Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (35)


__ADS_3

     Mentari biasanya memandikan si kembar dibantu sama Fatih, jika dia berada di rumah. Mau itu memandikan saat di pagi atau di sore hari. Fatih sengaja tidak mau melewatkan kebersamaannya bersama keluarganya. Walau waktu yang dimilikinya hanya sebentar. Fatih selalu pulang kerja lebih awal, hanya untuk membantu Mentari memandikan si kembar. Sebelum, pergi ke rumah sakit untuk menemani Zahra, saat di malam hari.


"Honey, kayaknya berat badan Raihan dan Rayyan itu besaran Rayyan, ya?" tanya Fatih saat akan memakaikan baju untuk Rayyan.


"Iya, bisa kalau kembar itu, lebih besar adiknya, dibandingkan kakaknya," jawab Mentari, sambil membalurkan minyak telon pada tubuh Raihan.


"Akhirnya, selesai juga! Anak siapa sih, kok ganteng banget?" tanya Fatih pada Rayyan dan dijawab tawa riang oleh Rayyan.


"Untung saja, gen Ayah kuat. Jadinya, kalian tampan!" Fatih tidak sadar kalau ucapannya menyinggung Mentari.


"Oh, jadi kalau anak kita mirip aku, mereka tidak akan tampan! Begitu?" Mentari yang hendak memakaikan baju kepada Raihan, terhenti dan sewot sama, Fatih.


"Tidak, Honey. Kalau anak kita perempuan, pasti akan cantik seperti dirimu!" Satu kecupan Fatih berikan agar Mentari, tidak marah.


"Gombal!" Mentari melanjutkan lagi memakaikan baju untuk Raihan.


"Eh, tidak percaya! Aku kita buktikan, nanti buat anak perempuan yang wajahnya mirip dengan kamu, Lovely," kata Fatih sambil mengerlingkan matanya menggoda Mentari. Akhirnya, dia mendapat cubitan di pinggangnya karena Mentari, gemas sama Fatih.


"Tapi, itu beneran. Kita rencanakan program anak perempuan yang wajahnya mirip kamu," kata Fatih sambil menjauh dari Mentari.


"Mas, sudah sana pergi ke rumah sakit! Kasihan Zahra, menunggu!" Perintah Mentari kepada Fatih dan mengambil alih Rayyan dari gendongan Fatih.


"Masih ada waktu, sampai magrib, Honey. Apa kamu tidak mau bersama denganku," kata Fatih dengan tatapan terlukanya.


"Sudahlah, Mas. Jangan kebanyakan main drama. Aku nggak mau, ya! Nanti kalau anak-anak sampai meniru," kata Mentari, sambil membaringkan Rayyan di atas kasur dan berdampingan dengan Raihan.


"Mereka tidak akan meniru hal yang buruk. Bukannya mereka di besarkan dan dididik agar jadi, anak yang soleh dan benar!" Fatih memeluk Mentari dari belakang.


"Tapi, kalau mereka melihat kebiasaan orang tuanya. Maka mereka juga akan menirunya," kata Mentari sambil menatap Fatih.


"Hal seperti ini!" Satu ciuman mendarat di bibir Mentari.


"Akan ditiru oleh mereka, seperti Bintang, yang sering melihat Alex mencium, Cantika." Lanjut Fatih.


     Mentari malah tertawa, mengingat kembali kelakuan anak gadisnya Cantika, yang main sosor aja sama Ghazali. Sehingga, sering membuat Cantika, lelah menasehatinya. Untungnya, saat sudah baligh nggak lagi.


"Iya, aku nggak mau nanti Rayyan sama Raihan suka main sosor karena meniru apa yang dilihatnya."


     Fatih pun mendengus, kesal. Bisa-bisa nanti tidak bisa bermesraan dengan Mentari, kalau ada anak disampingnya.


     Fatih pun menghabiskan waktu bermain dengan si kembar dan Mentari, sampai menjelang magrib. Kemudian, Fatih akan ke rumah sakit, setelah sholat magrib.

__ADS_1


******


     Zahra sangat senang saat melihat Fatih, datang. Disambutnya dengan pelukan hangatnya.


"Bagaimana kabar hari ini, Sayang?" tanya Fatih.


"Alhamdulillah, baik, Mas," jawab Zahra diikuti seulas senyumnya.


"Syukurlah. Besok hari terakhir pemeriksaan, ya? Mudah-mudahan hasilnya mendapatkan hal yang memuaskan."


"Aamiin."


     Malam itu pun Fatih menemani, Zahra. Menggantikan Aurora yang sudah menjaga dari pagi sampai malam. Setelah, memastikan Zahra, sudah minum obat dan tidur. Kini bagian fatih, melanjutkan pekerjaan kantornya yang tadi siang tertunda. Fatih biasanya akan tidur saat jam 22.00 karena Mentari selalu mengingatkannya, jangan begadang.


