
" Hei kamu" Selly menunjuk ke arah Dyah dan mendekatinya resepsionis dan karyawan lain mwrada takut jika wanita ini berbuat sesuatu pada istri bos mereka pasti Azka akan marah besar.
" Nona dia" kata resepsionis tidak dihiraukan oleh Selly ia terus mendekati Dyah dengan tatapan benci Aquira melihat wanita di depannya yang berpenampilan berlebihan menjadi takut.
" Bunda"kata Aquira, dengan lirih Dyah menyembunyikan putrinya di belakangnya. Selly menatap Dyah dari atas sampai bawah ia senyum meremehkan penampilan Dyah yang sederhana.
" Mbak aku ke tempat mas Azka dulu" kata Fyah, mencoba tak menghiraukan Selly yang menatapnya dengan sinis, Dyah hanya mengkhawatirkan putri dan kehamilannya.
Saat Dyah akan berjalan tangannya di cekal oleh Selly hingga Dyah merasa kesakitan, resepsionis berusaha memberi pengertian pada Selly agar tidak menyakiti Dyah tapi Selly yang telah marah mendorong resepsionis hingga terjatuh para karyawan lainnya saling berbisik nasib buruk yang akan menimpa Selly.
" Aku akan memberitahu bos" kata salah satu karyawan.
" Cepatlah sebelum wanita itu berbuat sesuatu" kata temannya karyawan tersebut segera ke tempat Azka .
" Cepat katakan untuk apa kau mencari tuan Azka dan memanggilnya mas" tekan Selly.
" Dia suamiku" kata Dyah, dengan lirih menahan rasa sakit.
" Hahaha kau kira aku akan percaya dengan kau katakan takkan mungkin tuan Azka menyukaimu" kata Selly, dengan sinis.
Melihat bundanya kesakitan membuat Aquira marah .
" Tante lepaskan bunda Ira akan bilang ke papi" kata Aquira, mendorong keras Selly hingga mundur selangkah.
' Bunda dan dedek baik saja kan, hiks hiks" kata Aquira, memeluk kaki Dyah dan menangis
' Sayang bunda dan dedek baik saja karena kak Ira sudah melindunginya" kata Dyah, membalas pelukan putrinya yang masih memeluk kaki Dyah.
Selly terkejut mendengar perkataan Aquira yang menyatakan kalau wanita ini sedang hamil, ia melihat ke arah perut Dyah memang terlihat buncit.
Karyawan yang pergi menemui Azka sudah sampai di depan ruangannya kebetulan Azka dan lainnya baru keluar dari ruang rapat.
" Hei kamu apa yang dilakukan di sini" kata sekretaris, melihat seorang karyawan dengan takut dan berdiri di depan pintu ruangan CEO.
__ADS_1
Karyawan tersebut menatap Azka dengan ketakutan ia ingin menyampaikan sesuatu tapi mulutnya seakan berat untuk bicara. Azka menatap Akbar meminta mencari tahu aoa yang ingin di katakan oleh karyawan ini.
" katakanlah tak apa " kata Akbar, tahu ini padti sangat penting tidak mungkin karyawan ini datang ke ruangan Azka.
Dengan suara yang gemetaran ia memberitahu kalau Dyah ada di lobi dan bertengkar dengan wanita asing.
" kenapa kau tidak memberitahu sejak tadi, Ha " teriak Azka segera lari ke lift, karyawan takut melihat kemarahan Azka ia sudah mendengar kalau bos mereka dingin jika marah sangat menakutan ia sekarang merasakanya
Akbar menepuk punggung karyawan ini ia tahu dia tak salah dan meminta kembali ke tempatnya, Akbar segera masuk lift menyusul Azka, Azka merasa kesal karena lift lama.
" Akbar ganti lift ini " kata Azka, Akbar hanya bisa menanggukan kepalanya.
" Tuan ruangan anda ada di lantai lima belas" Akbar hanya berani mengatakan dalam hati.
" Baik tuan" kata Akbar, Azka terus marah karena mengkhawatirkan istrinya Dyah memang tidak memberitahu suaminya kalau ia ingin ke kantor dikarenakan memberi kejutan pada Azka.
