
Mentari dan William menghabiskan waktu akhir pekan di sebuah villa milik keluarga Green. Letaknya di dekat pantai, yang memiliki panorama indah di waktu pagi dan sore hari. Meski hanya dua hari saja mereka di sana, William tidak mau menyia-nyiakan waktu liburnya. Dia ingin membuat Mentari merasa senang setelah jenuh selama lima hari dalam seminggunya.
William dan Mentari berangkat Jumat sore, sehabis pulang dari kantor. Jadi mereka akan menginap dua malam dua hari di sana. Pemandangan langit malam yang bertabur bintang, sangat disukai oleh Mentari. William sengaja berangkat sore, agar mereka dapat melihat pemandangan yang jarang ditemukan di tengah kota metropolitan, tempat tinggal mereka.
"Baby, apa kamu senang malam ini?" tanya William sambil memeluk Mentari dari belakang.
"Iya, aku sangat senang malam ini, Oppa." Mentari mengelus lengan kokoh yang melingkar di bagian atas perutnya yang buncit.
"Besok kita akan jalan-jalan di sisi pantai sambil melihat matahari terbit!" ajak William dan sesekali dia menciumi kepala Mentari.
"Oke! Aku akan menantikannya besok pagi," balas Mentari sambil mendongakkan kepalanya dan tersenyum senang. William pun mengecup bibir istrinya itu.
"Kalau begitu, ayo mommy dan debay harus bobo sekarang!" William membopong tubuh Mentari yang makin bertambah beratnya. Mentari pun memekik senang saat mendapat perhatian dari suaminya itu.
William membuatkan segelas susu untuk Mentari. Setiap pagi dan malam, William 'lah yang selalu membuatkan susu khusus ibu hamil, untuk Mentari. William ingin memastikan sendiri dan membuat segala yang terbaik untuk istri dan calon anaknya.
******
Setelah sholat subuh berjamaah, Mentari sudah tidak sabar ingin mengajak pergi jalan-jalan ke sisi pantai. William pun sengaja menjahili istrinya itu, dengan mengulur-ulur waktu keberangkatannya.
"Oppa Willi, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Mentari sambil bergelangut manja di lengan William.
"Masih gelap suasana di luar villanya juga," jawab William sambil menahan tawa. "Bobo aja lagi yuk!" ajak William sambil mengedipkan matanya.
"Nggak mau! Paling bukan bobo beneran nanti keburu tidak bisa melihat matahari terbit." Mentari menolak dengan tegas.
Mentari pun bangun dan berjalan ke luar kamarnya. Dia tahu kalau suaminya itu diam-diam mengikuti dirinya. Namun Mentari sengaja diam pura tidak tahu. Dia malah asik berjalan sambil merentangkan kedua tangannya. Menyambut angin yang menerpa tubuhnya. Sehingga mengibarkan bagian bawah gamis dan jilbab instan berukuran jumbo yang menutupi sampai perutnya.
William malah kesal sendiri karena Mentari malah terlihat menikmati acara jalan-jalannya sendiri. Nyanyian suara dari Mentari yang riang gembira, bahkan sampai terdengar olehnya. Akhirnya William pun berlari ke arah Mentari dan langsung membopongnya. Mentari pun memekik saking terkejutnya.
"Oppa! Apa-apa sich. Buat aku kaget saja!" pekik Mentari sambil menjerit dan memukul dada William dengan pelan.
"Itu karena kamu sangat menggemaskan, Baby!" William memutar tubuhnya dan membuat Mentari tertawa.
Kedua sejoli itu duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertautan, di hamparan pasir putih sambil menikmati pemandangan matahari terbit.
"Apa kamu senang, Baby?" tanya William dengan suaranya baritonnya sambil melihat ke arah Mentari.
__ADS_1
"Iya." Mentari menjawab tanpa melihat ke arah suaminya.
Mereka berdua duduk di sana sampai waktu sarapan. Sinar matahari pun sudah terasa agak panas. Mentari dan William pun berjalan kembali ke arah villanya.
"Aw ...."
Suara anak kecil mengaduh ketika pantannya jatuh mencium pasir. Ana kecil tadi menubruk tubuh Mentari dari belakang. Sehingga tubuh Mentari terhuyung ke depan, untung William cepat-cepat menangkap tubuh istrinya itu. Jika terlambat, mungkin Mentari akan terjatuh dengan posisi perut terlebih dahulu.
