
Mentari begitu sampai rumah dia memasang wajahnya yang memancarkan rasa bahagia. Dia sudah tidak sabar ingin memberitahu William tentang kehamilannya. Namun saat dia masuk ke dalam rumahnya. Muka masam dan dingin dari suaminya yang dia dapat.
"Apa kamu sudah puas!" William menatap tajam kepada Mentari.
Mentari terdiam dan mengerutkan keningnya. Tidak mengerti apa maksud dari perkataan William tersebut. Jadinya dia hanya termangu. Dia belum mengerti kenapa suaminya tiba-tiba marah.
"A … apa--" Mentari tergagap.
"Apa kamu sudah tidak menganggap aku sebagai suamimu!" William meninggikan suaranya.
Mentari meneteskan air matanya, saat mendengar ucapan William, hatinya sangat sakit. Dia tak mengerti maksud ucapan William. Bagaimana mungkin dirinya tidak menganggap William sebagai suaminya. Bahkan dia begitu mencintai dan menyayangi William.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti!" Balas Mentari dengan suara yang nggak kalah tinggi. Mentari baru menyadari kalau selama ini emosinya enggak stabil karena lagi hamil.
William tersenyum kecut kearah Mentari."Kenapa kamu melakukan konferensi pers di kantornya Alex?" tanya William.
"Bukannya kamu tadi yang mengatakan kalau aku sudah membawa dampak buruk bagi keluarga Green. Saat aku meminta kamu pendapat tentang apa yang harus aku lakukan. Kamu malah mengusirku!" jawab Mentari.
"Saat aku mencoba memberikan penjelasan, dan berusaha mengembalikan nama baik keluargamu. Malah ini yang aku dapatkan lagi. Seolah semua kejadian itu adalah salah aku seorang!"
"Mana yang katanya suami! Dia tidak ada saat aku membutuhkan perlindungannya! Tidak ada saat aku lemah dan membutuhkan belas kasihnya!"
"Kamu ingin dianggap sebagai suami! Tapi apa kamu menganggap aku sebagai istrimu!" Mentari yang tersulut emosinya nggak kalah garang dari William.
"Lalu apa alasan kamu mau menikah dengan aku?!" tanya William dengan nada yang semakin dingin dan tidak berperasaan.
Mentari terkejut dengan pertanyaan ini. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan begini di saat seperti ini keadaannya.
"Memangnya alasan apalagi yang aku punya selain mencintaimu dan menyayangimu!" jawab Mentari sambil bibirnya bergetar menahan tangisnya.
Mentari merasa kalau rasa cinta dan sayang dia untuk William. Tidak pernah sampai ke hati suaminya itu. Mentari jadinya berpikir kalau dia sudah bertepuk sebelah tangan.
"Cinta? Sayang?" William tersenyum mengejek.
Mentari sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Begitu mendengar ucapan William barusan. Air matanya langsung mengalir di pipinya yang mulus.
__ADS_1
"Lalu ini apa!" William melemparkan sebuah alat rekaman ke atas meja.
"Mentari, bagaiamana hubungan kamu dengan kakek Willi?" terdengar suara Cantika.
"Tentu saja baik. Bagaimanapun aku harus menjadi istri yang baik baginya. Agar aku bisa mengeruk semua harta dia sampai habis." Suara Mentari kali ini.
"Hahaha, iya. Seperti kamu kemarin telah berhasil mendapatkan satu perusahaan dari Mbah Christopher. Kamu menjilat dia dengan kata-kata manis dan perbuatan yang menyenangkan hatinya. Langsung satu perusahaan berhasil dalam genggaman," suara Cantika tertawa dengan renyah.
"Ah … itu adalah saat-saat paling melelahkan. Aku harus berpura-pura menjadi menantu yang baik. Mengurus Kakek tua bau tanah itu sungguh merepotkan. Banyak maunya … tapi yah lumayan kalau bayarannya satu perusahaan itu, setimpal aku rasa." Suara Mentari mendesah dan kesal.
"Terus kali ini kamu akan mengeruk harta kakek Willi?"suara Cantika terdengar bersemangat.
"Iya, tentu saja! Memangnya aku menikah sama dia karena apa? Kalau bukan karena hartanya!" Suara Mentari terdengar begitu tegas.
"Hahaha, benar aku juga menikahi Alex karena hartanya yang begitu banyak! Nggak ada habisnya!" Suara Cantika terdengar begitu gembira.
"Semoga tujuan kita bisa segera tercapai!" Suara Mentari yang penuh semangat itu kini terdengar.
"Hahaha … dasar penggila harta! Apapun akan kamu lakukan," suara tawa Cantika terdengar sumbang.
