
Tak terasa Dyah sudah satu tahun bekerja di keluarga Alexanders sebagai pengasuh cucu keluarga ternama itu, Dyah sangat menyayangi anak asuhnya itu seperti anaknya sendiri bahkan lingkungan sekitarnya sudah mengetahui kasih dayang yang terjadi keduanya hingga banyak beranggapan bahwa Dyah cocok sebagai bunda dari Aquira.
Hubungannya dengan Azka semakin dekat setelah kejadian beberapa waktu lalu Azka tak pernah lagi meninggikan suaranya pada Dyah itu pasti akan berakibat buruk baginya, karena sang putrinya dan keluarga pasti membela Dyah.
Dyah sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya yaitu mencapai cita-cita nya sejak dulu yaitu menjadi pembisnis yang sukses, selama bekerja di keluarga Alexanders Dyah tidak mempergunakan gajinya secara berlebihan.
Saat ini keluarga Alexanders sedang menikmati sarapan pagi disiapkan oleh pelayan, Fathan sudah berangkat ke sekolah.
Dyah terlihat sangat gelisah dia memainkan tangannya menunggu majikannya makan, bibi Sumi bertanya ada apa dengan Dyah sejak tadi terlihat gelisah.
Bibi Sumi mendekatinya. " Dyah" panggil bibi menepuk punggungnya secara pelan. " Astagfirullah, bi" sahut Dyah terkejut melihat bibi Sumi di sampingnya, bibi tersenyum.
" Ada apa sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu pada nyonya? Bibi Sumi, Dyah menundukkan kepalanya sambil menarik nafasnya.
Dyah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. " Bibi Dyah buat susu untuk nona dulu" kata Dyah menuju dapur, bibi Sumi memandang kepergian Dyah dengan tatapan bingungnya.
" Mami, papi Azka berangkat dulu " pamit Azka menyalami orangtuanya. " Sayang papi berangkat kerja dulu ingat jangan nakal" kata Azka mencium pipi Aquira.
" Papi Ira nggk nakal" kata Aquira cemberut, Azka tersenyum dan mencium kening putrinya.
__ADS_1
" Dyah jaga putriku" kata Azka melihat Dyah datang membawa susu untuk Ira. " Baik tuan" sahut Dyah. Kemudian Azka memanggil supir untuk mengantarnya ke perusahaan.
Dyah menemani Aquira di ruang tengah bermain ular tangga, mereka bermain dengan riang.
" Sekarang giliran bunda" kata Aquira menberikan dadu, tapi Dyah hanya memegangnya tanpa mengocoknya.
Aquira memanggil namanya tapi tak di dengar oleh Dyah, dia terus melamun memikirkan sesuatu hingga membuat Aquira menangis.
" Hiks hiks hiks bunda, bunda ayo bermain" tangisan Aquira sambil menggoyangkan lengan Dyah, tapi Dyah tetap dengan posisi diamnya.
Bibi Sumi datang membawa minuman dan kue kering untuk mereka.
" Bibi Bunda tak mau bermain sama Ira" kata Aquira mengelap hidungnya, bibi melihat Dyah melamun.
" Apa ada dengan Dyah sudah 2 kali dia melamun" guman bibi. " Tidak ada nona mungkin bunda kurang sehat" kata Bibi Sumi.
Mendengar perkataan bibi Sumi semakin membuat Aquira menangis mendengar Dyah sakit, Ira berdiri dan memeluk lehernya.
" Bunda jangan sakit ya, nanti Ira sedih" kata Aquira. " Nona siapa yang sakit? " Dyah sadar dari melamun.
__ADS_1
" Itu kata bibi Sumi, katanya bunda sakit makanya dari tadi bunda tak mau di ajak bermain, maafin Ira" kata Aquira.
Dyah menatap bibibSumi yang tersenyum dibalas dengan senyum oleh Dyah.
" Kalian lanjutkan saja bermainnya bibi sudah membawa minuman dan kue kering" kata bibi meninggalkan mereka berdua.
" Sayang maafin bunda ya, sekarang ayo kita lanjutkan bermainnya" kata Dyah menghapus air mata Aquira. Mereka melanjutkan bermainnya.
Mami Atika memanggil bibi Sumi yang akan menuju ke arah dapur.
" Bibi" panggil mami Atika. " Ya nyonya" kata bibi Sumi menuju ke arah mami Atika berdiri tak jauh darinya.
" Bibi tadi saya dengar cucu saya menangis apakah terjadi sesuatu? " mami Atika.
" Nyonya sepertinya Dyah ingin bicara dengan anda dari tadi dia terlihat gelisah ingin mengatskan sesuatu tapi tak berani" kata Bibi Sumi.
" Bi katakan pada Dyah nanti saya ingin bicara selesai makan siang" kata mami Atika.
" Baik nyonya" sahut bibi. Mereka meninggalkan ruangan menuju tempat tujuan masing - masing.
__ADS_1