"Hei--" William ingin memarahi anak yang hampir membuat Mentari terjatuh, tapi dihentikan oleh Mentari dengan menarik lengannya.
"Hai, girl ... kamu tidak apa-apa?" tanya Mentari sambil mengulurkan tangannya kepada gadis kecil yang sedang membersihkan kedua telapak tangannya dengan menepuk-nepuk.
"Iya, hanya luka lecet saja," jawabnya sambil memandang ke arah Mentari dan William. Kemudian mengulurkan tangannya menyambut uluran Mentari.
'Anak yang cantik, mengingatkanku kepada Bintang. Matanya juga biru sama seperti dia. Kayaknya mereka seumuran' gumam Mentari.
Anak kecil itu dengan cepat lari lagi begitu berhasil berdiri dengan tegak. Sesekali dia menengok ke belakang seperti sedang di kejar oleh sesuatu.
"Anak tidak terima kasih," kata William dengan nada kesalnya dan memasang wajah cemberut.
"Sudah enggak usah dipikirkan, mananya juga anak-anak." Mentari menggelitik dagu William agar kembali tersenyum.
"Ini sha Allah ... Daddy juga harus ikut mendidiknya juga," balas Mentari sambil ikut memegang perutnya.
"Tentu saja!" William berkata penuh dengan semangat.
William mencium perut buncit milik Mentari yang sudah sangat besar. Dia sudah tidak sabar menghitung hari demi harinya.
******
Siang harinya Mentari dan William pergi jalan-jalan. Mereka mendatangi sebuah tempat dimana daerah itu banyak deretan kios dan cafe yang berjajar di sana. Mentari dan William memasuki restoran seafood yang terkenal dan kebetulan hari ini banyak sekali pengunjungnya.
Mentari yang penyuka makanan seafood, sangat antusias saat memesan makanan. Banyak menu yang sangat ingin dia cicipi. William pun membiarkan Mentari memesan semaunya, nanti dia juga akan ikut menghabiskannya.
Phone cell William berbunyi, begitu pesanan datang dan di hidangkan di atas meja. William sebenarnya malas mengangkat telepon kalau saat makan. Namun ini panggilan dari orang penting. Mau tidak mau, dia harus berbicara dengannya.
"Baby, makan duluan saja ya!" suruh William karena tidak mau membuat Mentari kelaparan.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Mentari melihat William berdiri dari kursinya.
"Ke belakang dulu," tunjuk William ke arah pintu menuju toilet. "Ada telepon penting masuk! Aku enggak mau keganggu, atau salah dengar," lanjut William.
Mentari pun menarik napasnya, kemudian melihat ke arah jendela sampingnya. Ada gadis kecil tadi, kini sedang berdiri di luar dan melihat ke arahnya.
Mentari melihat anak itu memegang perutnya. Maka dia pun mengangkat piringnya, dan memberi isyarat kepada gadis kecil itu menawarinya makan. Anak itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Maka Mentari pun mengajaknya masuk dan makan bersamanya. Dia juga menyeka mulut anak itu yang belepotan sama bumbu.
"Lanjutkan makannya!" Mentari menyuruhnya lagi karena gadis kecil itu malah diam terpana sambil melihat ke arah Mentari.
Mentari melihat cara makan anak kecil itu begitu cepat. Seolah dia benar-benar kelaparan karena belum makan berhari-hari.
Mereka berdua makan dengan rakusnya. Semua menu yang dihidangkan. Habis hanya dalam waktu yang singkat. Bahkan mereka pun tidak menyisakan untuk William. Setelah merasa kenyang kedua perempuan beda generasi itu berbincang.
"Nama kamu siapa?" tanya Mentari sambil tersenyum hangat ke arahnya.
"Allura," jawab gadis kecil itu sambil membalas senyuman Mentari.
"Nama yang cantik," balas Mentari.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini!" hardik seorang laki-laki paruh baya yang baru saja tiba di meja tempat Mentari dan Allura duduk. Membuat Mentari dan Allura terkejut.
******
Siapa itu Allura???
Lalu siapa laki-laki paruh baya itu???
Tunggu chapter selanjutnya 😊.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.