******


     Zahra selesai melakukan pengecekan. Hasilnya lebih bagus dari hari kemarin. Jadi, Zahra sudah bisa pulang. Tentu saja Fatih, merasa senang. Hari ini dia sengaja tidak masuk kantor karena ingin mengetahui hasil pengecekan kesehatan Zahra.


"Alhamdulillah, Sayang. Akhirnya, kamu bisa pulang," kata Fatih.


"Iya, Mas. Aku sudah rindu rumah," balas Zahra.


"Semua barang milik Zahra, sudah Mama bereskan. Jadi, kita bisa langsung pulang." Aurora duduk di sisi brankar dan mengelus kepala Zahra.


     Abah dan Ummi pun datang ikut mengantar pulang Zahra. Fatih yang kembali ingat dengan handphonenya yang hilang, gara-gara disembunyikan oleh ibu mertuanya, menjadi kesal dan malas kalau terlalu lama harus berinteraksi dengan Mirna.


     Fatih tidak tahu kenapa Mirna selalu saja bersikap menekan kepadanya. Menyuruhnya untuk mengutamakan kepentingan Zahra. Menjadikan penyakit Leukemia, yang parah, alasan untuk mengikuti semua keinginan istri pertamanya. Kadang keinginannya itu malah membuat keadaan semakin parah dan kacau.


     Untungnya, Abah dan Mirna tidak satu mobil dengan Fatih. Kalau satu mobil, pasti dia akan ngoceh terus dan membuat Fatih bad mood. Zahra menaiki mobil Fatih, sementara, Mirna naik mobil Abah, yang dibelikan oleh Fatih.


******


     Mentari dan si kembar menyambut kepulangan Zahra. Mereka sudah menunggu di teras rumah depan. Fatih dan Zahra senang saat melihat si kembar dengan antusias menyambut kepulangan mereka. Zahra pun kini sudah bisa menggendong si sulung, sementara si bungsu di gendong oleh Aurora. 


"Oma, rindu kalian," kata Aurora sambil mencium satu persatu cucunya.


"Mas, Raihan dan Rayyan, besaran adiknya, ya?" tanya Zahra saat melihat kedua bayi itu berdekatan.


"Iya, tapi keaktifan keduanya sama. Sama-sama lincah, cerewet, dan jahil," jawab Fatih sambil tersenyum.


"Oh, benarkah? Jadi, anak ibu suka jahil, ya?" Zahra menciumi pucuk kepala Raihan.

__ADS_1


"Iya, dan korban kejahilan mereka adalah Bundanya," jawab Fatih sambil tersenyum geli kepada Mentari, yang dibalas cubitan.


"Aw, itu benarkan! Aku nggak bohong," kata Fatih merangkul pundak Mentari.


     Hari itu semua keluarga Fatih, orangtuanya, keempat mertuanya, berkumpul menyambut kepulangan Zahra. Mereka semua makan siang bersama. Begitu juga saat malam hari, Sinar dan Ummi membuat nasi liwet atas pesanan Zahra, yang rindu akan nasi berasa dan beraroma wangi khas rempah. Mereka semua pun menginap di rumah Fatih.


     Malam itu pun Fatih, tidur di kamar Zahra. Malam pertamanya setelah kembali lagi ke rumah.


"Mas, hari ini aku sangat bahagia sekali. Semua doaku dan apa yang aku angankan, terkabul." Zahra memeluk tubuh Fatih.


"Alhamdulillah, kalau begitu, Sayang."


"Aku pun tidak penasaran lagi. Seandainya, pengobatan kedua nanti, tidak sesuai harapan, aku tidak akan kecewa."


"Cepatlah tidur, tidak baik untuk kesehatanmu, jika begadang." Fatih pun mengusap kepala Zahra, yang memeluk tubuhnya. Fatih tidak suka kalau Zahra, selalu berpikiran pesimis.


"Hm." Zahra paling senang dalam posisi memeluk tubuh Fatih, dan kepalanya berada di dada bidang suaminya. Mendengar irama detak jantungnya, bisa membuat dia cepat tertidur.


"I love you, Mas." Zahra mencium bibir Fatih dengan mesra. Fatih pun membalasnya.


******


Cuap-cuap para tokoh: Aurora vs Author


Aurora: Thor, buatkan kisah aku sama Khalid, dong! kisah cinta kita nggak kalah seru sama kisah cinta mereka.


Author: Malas harus meriset kehidupan di Amerika era 70-an.


Aurora: Terus sampai kapan kisah Fatih, akan dibuat?


Author: Sampai Tamat. Terus tugas Mama Aurora, yang aku kasih, sudah selesai belum?


Aurora: Sudah dong! Tinggal kasih kejutan diwaktu yang tepat.


Author: Mama Aurora, memang hebat!


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2