"Hahaha … ya! demi harta yang banyak! Apapun akan aku lakukan. Bahkan menikahi laki-laki bodoh seperti William!" Suara tawa Mentari begitu terdengar gembira.
"Ternyata aku sudah tertipu, oleh sifat polos kamu itu. Wujud asli kamu ternyata lebih rendah dari pada para pe la cur di luar sana!" William menegaskan ucapannya.
Mentari sungguh sakit hatinya mendengar suaminya sendiri. Menyebut dirinya lebih rendah dari para wanita penjaja, pria hidung belang. Kata-kata William sungguh keterlaluan, baginya.
"Bukan … aku! Itu bukan aku … yang bicara!" Mentari yang menangis membantah tuduhan William, sambil tangannya menunjuk ke alat rekaman.
"Heh, mana ada maling yang mengaku saat tertangkap basah!" William masih tersenyum mengejek kepada Mentari.
"Terserah kamu! Mau berpikir seperti apa, yang jelas yang bicara itu bukan aku!" Mentari berteriak melampiaskan rasa sakit di hatinya.
"Baiklah kalau kamu mau harta yang banyak, akan aku kasih! Setelah itu kita akan berpisah. Untuk apa mempertahankan rumah tangga yang palsu seperti ini," kata William sambil menatap tajam Mentari yang kini jatuh terduduk ke lantai begitu mendengar kata berpisah. Tatapan matanya langsung kosong.
"Kamu benar! Aku adalah laki-laki bodoh yang sudah terjerat akan cinta buta kepada dirimu. Dengan mudahnya aku jatuh cinta kepadamu. Bahkan bagiku kamu lebih berarti daripada nyawaku!" William mengeluarkan isi hatinya dan air matanya jatuh dari kedua matanya.
__ADS_1
"Semua yang ada pada dirimu, sudah membuat aku tak berdaya. Senyumanmu, tawamu, sifat manja kamu, suara kamu, tingkah lakumu. Semua itu membuat aku--" William tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
"Huh … ayo kita akhiri hubungan ini, semuanya sampai di sini!" kata William sambil melihat Mentari yang memukul-mukul dadanya.
"Apa maksudnya itu, William?" terdengar suara laki-laki yang sudah tidak asing baginya.
Sinar langsung berlari ke arah Mentari yang sedang duduk di lantai dan membangunkannya. Sedangkan Ja'far berdiri dengan tegap di dekat pintu ruang itu.
"Wah atau jangan-jangan Anda juga ikut terlibat di sini? Aku rasa begitu … karena mana mungkin dia bisa berbuat nekat kayak begini, kalau tidak ada yang mendukung dirinya." William kini menatap ke arah Ja'far dengan tajam seolah sedang merendahkan mertuanya itu.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Sinar yang memeluk Mentari.
"Karena pernikahan ini cacat, maka aku akan menceraikan Mentari!" Suara William terdengar menggema di telinga Mentari.
Mentari mengeratkan pelukannya kepada Sinar. Kepalanya dia geleng-gelengkan, seolah sedang mengusir suara yang masuk ke telinganya.
Pernikahan yang belum juga genap satu tahun harus kandas. Suaminya juga meragukan akan ketulusan perasaan dirinya. Mentari kini pasrah, terlalu sakit hatinya. Mendengar setiap ucapan William.
"Baiklah jika ini sudah keputusan kamu. Semoga kamu tidak akan menyesalinya!" balas Ja'far begitu mendengar ucapan dari menantunya itu.
"Ayo, Sayang kita pulang! karena sudah tidak ada lagi urusan kita di sini!" suara Ja'far yang biasanya terdengar seperti bapak yang bijak. Kini terdengar tegas dan menyindir.
Mentari melepaskan cincin kawinnya, kalung berlian yang ada di lehernya, serta sepasang anting. Dia tidak mau membawa sedikit pun harta atau apapun itu, yang pernah di berikan oleh William kepadanya.
"Masalah hak kepemilikan perusahaan, tinggal kamu akuisisi saja. Aku tidak membutuhkannya." Mentari menarik napasnya.
"Satu hal yang perlu tahu. Kalau perasaanku kepadamu itu bukan bohongan atau rekayasa. Kamu adalah laki-laki pertama bagiku, kamu adalah cinta pertama bagiku. Terima kasih untuk semuanya! Aku sungguh sangat bahagia saat menjalani rumah tangga ini. Walau belakangan kebahagian itu mulai memudar. Sekali lagi terima kasih! Kita akan bercerai secara resmi sekitar enam sampai tujuh bulan lagi!" Mentari yang sudah bisa menguasai dirinya, kini menerima takdir jika ini yang terbaik untuknya.
*******
Maaf ini seharusnya UP saat isya, karena batu hp habis, jadi baru sekarang dini hari bisa up.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.