Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTAARI - WILLIAM (38)


__ADS_3

     Jennifer kini duduk dengan William di ruang kerja. Keduanya duduk di sofa dan saling berhadapan meski bersisian. Dia ingin meminta penjelasan kepada putranya. Tentang gadis kecil yang bernama Allura.


"Katakan apa yang akan kamu katakan itu!" Jennifer sudah merasa akan pecah kepalanya. Tubuhnya masih lelah karena habis melakukan perjalanan yang panjang. Begitu sampai rumah dia melihat ada makhluk berwujud gadis kecil yang mirip wanita yang paling dibenci olehnya dan suaminya dulu.


"Dulu Willi telah melakukan kesalahan, Mom." Suara William begitu pelan meski begitu Jennifer masih bisa mendengarnya.


"Kamu tidur dengannya!" Jennifer meninggikan suaranya dan menatap tidak suka kepada putranya.


"Willi tidak ingat saat melakukannya!" William membela dirinya, dan air mata meluncur di pipinya. Melihat ibunya bisa semarah itu kepada dia.


"Mana mungkin tidak ingat!" Jennifer menatap tidak percaya kepada William.


"Sungguh, Mom. Willi tidak bohong!" kata William dengan tegas.


"Apa maksudmu?" tanya Jennifer sambil menatap tajam karena dia tidak mengerti kata-kata anaknya itu.


"Saat itu Willi dalam keadaan tidak sadar. Saat di acara reuni SMA, Willi hanya minum satu gelas anggur. Tapi begitu bangun aku berada di dalam kamar hotel, sendirian dalam keadaan telanjang. Tidak tahu apa yang sudah terjadi malam itu," jawab William.


"Apa kamu sudah melakukan tes DNA? Karena tidak ada wajah kamu yang menempel di muka bocah itu!" Jennifer merasa terusik dengan keberadaan anak itu di rumahnya.


"Sudah," jawab William pendek dan menganggukkan kepalanya.


"Lalu apa hasilnya?" tanya Jennifer dengan sangat penasaran. Tentu dia berharap kalau anak itu bukan cucunya.


"Positif. Willi dan Allura adalah ayah dan anak," jawab William pelan.


    Mendengar perkataan William barusan, membuat Jennifer marah. Dia pun memukuli putranya dengan menggunakan map yang berisi laporan keuangan perusahaan keluarga Green, yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Ber eng sek kamu, William!" Jennifer memukul kepala putranya dengan sekuat tenaganya.


"Kamu lagi-lagi menyakiti Mentari, menantu kesayangku!" Jennifer berteriak dengan sangat marah yang tidak dapat dia bendung lagi. Pukulannya pun makin kuat sampai pelipis dan sudut mata William berdarah terkena sayatan map dan kertas. Juga di beberapa tempat lain di wajahnya.


    William diam saja, tidak melakukan perlawanan kepada mommy-nya. Bagaimanapun pasti dia yang akan disalahkan. Semua pasti akan menyalahkan dirinya. Bahkan dia sendiri tidak tahu harus bicara apa kepada Mentari tentang hasil tes DNA-nya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya sebagai cucuku!" teriak Jennifer. "Jangan sematkan nama Green di nama bocah itu! Aku tidak akan rela! Begitu juga dengan Daddy kamu!" Jennifer memberikan peringatan kepada William.


"Baik, Mom." William menganggukkan lagi kepalanya.


******


     William masuk ke dalam kamarnya dengan lesu. Kini dia harus menghadapi istrinya. Wanita yang paling dicintai olehnya.


    Mentari terkejut melihat penampilan suaminya. Sangat kacau dan berantakan. Ada luka di beberapa bagian wajahnya.


"Oppa," Mentari berkaca-kaca melihat keadaan William. Bagaimanapun juga laki-laki yang berada di hadapannya adalah orang yang dicintai dan disayangi olehnya.


"Pasti ini sakit sekali," kata Mentari sambil meringis saat dia menekan dan mengoles salep pada luka-luka yang terdapat di wajah suaminya.


