Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (33)


__ADS_3

     Fatih dan Alif kini sudah berada di dalam kantor CEO. Kedua sahabat itu duduk berhadapan, hanya terhalang meja. Keduanya sedang terlibat pembicaraan serius. Lebih tepatnya, Fatih yang banyak bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya.


     Alif yang mendengar secara seksama, dan sesekali menimpali pembicaraan Fatih. Alif pun kadang mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti.


"Setelah mendengar cerita kamu, barusan. Aku teringat kepada kisah kakak ipar. Dia yang begitu mencintai istrinya, tiba-tiba saja menjadi membencinya. Bahkan dia sampai menceraikannya. Kemudian dia menikahi seorang wanita yang … yah, kamu tahu sendiri. Jauh sekali dengan istri pertamanya."


"Suatu hari aku sedang mengaji, di dekatnya. Tiba-tiba dia berteriak seperti orang yang kerasukan setan. Setelah didatangkan seorang ustadz dan meruqyah dia. Ternyata kakak ipar itu, telah di guna-guna agar membenci dan menceraikan istri pertamanya." 


"Kami semua,yang ada di sana, sangat terkejut. Ternyata keluarga istri keduanya itu, datang ke dukun dan memintanya, agar memisahkan kakak ipar dengan istrinya."


    Alif menceritakan kisah kakak laki-laki dari istrinya itu.


"Kamu berpikir, kalau aku sudah kena guna-guna?!" Fatih tidak terima, karena selama ini dia selalu mengingat Allah.


"Ingat! Setan selalu mencari celah untuk bisa menyusup dalam hati manusia, dan menjerumuskan ke dalam dosa. Harusnya kamu berpikir, kenapa selalu ada yang mengirim foto-foto Mentari saat dengan Arman? Karena dia ingin kamu marah. Saat itulah setan akan menyusup kedalam hati kamu." Alif duduk bersandar sambil memandang ke arah sahabatnya.


"Kalau begitu, aku akan mencoba ruqyah mandiri," kata Fatih sambil berdiri.


"Iya, dan aku akan mengawasimu," kata Alif sambil diiringi tawanya yang renyah.


******


    Widuri sedang duduk di ruang yang remang-remang, karena ruangan itu tidak ada jendela kacanya. Dia sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki paruh baya.


"Bagaimana Mbah? Apa sudah ada hasilnya?" tanya Widuri kepada laki-laki yang dipanggilnya Mbah itu.


"Tentu saja sudah! Kamu itu meremehkan ilmu dukun yang aku kuasai!" Mbah dukun yang didatangi oleh Widuri merasa terhina.


"Bagus! Lalu bagaimana hasilnya sekarang?" tanya Widuri lagi dengan penuh semangat.


"Dia mulai membenci istri yang sangat dicintainya itu! Tunggu saja sebentar lagi dia pasti akan menceraikannya," jawab si Mbah dukun sambil melihat air di dalam wadah yang terbuat dari tembaga.


"Bagus Mbah! Ingat, nanti buat Fatih tergila-gila sama putriku, Jihan!" Widuri tersenyum lebar dengan matanya yang berbinar-binar.

__ADS_1


"Itu perkara mudah! Asa ada …," Mbah dukun menggerakan jari-jarinya, sebagai tanda uang bayaran.


"Masalah uang tenang saja Mbah! Ini aku bawa uang yang banyak!" Widuri mengeluarkan amplop berwarna kopi susu yang lumayan tebal isinya.


"Kalau Fatih sama Jihan sampai menikah. Aku akan kasih uang yang banyak lagi!" kata Widuri dan itu membuat si Mbah dukun semakin semangat.


    Widuri pun pulang dengan perasaan senang. Dia datang ke rumah dukun itu di antar sama tukang ojek. Tanpa sepengetahuan keluarganya. Tentu saja, karena dia tahu. Kalau semua keluarganya pasti akan melarangnya. Karena itu perbuatan musyrik, yang dosanya tidak akan diampuni.


******


    Fatih pun memulai meruqyah dirinya sendiri. Karena masih waktu Dhuha, maka Fatih sekalian sholat Dhuha terlebih dahulu. Kemudian melanjutkan dengan meruqyah dirinya. Saat itu Fatih merasa mual dan pusing. Maka dia pun mengambil air putih dan membacakan ayat suci Al-Qur'an (Q.S Al Baqarah ayat 255, Q.S Al Ikhlas, Q.S Al Falaq, dan Q.S An-nas) dan meniupkan ke dalam gelas yang di pegangnya. Kemudian Fatih muntah-muntah, Alif yang setia menunggu, membantu memijat tengkuknya.


"Kita minta bantuan ustadz Rizal saja," tawar Alif kepada Fatih.