Selly tidak menyerah ia harus mendapatkan keinginannya tak peduli harus dengan segala jalan,Selly tersenyum sinis ia memiliki rencana untuk menyingkirkan Dyah.
" AAA" Dyah berteriak karena Selly dengan sengaja mendorong Dyah.
" Bunda " teriak Aquira, ia sudah melepas pelukannya.
" Sayang, kamu baik saja kan" kata Azka, mengkhawatirkan istrinya, Dyah masih syok atas apa yang baru saja terjadi. Beruntung Azka tepat pada waktunya ketika Selly akan mendorong Dyah Azka sudah keluar dari Lift dan segera lari menolong istrinya.
" Papi hiks hiks tante itu jahat ia mendorong Bunda" Aquira, mengadu pada Azka. Azka menatap tajam ke arah Selly.
Selly melihat tatapan tajam Azka menjadi ketakutan dan merinding, Akbar segera memanggil karyawan wanita untuk menjaga Aquira.
" Nona kecil Ayo bersama saya" kata karyawanti, Aquira menanggukan kepalanya dan mendekatinya.
" Akbar, kamu pasti tahu apa yang harus di kakukan" kata Azka dengan dingin. Akbar menanggukan kepalanya
Akbar menggendong istrinya membawanya ke ruangannya ia sangat mengkhawatirkan keadaannya apalagi mengingat keadaan kehamilan istrinya sempat mengalami lemah, karyawan bersama Aquira mengikuti langkah Azka menuju ruangannya.
__ADS_1
" Kau apa yang di tunggu silahkan meninggalkan perusahaan ini" kata Akbar, menatap tajam ke arah Selly. Selly merasa takut segera lari meninggalkan perusahaan Alexanders Group dengan mobilnya.
" Kalian selidiki siapa wanita ini aku akan mengirim fotonya pada kalian, ingat saya butuh secepatnya" kata Akbar, memerintahkan anak buahnya melaksanakan perintahnya.
Akbar memerintahkan karyawan kembali pada tempatnya dan melanjutkan pekerjaannya.
" Kamu panggil dokter sekarang " kata Azka, pada sekretarisnya. Sekretaris tidak mengetahui apa yang terjadi hanya menuruti perintah Azka.
Azka dan lainnya masuk ke dalam ruangannya karyawan bersama Aquira sudah pamit.
" Sekarang mas akan membawamu ke ruangan itu biar Aquira menemanimu" kata Azka, menunjuk kamar dalam ruangannya.
Dyah memang merasa syok atas kejadian tadi hanya menurut dan kotak makanan sudah di antar oleh OB. Sebelumnya Akbar melihat kotak makanan di lantai di yakini pasti milik Dyah dan memanggil OB.
Setelah memastikan Dyah duduk dengan nyaman Azka kembali ke ruangannya sambil menunggu Dokter.
Tok tok tok
" Tuan muda dokter sudah datang" kata sekretaris datang bersama dokter diikuti oleh Akbar. Azka mempersilahkan dokter me. eriksa istrinya dan sekretaris pamit kembali ke mejanya.
" Gimana? " Azka, pada Akbar membicarakan apa yang terjadi di lobi.
" Tuan muda dia adalah putri dari tuan Robert zract yang merupakan sahabat tuan besar dan sepertinya ia kesini untuk mendekati anda setelah mengetahui kalau anda adalah putra dari tuan Ammar" kata Akbar, menyerahkan laporan pada Azka.
Azka tersenyum sinis setelah membaca laporan yang di beru oleh Akbar.
" Tuan muda" panggil Akbar melihat dokter keluar, Azka segera mendekatinya dan bertanya soal istrinya.
Azka merasa lega mendengar perkataan dokter nengenai keadaan Dyah mengalami syok atas kejadian yang baru saja terjadi dan kehamilannya baik saja, Azka meminta Akbar mengantar dokter keluar.
Azka mengajak istri dan putrinya keluar dan makan siang bersama ia tak ingin ustrinya kelaparan, Azka melihat makanan yang banyak di bawa oleh Dyah ia tahu istrinya pasti belum makan.
Dyah tersenyum suaminya sangat perhatian padanya sampai Azka menyuapinya dan Aquira menikmati makanan sambil membicarakan Selly, Azka meminta putrinya untuk diam takutnya Dyah akan terganggu.
__ADS_1