Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (62)


__ADS_3

     Khalid membawa semua orang dengan helikopter milik pasukan Keamanan Keluarga Hakim, untuk pergi ke villa keluarga di puncak. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke halaman belakang villa yang memang terdapat area helipad.


     Fatih pun membopong Zahra yang memeluk lehernya, begitu turun dari helikopter. Meski berjalan lumayan agak jauh ke villa tidak menjadi beban bagi Fatih karena berat badan Zahra sangat ringan.


     Ada perasaan sakit yang dirasa oleh Fatih saat menggendong Zahra. Dulu berat dia tidak seperti sekarang. Fatih serasa menggendong anak kecil.


"Mas," sapa Zahra.


"Ya, ada apa?" tanya Fatih yang masih berjalan.


"Aku ingin ke taman bunga dulu, boleh?"


"Iya, tentu saja." Fatih pun berjalan ke arah taman bunga yang berada tepat di samping villa.


     Taman bunga ini adalah tempat yang paling di sukai oleh Zahra saat menghabiskan waktu kalau datang ke sini. Fatih pun mendudukkan Zahra di kursi taman bersama dirinya.


"Mas, peluk aku!" pinta Zahra.


"Bukannya ini aku juga sedang memeluk kamu, Sayang," balas Fatih.


     Zahra duduk di kursi taman dan Fatih memeluknya dari samping.


"Dalam dekapan," bisik Zahra.


     Fatih pun kembali memangku Zahra dan memeluknya. "Apa terasa dingin?"


     Zahra menganggukan kepalanya.


"Kita masuk ke dalam rumah saja, ya. Kita istirahat dulu. Ingat kondisi kamu! Harus banyak istirahat nggak boleh kelelahan," lanjut Fatih.


"Saat ini aku hanya ingin berdua denganmu. Sebentar saja!"


     Fatih pun mengeratkan pelukannya agar Zahra tidak merasa terlalu kedinginan. Tanpa diduga, Mentari membawa selimut tebal untuk mereka.


"Pakailah ini! Diluar udara agak dingin." Mentari menyelimuti Zahra dan Fatih dengan selimut bulu yang halus.


"Terima kasih," kata Fatih.


"Apa perlu aku bawakan air hangat?" tanya Mentari.


"Iya, terima kasih," kata Fatih.

__ADS_1


"Tidak," ucap Zahra.


"Baiklah akan aku bawakan air madu hangat." Mentari pun kembali masuk ke rumah. Tidak lama kemudian dia membawa air madu hangat.


     Kini hanya ada Zahra dan Fatih, di taman itu. Keduanya hanya duduk terdiam menikmati semilir angin dan wangi dari aroma bunga.


"Mas,"


"Iya,"


"Seandainya hari aku mening—" ucapan Zahra perhentian karena Fatih meletakan jari telunjuk di bibirnya.


"Tidak ada kata seandainya. Hari ini kita semua akan bersenang-senang di sini, sesuai keinginan kamu." Fatih menatap sendu ke arah Zahra.


     Zahra menatap wajah Fatih, seolah itu sedang mengukir dalam ingatannya. Diusapnya dengan lembut wajah Fatih, mulai dari alis mata, kelopak mata, hidung, pipi, dagu dan terakhir bibirnya.


"Mas, tahu tidak? Kalau dulu Gaya pernah bilang bibir Mas Fatih itu seksi. Kalau kata Mentari, kissable. Terus mereka menanyakan sama aku, 'bagaimana rasanya ciuman sama laki-laki kaku?' aku jawab deg-degan." Zahra tertawa kecil teringat kisah dirinya dulu saat baru mengenal Gaya dan Mentari.


     Fatih pun tertawa kemudian berkata, "kenapa kamu jawabnya deg-degan?"


"Ya, memang seperti itu rasanya."


"Setelah itu, aku yakin pasti Gaya dan Mentari memberi tahu caranya berciuman?" goda Fatih kepada Zahra.


"Iya, sudah kebayang dulu kamu gimana? Aku sampai terkejut." Fatih membelai kepala Zahra.


     Saat keduanya terlibat obrolan kisah masa lalu yang membuat Zahra tertawa karena mengingat kejadian yang telah lewat. Aurora menghampiri mereka dan menyuruhnya masuk ke dalam.


     Semua orang sudah berkumpul dan makan nasi liwet bersama-sama. Aisyah dan keluarga kecilnya pun ikut datang. Bahkan keluarga di pesantren juga ada yang datang. Teman-teman mengaji Zahra waktu mondok juga datang.


"Mas, ini—" Zahra menangis terharu saat melihat teman-temannya ikut datang ke villa. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya yang pucat pasi.


