
Mentari dan Fatih tidur di atas brankar, malam ini merupakan malam yang indah bagi keduanya, setelah kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Fatih tak henti-hentinya mencuri ciuman sayang kepada Mentari. Tentu saja sekarang Mentari menyambutnya dengan suka cita.
Keduanya begadang gantian menjaga si kembar karena hari ini Sinar di suruh pulang oleh Mentari. Biar istirahat, semenjak Mentari, melahirkan. Sinar yang selalu begadang menungguinya. Jadi, sekarang giliran Fatih dan Mentari yang begadang menunggui si kembar.
Senyum Fatih selalu mengembang ketika melihat copy-an kedua wajah anaknya yang mirip dia saat masih bayi. Bahkan Aurora saat pertama kali melihat wajah cucunya pun langsung bilang mirip Fatih saat masih bayi.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu sih, Mas?" tanya Mentari sambil melihat ke arah suaminya.
"Aku tersenyum karena melihat wajah si kembar sangat mirip denganku!" jawab Fatih sambil berjalan ke arah Mentari yang terduduk di atas brankar.
"Iya, aku kesal kenapa semuanya mirip sama kamu, Mas. Punyaku entah bagian apanya!" Mentari mengerucutkan bibirnya.
"Itu karena aku 'lah yang paling bersemangat saat membuat si Kembar! Besok-besok saat buat anak selanjutnya, kamu yang harus bersemangat," bisik Fatih menggoda Mentari, kemudian terkekeh saat melihat ekspresi wajah istrinya yang terbelalak.
"Mas, ngomongin apa! Ini jahitan masih basah! Sudah ngomongin anak lagi!" Mentari sewot sambil melotot ke arah Fatih. Satu kecupan diberikan Fatih kepada Mentari untuk meredam emosinya.
"Bukan sekarang, Honey. Nanti setelah si kembar agak besaran sedikit. Kita program anak selanjutnya." Senyum jahil Fatih, malah membuat Mentari malu dan memilih menyembunyikan dirinya di dalam selimut.
"Memangnya mau berapa banyak anak, Mas?!"
"Pokoknya harus lebih banyak dari anaknya Alex!"
"Maksudnya, Mas ingin punya anak lebih dari enam?!" Masih menutupi dirinya selimut.
"Hei, kenapa kamu bersembunyi seperti itu?!" Fatih mencoba menarik selimut, tapi Mentari memegangnya dengan sangat kuat.
"Aku malu membayangkannya, Mas!"
Mendengar ucapan Mentari, membuat Fatih menahan tawanya agar tidak menyinggung perasaan istrinya. Sepertinya baby blues syndrom masih kadang menghampiri Mentari. Jadi, orang-orang di sekitarnya harus sabar.
"Masih ada satu hal lagi yang bisa membuat wajah anak mirip kita loh?!" Lanjut Fatih yang masih senang menggoda Mentari.
"Apa itu?" tanya Mentari sambil membuka selimutnya hanya sampai batas matanya saja.
"Besarnya rasa untuk pasangan. Sepertinya rasa cintaku lebih besar dari cintamu, Honey!" Kerlingan nakal Fatih membuat Mentari mendengus.
"Tapi aku juga 'kan cinta banget sama kamu, Mas!"
"Tapi masih banyakan rasa cinta aku," balas Fatih tidak mau kalah. "Makanya, tingkatkan lagi rasa cinta kamu untukku, Sweetie. Agar nanti bayinya mirip kamu."
"Kalau ternyata anak kita nanti wajahnya gabungan kita berdua?!"
"Itu tandanya cinta kita seimbang."
"Ah! Terserah kamu saja, Mas. Aku mau tidur!" Mentari membalikkan badannya, memunggungi Fatih.
Fatih tertawa tertahan melihat tingkah istrinya. Dia puas menjahili Mentari yang sudah membuatnya gundah gulana, seminggu ini. Akhirnya, dia membiarkan istrinya untuk tidur kembali.
