Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (69)


__ADS_3

     Zahra telah dikebumikan, Mentari dan Fatih hanya bisa mendoakan putrinya yang belum bisa melihat isi dunia. Saat sore hari ada seorang laki-laki yang datang ke ruang rawat. Fatih berdiri dihadapannya dengan rasa menahan amarah.


"Kenalkan nama saya, Dwiguna. Saya ingin minta maaf, atas perbuatan saya yang tanpa sengaja sudah menabrak tubuh Nyonya Mentari membuatnya harus kehilangan anak kalian. Sungguh saya tidak tahu kalau semua ini bisa terjadi karena kecerobohan yang saya lakukan." Dwiguna meminta maaf sambil menangis.


"Kenapa Anda berlari di koridor rumah sakit?" tanya Fatih menahan diri untuk tidak memukulnya.


"Saya panik waktu itu. Saat sedang dinas di luar kota, mendengar berita kalau keluarga saya mengalami kecelakaan." Dwiguna malah menangis tergugu.


"Ibu, adik dan anak saya meninggal dunia sedangkan istri saya mengalami koma. Berita ini baru saya dapat kemarin, satu hari setelah kejadian. Pihak rumah sakit dan polisi baru bisa menghubungi saat subuh.


"Saya yang baru bangun tidur sangat terguncang mendengar berita itu. Untung ada teman yang baik hati mau mengantarkan. Saya langsung berlari begitu sampai di sini. Tanpa sengaja menubruk tubuh Nyonya Mentari.


"Saya siap menerima apapun keputusan Anda. Hanya saja Saya minta waktu untuk menghubungi keluarga istri yang ada di kampung untuk menjaganya. Saya baru saja selesai menguburkan jenazah ibu, adik dan putra semata wayang. Maaf saya terlambat tahu dengan apa yang menimpa Nyonya Mentari. Sekali lagi saya minta maaf." 


     Mentari yang mendengarkan kisah Dwiguna merasa iba. Harus kehilangan tiga orang sekaligus dalam satu hari pastinya akan terasa berat. Bagi Mentari yang kehilangan satu anak, dunia pun terasa runtuh. Apalagi ini tiga orang yang disayangi meninggal secara bersamaan.


     Fatih juga kasihan, tetapi dia ingin keadilan ditegakan. Hukum biar yang mengatur atas perbuatan Dwiguna.


"Saya turut berbelasungkawa atas yang menimpa keluarga Bapak Dwiguna. Tapi, karena kecerobohan Bapak menyebabkan kematian orang lain juga mencederai istri saya," kata Fatih.


"Saya juga turut berbelasungkawa, semoga mereka ditempatkan yang terbaik." Lanjut Mentari sambil menyeka air mata yang ikut keluar begitu mendengar cerita Dwiguna.


"Terima kasih," balas Dwiguna.


"Mas, aku minta cabut gugatan kita itu. Bapak Dwiguna juga tidak sengaja menabrak aku," ucap Mentari.


"Itu kita bicarakan lagi nanti dengan Papa," tukas Fatih.


******


     Mentari bisa pulang setelah tiga hari mendapat perawatan intensif. Kepulangannya disambut oleh semua anggota keluarganya. Bahkan ada Abah dan Mirna yang sengaja datang untuk menjenguk Mentari.


"Mentari yang sabar, ya! In sha Allah, Zahra mendapat tempat terbaik di akhirat nanti. Pastinya dia akan menanti kalian di depan pintu surga, untuk menyambut kedatangan orang tuanya," kata Mirna kepala Mentari.

__ADS_1


"Terima kasih, Ummi. Mentari sudah ridho, Zahra diambil kembali oleh Pemilik-Nya yang sangat menyayanginya." Mentari memeluk tubuh Mirna.


     Abah juga memberi nasehat dan mendoakan kebaikan untuk Fatih dan Mentari, juga si Kembar. Meski Zahra sudah tidak ada, hubungan dengan kedua orang tuanya masih terjalin dengan baik. Mirna juga masih menganggap Mentari dan Fatih adalah anaknya, juga si kembar adalah cucu tertua mereka.


     Teman-teman Mentari juga banyak yang menjenguk. Kedatangan mereka sedikit menghibur hatinya. Apalagi Gaya, dia bahkan sengaja menginap dan anak-anak dibawa ikut serta. Mentari sangat senang saat orang-orang yang berarti baginya selalu ada di saat dia butuh dukungan.


     Cantika belum bisa datang ke Indonesia, karena bayinya belum bisa dibawa bepergian jauh. Jadinya, hanya bisa lewat video call.


