CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Luka kecil


__ADS_3

Setelah mendapat kabar dari Azka bahwa Dyah sudah sadar bersama suster menuju ruang rawat Dyah, dokter Ryan melihat heran dengan Azka berdiri di depan pintu dengan menghela nafasnya berkali-kali.


" Azka kenapa berdiri di sini siapa yang menjaga pasien di dalam " kata Dokter Ryan menepuk punggung sahabatnya.


" Ryan ayo masuk periksa dia" ajak Azka, membuka pintu dokter Ryan bertanya ada apa dengan sahabatnya ini.


Dyah yang tidak bisa tidur karena ulah Azka padanya terkejut melihat Azka masuk bersama dokter, dia mencoba untuk senyum walau hatinya galau.


Dokter memeriksa luka Dyah dan mengganti perbannya.


Kret pintu terbuka masuklah mami Atika, papi Ammar, Aquira dan Fathan.


"Bunda, kakak" kata Aquira dan Fathan mendekati Dyah, Dyah menyambut mereka dengan senyuman.


" Ryan bagaimana? " mami Atika, berdiri di samping Dyah, Azka dan papi Ammar dufuk di sofa.


" Alhamdulillah tante lukanya hampir kering ini hanya luka kecil karena peluru hanya melewati lengannya" kata Dokter Ryan.

__ADS_1


" Dokter apakah sudah boleh pulang" kata Dyah, dia sangat ingin pulang jika di rumah sakit dia akan terus mengingat kejadian tadi.


Azka menatap tajam padanya Dyah menundukan kepalanya. " Kamu harus istirahat semalam lagi di rumah sakit" kata Azka.


" Tapi tuan saya sudah sembuh dan ini hanya luka kecil" kata Dyah, langsung terdiam dan menundukan kepalanya karena ditatap oleh Azka.


" Dyah dengarkan kataku tak ada bantahan" kata Azka, Dyah memajukan bibirnya karena kesal, Azka tersenyum tipis tak ada yang menyadarinya.


Tak ada yang mengeluarkan suaranya setelah Azka berkata seperti tadi, kemudian dokter Ryan pamit karena harus merawat pasien lainnya.


" Kakak baik saja dek kamu sudah dengarkan kata dokter tadi lukanya hampir kering" kata Dyah, Fathan menanggukan kepalanya.


" Nenek Ira ingin duduk di samping Bunda" kata Aquira menoleh pada mami Atika. " Sayang disini saja ya bersama nenek" kata mami Atika takut jika luka Dyah kembali terbuka.


" Tidak apa nyonya biar nona bersama saya nyonya bisa duduk" kata Dyah, mami Atika menggendong cucunya dan meletakannya di samping Dyaj sedangkan Fathan duduk di kursi dekat Dyah.


Mami Atika duduk di samping suaminya di sofa memperhatikan cucunya bercanda bersama Dyah dan Fathan.

__ADS_1


" Nak kamu tidak ke kantor biar kami yang menjaganya disini" kata papi Ammar, Azka melihat orangtuanya dan menoleh pada Dyah yang juga memandangnya.


Sebenarnya dia ingin tetap disini tapi perusahaan ada metting penting hari ini.


" Baiklah Azka hari ini ada bertemu klien nanti" kata Azka, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pskaian yang di bawa oleh mami Atika.


Azka pamit pada orangtuanya dan putrinya kalau dia akan ke kantor, setelah urusannya selesai dia akan kembali ke rumah sakit. Azka hanya melirik Dyah yang sedang bicara dengan putrinya tanpa dia sadari mami Atika melihatnya.


Azka keluar dari ruang rawat Dyah menuju parkiran para dokter dan suster menyapa, kemudian memanggil supir mengantarnya ke perusahaan Alexanders Group.


" Bunda ini pasti sakit Ira tiup ya pasti sembuh" kata Ira, meniup luka di lengan Dyah, Dyah tersenyum melihat ke arah adiknya masih sedih.


Dyah memeluk adiknya. " Dek kakak tak apa sekarang diamlah masa anak laki menangis" kata Dyah, Fathan menghapus air matanya dan menanggukan kepalanya.


" Bunda gimana sakitnya sudah hilang" kata Ira, Dyah mengelus rambut Ira. " Terima kasih sayang sekarang sakitnya sudah hilang" kata Dyah.


Aquira tersenyum memeluk Dyah orangtua Azka menggelengkan kepalanya melihat cucunya.

__ADS_1


__ADS_2