
Dyah tak bisa berbuat apa lagi karena Azka sudah membawanya ke dalam mobil sebelum pergi para pengunjung dan karyawannya histris melihat Azka begitu saja menariknya, sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa.
" Tuan muda kita mau kemana?. Saya sebentar lagi kuliah" kata Dyah mencoba untuk menghilangkan rasa gugup.
Azka hanya meliriknya dan kembali menjalankan mobilnya, Dyah kesal karena Azka tidak menjawab pertanyaannya. Dyah melihat jalan dengan memajukan bibirnya tapi bagi Azka sangat lucu.
Tiba saja mobil berhenti di toko buah membuat Dyah heran.
" Tuan kita mau beli buah untuk Ira " kata Dyah, menatap Azka, Azka terus memandangnya tertuju pada bibir mungil yang menariknya untuk menciumnya.
Dyah membesarkan matanya karena terkejut Azka menciumnya begitu lembut hingga tanpa terasa dia membalasnya, terjadilah ciuman manis antara mereka tanpa ada nafsu di dalamnya.
Karena kehabisan nafas Dyah memukul dada Azka, kening mereka saling beradu dan menarik nafas.
__ADS_1
" Dyah menikahlah denganku" kata Azka, memenjamkan matanya. Dyah mendorongnya karena terkejut.
" Apa maksud tuan muda?. Apakah tuan hanya ingin saya mengasuh nona seumur hidup makanya tuan bilang begitu saya, tuan tidak mencintai saya" kata Dyah, tertunduk dan sedih.
" Maaf tuan" kata Dyah, mencoba untuk keluar tapi ditahan oleh Azka dengan menariknya hingga Dyah berada di pelukannya.
" Gadis bodoh apa kau tidak merasakan debaran jantungku, Dyah aku pernah melakukan kesalahan padamu dengan menerima pernikahan.Kamu harus tahu Dyah aku jatuh cinta padamu sebelum dia datang lagi dalam hidupku ternyata dia hanya menginginkan kehancuranku, Dyah maafkan aku ayo kita memulai hidup yang baru bersama putri kita" kata Azka, melepas pelukannya dan tersenyum melihat Dyah tersenyum dan bersemu malu.
" Ayo kita ke rumah sakit setelah itu aku akan menantarmu ke kampus" kata Azka, memegang tangan Dyah.
Mereka telah tiba di rumah sakit Azka terus memegang tangan Dyah seakan hilang, semua orang di rumah sakit saling berbisik melihat seorang Azka Abbiya Alexanders yang terkenal debgan dinginnya bisa selembut pada seorang wanita, Dyah sudah merasa sangat malu karena semua mata tertuju pada mereka.
Azka membuka pintu dan mengucap salam.
__ADS_1
" Assalamualaikum" ucap Azka. " Waalaikumsalam" sahut mereka di dalam. Mami Atika, papi Ammar dan Akbar terkejut melihat mereka masuk dengan berpegangan tangan, mereka berfikir apakah terjadi sesuatu atau mereka melewatkan sesuatu.
" Bunda" kata Ira dengan bahagianya melihat Dyah datang, Dyah tersenyum melepas tangannya dari Azka dan mendekati Ira. Azka duduk di sofa tunggal dengan enam pasang mata menatap tajam padanya.
" Apa yang kalian fikirkan adalah benar" kata Azka. " Setelah Ira keluar dari rumah sakit aku akan melamarnya" sambungnya.
Mereka terkejut dengan apa yang di katakan oleh Azka membuat mereka bengong tanpa suara.
" Sepertinya putri papi bahagia sekali setelah kedatangan bundanya" kata Azka, tangannya memegang Dyah dan satu lagi mengelus kepala putrinya yang di perban.
" Ya pi Ira bahagia sekali Bunda akan tinggal bersama kita lagi kan? " Ira, dengan lirihnya.
Dyah tersenyum haru karena Ira sangat menginginkannya tinggal bersama.
__ADS_1
" Tentu sayang bunda akan tinggal bersama kita selamanya, sekarang putri papi harus sembuh dulu" kata Azka, Aquira menanggukan kepalanya Dyah dan Azka saling tersenyum.
" Kalian lihat itu adalah senyuman tulus yang ditunjukan oleh Azka sebelum dia meninggal" kata mami Atika, Akbar dan papi Ammar menanggukan kepalanya.