"Iya, bisa kamu hubungi dia untuk datang kemari?!" pinta Fatih kepada Alif untuk menghubungi saudara jauh, sepupunya itu.


   Tak berapa lama, ustadz Rizal pun datang. Dia membatalkan kelas belajarnya demi membantu sepupunya yang sedang kena guna-guna.


"Aduh … Kang Fatih, kenapa bisa begini?!" Rizal terkejut saat memasuki kamar Fatih yang ada di kantornya.


    Maka Rizal pun meruqyah Fatih dan memakan waktu cukup lama.


******


     Sementara itu di tempat Mbah dukun, dia muntah-muntah darah karena tidak sanggup melawan. Malah dia yang kena serangan balik dari ilmu hitamnya sendiri.


"Ternyata dia bukan orang sembarangan … bisa-bisa aku mati duluan!" kata si Mbah dukun itu.


"Aku sudah tidak sanggup lagi untuk melawannya …," kata si Mbah dukun sebelum pingsan.


******


     Karena seharian tadi Fatih tertidur, apalagi hari ini niatnya mau pulang kembali ke rumahnya. Karena pekerjaan pemasangan lift di rumahnya sudah selesai.

__ADS_1


    Setelah kembali ke rumahnya, Fatih masuk ke ruang kerjanya. Karena pekerjaannya menumpuk. Sampai-sampai dia melewatkan makan malamnya. Hanya saat sholat saja dia keluar ruangannya. Itu juga sehabis pulang dari masjid langsung masuk ke ruang kerjanya lagi.


    Tentu saja itu membuat Mentari dan Zahra cemas. Apalagi Mentari, merasa kalau gara-gara dia, Fatih tidak makan malam. Karena dia yang sudah memasak untuk menu makan malamnya. Semenjak suaminya pulang, Mentari ingin membicarakan masalahnya. Namun niat itu di urungkannya. Karena melihat Fatih yang lesu. Mentari tidak mau membuat suaminya itu semakin kesal padanya.


    Mentari merasa malam ini, giliran dirinya yang akan tidur dengan Fatih. Dia sudah menunggu di dalam kamar barunya. Karena kamar yang kemarin di tempatnya. Kini ditempati kembali oleh Zahra.


    Jam dinding sudah menunjukan tengah malam. Namun Mentari belum juga tidur, dia menunggu Fatih datang ke kamarnya. Karena sudah lewat dari tengah malam, maka Mentari pun memutuskan mendatangi dulu ruang kerjanya. Bila tidak ada, berarti suaminya itu tidur dengan Zahra.


    Mentari melihat lampu di ruang kerja suaminya masih menyala. Maka dia pun mengetuk pintunya.


"Kak, boleh saya masuk?" tanya Mentari dengan suaranya yang sedikit bergetar.


    Fatih merasa terkejut, saat mendengar suara Mentari. Dilihatnya jam yang tergantung di atasnya sudah menunjukan hampir jam satu dini hari. Fatih sungguh terkejut, dia tidak sadar kalau sudah lewat tengah malam.


    Dengan cepat dia bangkit dari kursi kerjanya. Dibuka pintunya dan menampilkan sosok, wanita yang dicintainya itu.


"Ada apa? Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Fatih dengan suaranya yang lembut.


    Mentari hanya menundukan kepalanya, tidak berani mengangkat kepalanya. Takut tatapan tidak suka yang dilihatnya dari mata suaminya itu. Jadi dia memilih menundukan kepalanya.


"Ada yang mau aku kasih kepada Kakak." Mentari menyodorkan sebuah amplop kecil berwarna putih.


"Ini adalah rekanan di cafe dan restoran tempat saya sama Arman bertemu. Saya tidak ingin kedepannya hubungan kita menjadi buruk. Walau sudah berpisah. Karena bayi yang ada di dalam kandungan ada dua. Jadi kita bisa membesarkannya masing-masing satu anak. Kakak bisa menggugat cerai saya, bila bayi ini sudah lahir."


"Satu lagi … karena dulu Kakak meminta kepada Ayah saat meminang saya dengan cara yang baik-baik … maka kembalikan saya kepada orang tua dengan cara baik-baik juga."


"Semoga tali silaturahmi kita, tetap berjalan dengan baik kedepannya. Saya harap kebencian Kakak nantinya akan hilang."


     Mentari berbicara dengan nada suara yang bergetar. Dia menguatkan hatinya, saat berbicara. Sungguh dia tidak ingin terjadi perceraian lagi dalam hidupnya. Baginya cukup sekali dia mengalami kegagalannya dalam rumah tangga. Namun apa boleh buat, bila takdir sudah bicara. Manusia hanya berencana, dan Tuhan-lah yang menentukan.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL, BUNGA, KOPI YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2