Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (22)


__ADS_3

      Pagi harinya, Fatih dan Mentari masih menghabiskan waktu di hotel. Mereka rencananya akan berangkat kerja ke kantor bersama. Itu sudah direncanakan kemarin sebelum mereka pergi makan malam bersama. Jadi persiapan mereka sudah matang, paginya tidak perlu pulang ke rumah untuk membawa baju ganti Mentari. Kalau punya Fatih ada banyak di kamar khusus hotel miliknya.


     Mentari sangat terkejut saat melihat ada puluhan pesan dan puluhan panggilan dari Zahra.


"Mas, Zahra semalam menghubungiku. Aku lupa kalau handphone milikku dalam keadaan senyap." Mentari memperlihatkan benda pipih itu kepada suaminya.


     Melihat itu, Fatih juga langsung ngecek handphone miliknya. Ternyata panggilan miliknya mencapai lebih dari seratus panggilan, dan puluhan pesan yang dikirim oleh Zahra. Melihat panggilan yang begitu banyak dari Zahra, membuat Fatih khawatir.


"Apa semalam sudah terjadi sesuatu dengan Zahra?" gumam Fatih, tapi bisa didengar oleh Mentari.


     Fatih pun langsung menghubungi Zahra. Sudah beberapa kali panggilan dia layangkan, tapi Zahra tidak mengangkatnya juga. Itu malah makin membuat Fatih panik. Maka dia pun memutuskan menelpon mertuanya.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam, ada apa Nak Fatih? Tumben telepon ibu pagi-pagi begini?" tanya Mirna dengan semangat.


"Apa Zahra ada, Bu?"


"Lho, bukannya Zahra sudah pulang semalam di antar oleh Andromeda?!"


     Mendengar perkataan ibu mertuanya, membuat Fatih sangat terkejut. Ternyata semalaman istrinya itu mencari dirinya. Fatih kemarin sengaja telepon genggamnya dibuat dalam keadaan diam dan disimpan di dalam tas kerjanya takut kelupaan besoknya.


"Begitu ya, Bu! Terima kasih. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


     Fatih tidak bilang apa-apa kepada Mentari, tentang Zahra yang pulang semalam ke rumah. Dia akan menyelesaikan ini sendiri, karena Zahra pasti akan merajuk.


"Ada apa, Mas? Zahra baik-baik saja 'kan?"


     Mentari curiga kalau sudah terjadi sesuatu kepada Zahra, semalam.


"Iya, dia baik-baik saja. Paling dia merajuk." Fatih membawa tas kerjanya, "yuk, berangkat!"


     Fatih pun mengantarkan Mentari ke kantornya, hari ini dia mendapatkan lagi ciuman penyemangat. Saat hendak melajukan mobilnya, dia melihat dulu apa ada lipstik yang menempel di bibirnya. Fatih pun tertawa, saat ada lipstik Mentari yang menempel sedikit di bibirnya. Sebenarnya Fatih tidak mau menghapusnya, hanya saja dia tidak mau membuat Zahra tambah cemburu.


     Fatih pulang dulu ke rumahnya, setelah mengantarkan Mentari. Dia berlari memasuki rumah dan memanggil nama istrinya.


"Zahra!"

__ADS_1


"Zahra, kamu di mana?"


       Dicarinya Zahra di dalam kamarnya. Ternyata dia sedang meringkuk di lantai dekat ranjangnya. 


"Astagfirullahaladzim, Zahra!"


     Fatih membopong tubuh Zahra, dan membaringkannya di atas kasur. Diselimuti tubuh Zahra yang dingin, karena semalaman tidur di lantai. Fatih pun memanggil Dokter keluarga untuk datang kerumahnya.


    Setelah diperiksa oleh Dokter, Zahra siuman. Dia tidak sadar kalau dirinya itu sudah pingsan. Dilihatnya ada sang suami yang sedang duduk di kursi samping ranjangnya.


"Mas Fatih?"


"Zahra, akhirnya kamu sadar!" Fatih sangat senang saat melihat istrinya itu sudah siuman.


"Aku, kenapa?" Zahra dengan memasang wajah penuh tanda tanya.


"Mas menemukanmu, pingsan dan terbaring di lantai," kata Fatih sambil menggenggam tangan Zahra.


"Ini jam berapa Mas?" Zahra mencoba membangunkan dirinya.


"Hampir jam sembilan." Fatih melihat ke arah jam yang tergantung di atas dinding pintu.