"Mas sengaja mengundang mereka ke sini. Tapi, ingat kamu tidak boleh terlalu kelelahan. Mas, tidak mau kalau kamu memaksakan diri," kata Fatih.


"Terima kasih Mas." Zahra mencium pipi Fatih.


     Zahra kumpul bersama teman-temannya didampingi oleh Fatih. Mereka membicarakan kisah saat mereka mondok di pesantren dan sekolah dari zaman TK sampai SMA. Zahra kuliah di Mesir jadi sedikit teman kuliahnya dari Indonesia. Kecuali, di komunitas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir baru banyak.


     Fatih juga sengaja menyewa villa-villa yang ada di puncak untuk bermalam teman-temannya Zahra karena saat ini hari sudah sore. Fatih memberikan Zahra waktu satu jam untuk temu kangen dengan teman-teman masa kecil dan saat di sekolah. Setelahnya harus istirahat karena setelah magrib akan ada acara dengan seluruh keluarga saudaranya.


     Zahra pun menurut kata dokter saat disuruh istirahat. Fatih tidak mengizinkan siapapun untuk menemui Zahra saat tidur. Fatih walau tinggal satu atap bersama Mentari dan anak-anaknya, mereka berkomunikasi lewat telpon karena Fatih selalu berada di samping Zahra.

__ADS_1


     Si kembar malah senang bisa main bersama anaknya Erlangga dan juga si kembar Shine dan Sky. Aurora, Sinar, bahkan Mentari kalah sama anak-anak balita itu. Saat si kembar hendak dimandikan, mereka ngamuk tidak mau pisah dengan teman barunya. Jadinya, Mentari dan Pelangi memandikan lima anak sekaligus.


     Semua sholat berjamaah di lantai bawah. Zahra pun dibantu Mentari saat tayamum, dia juga sholatnya sambil duduk di kursi roda. Zahra selalu meminta Fatih yang menjadi imam sholatnya. Dia sangat suka mendengar suara Fatih saat membacakan ayat suci Al Quran.


     Setelah itu, mereka makan malam bersama. Zahra pun di suapi oleh Fatih, sesuai dengan menu dari dokter. Sementara itu, Mentari duduk tidak jauh dari Cantika dan Pelangi karena di kembar tidak mau jauh dari saudara yang lainnya.


"Ini bayi kayak sudah mengerti saja. Tidak mau jauh-jauh dari saudaranya." Mentari mendudukkan si kembar dekat dengan anak kembar Cantika yang lainnya.


     Si Trio Kancil sedang bersama Khalid dan Jafar sedang membicarakan cara berbisnis, kecuali Bintang yang sedang bersama Ghazali sedang makan sepiring berdua. Lebih tepatnya Ghazali menyuapi Bintang.


"Mas, Ghaza begitu sayang banget sama Bintang," kata Zahra sambil memerhatikan dua sejoli yang terpaut jauh umurnya.


"Tentu saja. Ghaza itu ingin punya adik perempuan. Pas Bintang baru lahir, Ghaza langsung mengklaim kalau Bintang adalah miliknya," balas Fatih sambil tertawa kecil.


"Akan bagus kalau mereka berjodoh," ucap Zahra.


"Eh, usia mereka terpaut sangat jauh. Bintang masih SD sedangkan Ghaza kuliah," tukas Fatih.


"Bukannya Mas Fatih dan Mentari juga terpaut sepuluh tahun. Mungkin saja, ucapan Kakek Lukman kalau jodoh Ghazali adalah Bintang itu bisa terjadi." Zahra mengingat kembali ucapan Kakeknya Fatih dulu.


"Ah, Ghazali itu sudah punya kekasih. Dia memiliki rencana akan melamar, makanya dia pulang ke Indonesia." Fatih membersihkan mulut Zahra menggunakan tisu.


"Baru juga mau melamar, jodoh siapa yang tahu. Seperti Mas Fatih, ternyata jodohnya Mentari."


"Iya, kamu benar, Sayang. Aku tidak pernah terpikirkan kalau akan punya dua istri."


"Tapi, aku sudah membayangkan saat Mentari bercerai dengan Kakek Willi. Mas begitu marah padanya, bahkan menghajarnya habis-habisan. Seolah tidak terima kalau Mentari disakiti olehnya." Zahra menatap lurus pada netra milik Fatih.


"Kalau itu Alex juga melakukan hal yang sama." Fatih mengatakan apa adanya dulu.


"Apa Mas tahu alasan khusus aku memilih Mentari dibandingkan wanita lain?" tanya Zahra masih melihat ke arah mata Fatih.


     Mendengar hal alasan khusus itu membuat Fatih merasa penasaran.


******


Apa alasan khusus Zahra menjadikan Mentari sebagai madunya?


Tunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.

__ADS_1


Dukung aku terus ya.


Terima kasih.


__ADS_2