"Tidak. Rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan dengan sakit di hati yang kamu rasakan, Baby." William menatap Mentari dengan tatapan terluka.


"Apa ada yang ingin Oppa bicarakan kepadaku?" tanya Mentari begitu selesai mengobati luka di wajah suaminya.


    William memegang tangan Mentari kemudian mencium tangan istrinya itu berkali-kali. Dia juga kemudian mengusap lembut pipi Mentari.


"Maafkan aku, Mentari. Selalu saja menorehkan luka di hatimu," kata William dengan sungguh-sungguh dan air matanya lolos membasahi pipinya.

__ADS_1


     William menutup mulut Mentari, ketika istrinya itu sudah membuka mulutnya dan hendak berbicara. William pun menggelengkan kepalanya, isyarat Mentari dilarang bicara.


"Aku benar-benar sangat mencintaimu. Hanya kamu yang selalu ada di hatiku. Tapi aku selalu saja melakukan kebodohan dan akhirnya akan melukai wanita yang aku cintai." William tidak bisa menahan tangisannya. Dia juga merasakan sakit yang amat sangat di hatinya. Melihat tatapan terluka istrinya, dia juga merasakan sakit itu. Semua kesalahan yang dia lakukan itu juga bukan keinginannya. Kalau boleh memilih lebih baik, cukup hanya dia saja yang merasa terluka dan sakit, daripada harus melihat Mentari menangis dan bersedih.


"Sekarang pun aku lagi-lagi akan membuatmu terluka. Maaf ... aku benar-benar minta maaf. Kamu boleh memukul atau memaki sepuasnya, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku!" pinta William kepada Mentari.


    Mentari menyeka air mata William yang terus mengalir membasahi pipinya. Dia juga semakin terluka melihat suaminya kini. Mentari pun menganggukan kepalanya.


"Sebenarnya tes DNA sudah aku tahu hasilnya. Dan itu yang membuat aku sampai jatuh sakit kemarin. Karena begitu memikirkan dirimu. Aku takut kamu akan marah dan meninggalkan aku. Sungguh aku takut sampai stress memikirkannya. Maafkan aku Mentari karena tidak langsung memberitahu kamu, kemarin." William memegang tangan Mentari yang sedang menyeka air mata di pipinya. Diletakan tangan Mentari di dadanya yang sedang bergemuruh itu.


"Hasilnya positif, kalau aku dan Allura, ayah dan anak." Suara William semakin melemah karena menahan suara tangisannya. Dia sebenarnya tidak mau membuat hati istrinya terluka lagi.


"Pukul atau makilah aku! Jika itu akan membuat hatimu lebih baik. Tapi jangan tinggalkan aku. Aku mohon!" William menatap Mentari.


    Mentari melihat tatapan William penuh dengan luka dan rasa kesakitan yang amat sangat. Sebab dia juga sedang mengalaminya. Dia juga tahu betapa sakitnya jika membuat orang yang kita cintai itu terluka karena perbuatan kita.


    Mentari memeluk leher suaminya itu dan meletakan kepala suaminya di dada. "Menangis 'lah jika itu membuat hati dan pikiran Oppa lebih baik," kata Mentari.


    William membalas pelukan Mentari. "Maaf ... maaf," hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut William. William pun menangis tergugu dalam pelukan Mentari.


"Iya ... aku sudah memaafkan Oppa. Aku sudah ridho menerima takdirku ini. Allah itu sayang kepadaku. Aku punya suami yang mencintai dan menyayangiku. Punya mertua yang sayang sama aku. Dan kini aku juga punya putri yang melengkapi rumah tanggaku," kata Mentari. 


    Mentari sudah menerima takdir yang di gariskan untuknya. Lagi pula semuanya sudah terlanjut terjadi. Mau bagaimanapun itu tidak akan kembali lagi. Dia yakin Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.Setiap hal yang terjadi akan ada hikmah dibalik semua itu. Banyak kejadian sulit yang telah dialami. Namun semua itu tidak serta merta menutupi kebahagiaan terbesar yang dimiliki sepanjang hidupnya yaitu, menikah dengan William,pria yang dia idamkan selama ini.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2