*****
Anggit menelepon seseorang untuk menyuruhnya melakukan sesuatu agar rencananya berhasil. Dia ingin semuanya lancar tanpa ada gangguan dan tercium seolah sedang direncanakan oleh seseorang. Selama di penjara dia memiliki kenalan dari berbagai kalangan. Kejahatan atau kesalahan yang mereka perbuat pun macam-macam. Dari yang mencuri karena kelaparan sampai pembunuhan berencana karena balas dendam. Anggit selama di lapas dia berbuat baik sehingga sering mendapatkan remisi. Ditambah maminya juga membayar jaminan menjadi tahanan luar. Membuat Anggit cepat bebas.
__ADS_1
"Mentari selama ini hidup kamu sudah seperti seorang putri. Kini saatnya kamu menjalani hidup sebagai rakyat jelata."
******
Seperti janji kemarin kepada Zahra, pagi ini Mentari dan Fatih membawa si kembar. Untuk berjemur di dekat ruangan Zahra. Aurora pun membawa Zahra keluar ruangannya. Keempat orang dewasa dan dua bayi kini sedang menikmati hangatnya sinar matahari pagi.
"Mas, si kembar ini wajahnya mirip sama kamu yang ada di album foto!" Pekik Zahra senang sambil mengelus pipi chubby bayi yang mulai berisi.
"Memang. Punya aku nggak ada satupun yang menempel!" Mentari kembali cemberut saat orang-orang bilang anaknya mirip Fatih semua. Padahal dia yang mengandung dan melahirkan si kembar.
"Honey, jadi cemburu, Sayang. Harusnya jangan bilang begitu!" Kata Fatih dan diikuti kekehan dari Zahra dan Aurora.
"Assalamu'alaikum, jagoannya Ibu!" Zahra meminta agar si kembar memanggil dia dengan sebutan 'ibu', karena Mentari dipanggil dengan nama 'Bunda', sedangkan Fatih dipanggilnya dengan sebutan nama 'Ayah'.
"Wa'alaikumsalam, Ibu!" Mentari meniru suara anak kecil sambil menggerakkan tangan si sulung yang memegang jemarinya.
Zahra dan Mentari pun mengomentari setiap gerakan dan ekspresi si kembar. Keduanya tidak mau diam terus saja mengoceh dengan bahasa bayi seolah keduanya selalu menimpali setiap pembicaraan Mentari dan Zahra.
Zahra sangat gemas ingin sekali menggendong si kembar. Namun, tenaganya kini belum memungkinkan karena kedua bayi itu sangat aktif bergerak. Jadinya, hanya bisa memandangi dari stroller bayi. Zahra pun mengajak bicara si kembar yang selalu merespon dengan jeritan dan senyuman. Saat Mentari mengajaknya bicara keduanya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya minta di gendong.
Hanya lima belas menit mereka di sana. Si kembar harus dibawa kembali, begitu juga dengan Zahra yang harus berada di ruangan steril dan tenang. Aurora tidak mau mencapaian kemajuan pengobatannya menjadi sia-sia. Walau hanya sebentar itu membuat Zahra sangat senang.
"Zahra cepat sembuh, ya. Kita besarkan si kembar bersama-sama." Mentari memeluk tubuh Zahra yang kurus.
"Iya, aku sekarang semakin semangat lagi ingin sembuh. Aku juga ingin ikut membesarkan si kembar dan melihat tumbuh berkembangnya anak-anak kita." Air mata bahagia Zahra meluncur, meski si kembar bukan dia yang melahirkan. Namun, rasa keibuan dalam diri Zahra, bangkit saat melihat senyum bahagia dari wajah kedua bayi itu.
"Hari ini si kembar akan dibawa pulang. Kamu juga segera pulang, ya. Kami menunggu kamu di rumah." Kata Mentari setelah menguraikan pelukannya.
*****
Mentari dibantu Sinar membereskan semua keperluan si kembar, sementara Fatih mengajak bercanda si kembar. Terdengar suara tawa dari keduanya saat Fatih melakukan gerakan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan bilang, "ciluk, ba!"
Mentari melihat sebentar interaksi ayah dan anak itu. Hanya senyuman kebahagiaan yang ditampilkan oleh Mentari.