       Mentari dan Fatih mendatangi kuburan Zahra. Ternyata dia dikubur disamping makam Zahra. Dua kuburan dengan nama yang sama hanya beda nama belakang. Air mata Mentari lagi-lagi tumpah tidak terbendung. Melihat nama-nama orang yang disayangi terukir di batu nisan.


"Sayang, tunggu Bunda dan Ayah di sana, ya!" Mentari menyentuh batu nisan putrinya.


     Mentari dan Fatih duduk di sana hampir satu jam dan mengungkapkan perasaan mereka untuk seorang putri yang begitu mereka sayangi tetapi tidak bisa memeluk dan menciumnya.


******


      Satu tahun kemudian...


     Mentari dan Fatih menyibukkan hari-hari mereka dengan mengurus si kembar yang semakin aktif. Fatih bertugas memandikan anak-anak sedangkan Mentari membuat sarapan. 


     Fatih langsung memakaikan baju untuk Raya. Saat hendak menyisir rambut Ian betapa terkejutnya Fatih melihat wajah anaknya yang seperti pemain Kabuki. Wajahnya sudah putih semua oleh bedak.


"Astaghfirullahal'adzim, Ian kamu ini ...." Fatih antara ingin tertawa dan kesal saat melihat wajah anaknya.


"Nanti Bunda marah kalau kalian main-main seperti ini." Fatih membersihkan wajah Raihan dengan tisu. Si empunya malah tertawa melihat wajah ayahnya yang selalu frustasi saat pagi-pagi.


"Nah sudah ganteng. Diam dulu Ayah mau ngurus Raya." Fatih menjauhkan perlengkapan alat bayi agar Ian tidak lagi berbuat ulah.


"Astaghfirullahal'adzim, Raya itu minyak telon bukan minyak rambut!" Fatih memekik saat melihat rambut Raya diberi minyak telon langsung dari bolotnya. 


"Aduh ini bagaimana cara membersihkannya." Digosok rambut Raya dengan handuk, tetapi saat di cium rambutnya bau minyak telon begitu kuat tercium.


"Bisa-bisa nanti Mentari ngomel lagi." Fatih membuka baju Raya kembali dan hendak keramasin agar rambutnya tidak mau minyak telon.

__ADS_1


"Ian duduk dulu, jangan kemana-mana!" Perintah Fatih.


"Iya, Ayah." Ian pun nurut kalau nggak nanti tidak akan di ajak jalan-jalan.


     Setelah drama mengurus mandi anaknya, Fatih mengajak mereka untuk sarapan. Mentari menyambut ke tiga jagoannya dengan senyum cerah.


"Jagoannya Bunda sudah ganteng-ganteng nih. Sini Bunda kasih ciuman!" Mentari memeluk dan mencium pipi satu-satu anaknya. Begitu juga mereka mencium pipi Mentari.


    Fatih dan Mentari juga hanya memberi ciuman di pipi saja jika di depan anak-anak. Beda kalau di belakang mereka. Mereka sarapan sambil di selingi obrolan karena si kembar ngoceh terus. Rencananya hari ini mereka akan pergi ke rumah Erlangga, kebetulan keluarga Alex baru datang semalam.


"Sayang, kalian duduk manis di sini dulu, ya! Jangan kemana-mana!" Mentari dan si kembar berada di ruang bermain yang khusus di rancang untuk si kembar. Ruang bermain yang memiliki wahana bermain yang aman dan menyenangkan, sehingga mereka lebih suka bermain dari pada nonton televisi atau bermain handphone.


******


     Fatih dan Mentari mandi bergiliran, agar mereka bisa menjaga si kembar.


"Mas, tolong jaga anak-anak dulu." Mentari merapikan baju Fatih.


"Siap Nyonya! Tapi kasih daya dulu, biar ada tenaga buat jaga si kembar." Mentari memberikan ciuman kepada Fatih.


"Sudah!" Mentari hanya memberikan satu ciuman saja.


"Sayang, kita mulai program anak selanjutnya, ya! Si kembar juga sudah di sapih." Fatih malah memeluk tubuh Mentari.


"Tahan satu tahun lagi, ya?" Mentari tersenyum jahil.


"Ya, nggak apa-apa asal proses pembuatannya setiap hari." Fatih tersenyum jahil dan mendapat cubitan di pinggangnya.


******


Aku ngetik sambil mata berat kalau ada typo atau kata-kata rancu komen, ya. Nanti aku revisi.


Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.

__ADS_1


Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2