga mendengarkan ucapan kamu!" Mentari yang sudah sangat kesal kepada William gantian meninggikan suaranya.
"Kau berani membentak suamimu," kata William dengan nada yang dingin.
Seketika Mentari tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya."Maaf, aku tidak sadar kalau sudah membentakmu," kata Mentari dengan suara yang rendah.
"Kamu itu sudah pergi seenaknya, membuat semua orang kerepotan mencari kamu kesana kemari!"
Mentari diam tidak menjawab, sebab dia baru sadar perbuatannya itu malah membuat orang lain kesusahan, karena mencarinya. Mau menjawab apapun tetap dia yang akan disalahkan.
"Sebegitunya 'kah kamu ingin pergi dariku!"
"Apa kamu sudah bosan bersama denganku. Sehingga ingin pergi jauh dariku?"
"Katakan dengan jujur, Mentari apa kamu ingin pergi dari sisiku?"
Mentari malah menangis tergugu, mendengar cercaan pertanyaan untuknya dari mulut suaminya itu.
"Aku ingin minta maaf kepada semua orang yang sudah direpotkan, karena mencariku," suara tertahan Mentari mengalun rendah di ruangan yang kini terasa sunyi.
"Aku hanya ingin menenangkan hati dan pikiran aku saja tadi."
William tersenyum miring. "Apa meski harus melepaskan cincin kawinmu?"
__ADS_1
Mentari menarik napasnya, karena dadanya terasa sesak. Dia mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah William.
"Kamu yang sudah membuatku begini. Apa kamu tahu perasaanku saat ini!"
"Melihat suamiku selalu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita lain!"
"Bahkan suamiku sendiri yang mengusirku agar menjauh darinya!"
"Justru sekarang itu semua yang ingin aku tanyakan kepadamu!"
"Apa kamu sudah bosan kepadaku?"
"Apa kamu sekarang sudah ingin membuang ku?"
"Apa kamu sudah tidak ingin melihatku sehingga aku di minta pergi dari hadapanmu?"
Kali ini Mentari mengeluarkan semua yang ada di hatinya, dengan suara yang ditahan agar tidak sampai berteriak seperti tadi di hadapan suaminya. Mentari tidak suka saat di intimidasi oleh seseorang. Hanya air mata yang mengalir di pipinya memperlihatkan kondisinya saat ini. Hatinya sakit, pikirannya kacau, dan raganya terasa remuk.
William dapat melihat tatapan Mentari yang begitu terluka. Itu membuatnya juga merasakan sakit di hatinya. Dia tidak mau membuat wanita yang di cintainya itu menderita. Meski pada kenyataannya dia sendiri yang sudah membuat luka itu di hatinya.
"Kamu tidak perlu cemburu kepada Angel. Aku tidak punya perasaan apapun kepadanya sekarang," William bicara dengan nadanya yang lembut.
"Hanya kamu, satu-satunya wanita yang aku cintai," William berbicara sambil menatap mata Mentari.
"Aku hanya membantu dia untuk mengobati penyakitnya. Itu saja," William kini sedang berusaha meyakinkan Mentari akan perasaannya.
"Kamu membantunya dengan mengorbankan perasaan istrimu," kata Mentari sambil tersenyum kecut di hadapan William.
William diam seribu basa, saat Mentari mengucapkan kata-kata itu. Dia bingung sekarang dengan keadaanya sendiri.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG LAGI HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.