"Ya Allah, mudah-mudahan kebahagiaan selalu menghiasi keluarga hamba-Mu ini." Mentari berdoa dalam hati.
Setelah semuanya siap mereka pun meninggalkan ruangan itu dan mampir dulu ke ruangan Zahra, untuk pamit. Ternyata di sana ada Mirna dan Abah. Bagi Abah ini bukan pertama kali bertemu si kembar karena setiap datang menjenguk Zahra. Abah selalu menyempatkan mendatangi si kembar dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Abah juga menganggap si kembar adalah cucu tertua. Sedangkan untuk Mirna, ini adalah pertemuan pertamanya dengan si kembar. Dia selama ini sibuk mengurus Aisyah yang masih terkena baby blues syndrom.
"Abah, Ummi, kami pulang dulu!" Mentari mencium kedua tangan orang tua Zahra untuk pamit.
"Hati-hati di jalan, ya. Nak! Abah titip, jaga si kembar dengan baik. Besok kalau ada waktu luang akan bersilaturahmi ke rumah. Apalagi kalau Zahra sudah pulang ke rumah. Abah akan sering main sama si kembar," kata Abah.
"Iya, Abah. Mentari akan selalu menunggu kedatangan Abah di rumah," jawab Mentari dengan senyuman di wajahnya.
"Lebih baik menghabiskan waktu dengan cucu sendiri," batin Mirna.
Setelah pamitan kepada semuanya, Fatih memboyong semua keluarganya. Apalagi nanti malam mau ada acara akikahan si kembar.
*****
"Mobilnya mana, Mas?" tanya Mentari begitu sampai di depan karena yang ada di dekat sana hanya ada taxi.
__ADS_1
"Itu, mobil kita!" Tunjuk Fatih ke mobil di belakang taxi.
"Ayo, semuanya! Kita naik ke mobil," ajak Aurora yang mendorong stroller bayi si sulung, sementara stroller berisi si bungsu, di dorong oleh Sinar.
Tiba-tiba Aurora bertabrakan dengan seseorang yang sama-sama membawa stroller bayi. Bentuk, warna, bahkan merk stroller bayi mereka berdua sama.
"Maaf, nyonya. Aku terlalu buru-buru karena taxinya sudah menunggu dari tadi," kata perempuan yang bertabrakan dengan Aurora.
"Iya, untung saja cucuku tidak apa-apa!" Aurora memeriksa keadaan si sulung.
"Tidak apa-apa 'kan, Mah?!" tanya Mentari.
"Iya, Alhamdulillah. Semuanya baik."
Tanpa mereka sadari kalau stroller bayi si sulung dibawa oleh perempuan itu dan masuk ke dalam taxi.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, Mentari melihat kalau si sulung tidak ada di sana, yang ada hanya sebuah boneka berbentuk bayi.
"Mah, ini bukan anakku!" teriak Mentari dan membuat semua orang terkejut.
******
Cuap-cuap para tokoh: Mirna vs Author
Mirna: Thor, kenapa karakter aku di Trio Kancil sama di DMCMS kok berbeda?
Author: Karena saat itu kamu tidak dekat dengan Widuri. Widuri itu membawa pengaruh buruk!
Mirna: terus, ya Thor. Banyak yang bilang kalau aku yang sudah kirim surat gugatan cerai untuk Mentari. Padahal 'kan itu bukan aku. (mode merasa terdolimi)
Author: Makanya, kamu jangan terlalu sentimen sama Mentari!
Mirna: Iya Thor, aku khilaf!
Author: Khilaf kok berkali-kali.
Mirna: Tobat Thor.
******
Jangan bilang sedikit ini hampir 1500 kata. Tinggal tambah sedikit bisa buat 2 BAB. Padahal Aku nulis paling sedikit 1000 kata.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
Buat kalian yang belum baca karya aku MAMAKU WANITA SUPER PAPAKU SUPER GENIUS. Baca ya, itu sudah TAMAT. Nggak akan sakit hati di sana.
__ADS_1