     Zahra pun sholat subuh yang kesiangan. Karena dia semalaman menangis sampai tertidur. Sementara Fatih, dia membuatkan makanan sarapan untuk Zahra.


      Zahra menahan Fatih, agar tidak pergi kerja ke kantornya. Dia ingin menghabiskan harinya dengan sang suami. Fatih pun menyanggupi keinginan istrinya itu. Mereka berdua pun berencana akan menonton film romantis di mini bioskop yang ada di lantai bawah.


      Saat itu Mentari pulang ke rumahnya, untuk mengambil dokumen penting untuk rapat nanti siang. Dilihatnya Fatih yang sedang menyuapi Zahra, di ruang makan. Mentari tidak tahu kalau ada orang di rumahnya. Karena mobil Fatih tidak ada di halaman depan.


      Melihat kegiatan mereka berdua, yang sangat romantis di matanya, membuat Mentari tersenyum miris. Karena semalam, dia merasa mendengar pengakuan cinta Fatih untuk dirinya.


"Sepertinya semalam, aku sedang bermimpi," gumam Mentari sambil meninggalkan tempat itu dengan diam-diam.


     Siang itu Mentari makan siang di cafe dekat kantornya. Dia dan beberapa rekan kerjanya makan bersama di sana. Saat hendak keluar cafe, ada orang yang memanggilnya.


"Mentari?!" tanya seorang laki-laki berpenampilan sopan dan tersenyum ramah kepadanya.


"Siapa, ya?!" Mentari balik bertanya pada lelaki itu.


"Ini, aku. Arman, yang waktu itu akan dijodohkan oleh Nenek Ratih, kepadamu!" jawab Arman sambil tersenyum tersipu malu pada wanita cantik yang ada di hadapannya kini.

__ADS_1


"Oh … maaf aku tidak mengingat kamu," Mentari meminta maaf kepada laki-laki yang sedang berdiri di depannya.


"Tidak apa-apa. Lagian kita cuma bertemu satu kali."


     Karena waktu istirahat Mentari hampir habis, maka dia pamit undur diri. Sebenarnya Arman, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, kepada Mentari saat itu. Hari ini pun dia datang ke cafe itu pun sengaja ingin bertemu dengan Mentari. Arman menyayangkan, kenapa Mentari mau dinikahi oleh laki-laki yang sudah punya istri?


******


     Di lain tempat, ibunya Zahra menghubungi Aurora. Agar Fatih mengizinkan keponakannya, Jihan. Agar bisa bekerja di perusahaannya Fatih. Sesuai dengan keinginan Widuri, dengan alasan agar anaknya bisa bekerja sambil mengawasi Fatih.


      Padahal tujuan Widuri sebenarnya adalah agar Jihan bisa menggoda Fatih. Supaya bisa jadi istrinya yang ketiga.


"Aduh besan, kalau urusan itu harusnya nanya sama Fatih. Saya tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan anak saya."


"Saya mohon, kepada anda supaya membujuk Fatih, agar Jihan bisa bekerja di sana. Jadi OG (Office Girl) juga tidak apa-apa." 


     Aurora, mau nggak mau harus menuruti keinginan besannya itu. Dia akan membicarakannya nanti dengan Fatih. Tanpa Aurora tahu, kalau itu ada udang di balik batu.


     Aurora pun menghubungi Fatih dan membicarakan tentang keinginan ibunya Zahra. 


"Assalamu'alaikum, Ma. Ada apa?" tanya Fatih pada Aurora yang menelepon di sore hari.


"Wa'alaikumsalam. Fatih ada yang mau Mama omongin."


"Apa itu, Ma?"


    Aurora pun menceritakan semua pembicaraan dengan besannya itu kepada Fatih. Fatih juga sudah tahu tentang keinginan mertuanya itu. Fatih juga menceritakan kejadian yang menimpanya akibat obat perangsang. Tentu saja Aurora langsung marah saat mendengar itu. Maka Fatih pun tidak akan mau lagi dekat-dekat orang yang seperti itu. Aurora pun mendukungnya, agar anaknya terhindar dari godaan syaitan.


******


     Fatih yang sedang bekerja di ruang kerjanya, menerima sebuah pesan. Di sana ada nomor tak dikenal, mengirimkan beberapa foto Mentari sedang bersama seorang laki-laki. Terlihat kalau mereka tertawa bersama. Terlihat akrab satu sama lain. Rasa cemburu di dalam diri Fatih, akhirnya bangkit. Saat melihat wanita yang dicintainya sedang bersama laki-laki lain.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2