CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 79


__ADS_3

" Assalamualaikum " ucap Azka yang baru masuk bersama Akbar di belakang, Helena tersenyum sinis mengetahui Azka telah pulang.


Dengan menunjukan kesedihannya dia mendekati Azka.


" Azka hiks his" Helena menangis dan memeluknya, Azka yang mendapat pelukan Helena terkejut tapi matanya tertuju pada Dyah yang menundukan kepalanya.


" Helena kenapa kamu menangis? " Azka. Helena tersenyum sinis di pelukan Azka dia angkat kepalanya menghadap Azka.


" Azka pengasuh putrimu menabrakku lihat bajuku basah" kata Helena menunjukan pakaiannya basah.


" Dyah katakan apa yang terjadi hingga kamu menabraknya" kata Azka.


" Maaf tuan muda saya tidak sengaja, lain kali saya akan hati-hati" kata Dyah tak menatap Azka.


" Sayang jangan percaya padanya tak mungkin dia tak sengaja, sayang tadi aku memintanya untuk jangan membiarkan Aquira terus memanggilnya kata bunda apalagi kita sebentar lagi menikah, tapi dia tak mau malah memarahiku dengan menabrakku " kata Helena menujukan kepuraannya.


' Dyah apa benar yang dikatakannya mulai hari ini aku takkan membiarkan putriku memanggilmu dengan kata itu lagi" kata Azka dengan emosinya pergi ke kamarnya, Helena tersenyum karena berhasil membuat Azka marah besar.

__ADS_1


Dyah menundukan kepalanya dengan perasaan sedih dia melangkahkan kakinya ke kamarnya berbeda dengan Gabriel terkejut mendengar perkataan Azka tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena sejak tadi sahabatnya itu sedang emosi.


Dengan senyuman mengembangkan Helena meninggalkan keluarga Alexanders, Akbar hanya bisa menghela nafasnya secara berat.


Kamar Azka.


Azka menutup pintu kamarnya dengan kasar kemudian menuju kamar mandi dia menghela nafasnya secara kasar, dia menatap kaca dan meninjunya hingga berdarah.


" Azka apa yang telah kau lakukan" tekan Azka mengingat ketika dia memarahi Dyah di depan Helena, dia tahu kalau Dyah takkan sengaja melakukannya tapi entah kenapa dia mengeluarkan emosinya.


Kamar Dyah


Dyah duduk di sofa yang berada di kamarnyaair matanya terus mengalir, dia tidak sakit hati karena perkataan Helena padanya yang membuatnya sedih adalah kemarahan Azka padanya.


" Kakak baik saja" kata Fathan, memeluk kakaknya, Dyah tersenyum, mengelus punggung adiknya.


" Jika kak tak suka disini lagi tak apa jika kita pindah" kata Fathan, perkataan afiknya membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Fathan tahu sejak kakak itu datang kak sering menangis, Fathan tak suka dengan hal itu ayo kuta kita pindah dari sini " kata Fathan menatap kakaknya.


" Kamu serius dek bukannya kamu menyukai tinggal disini" kata Dyah, tak menyangka kalau adiknya ingin pindah.


" Fathan tahu walau nyaman disini tapi melihat kakak terus menangis sebaiknya kita pindah, dan Fathan akan berhenti dari sekolah dan membantu kakak mencari pekerjaan " kataFathan.


Dyah tertawa mendengar perkataan adiknyayang dewasa itu.


" Baiklah kita akan pindah dari sini dan untuk sekolahmu tidak perlu berhenti karena kakak sanggup membayarnyal" kata Dyah mengelus rambut adiknya, Fathan menanggukan kepalanya.


Malam harinya semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan mami Atika dan papi Ammar tidak mengetahui apa yang telah terjadi karena mereka menemui sahabat mereka.


" Bibi dimana Dyah kenapa dia tidak membantu Ira untuk makan" kata mami Atika melihat bibi Ina menyuapi cucunya.


" Dyah berada di kamarnya nyonya dia ingin menemani Fathan belajar" kata bibi Ina, berbohong. Mami Atika mengerti.


Mereka menikmati makanan berbeda dengan Azka tidak menikmati makanannya karena memikirkan Dyah.

__ADS_1


__ADS_2