CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 121


__ADS_3

Dyah dan Azka menjalanni tradisi pingit tidak boleh saling bertemu maupun menelepon, mami Atika yang meminta mereka mengikutinya awalnya Azka menolak tapi dengan ancaman mami Atika yang menyatakan kalau pernikahan mereka nanti batal terpaksa Azka mengikutinya.


Dalam kamar


Azka berada di dalam kamar duduk di tepi kasurnya sambil memangku laptop memeriksa email yang dikirim oleh sekretarisnya, dia sekali melirik HP sangat ingin menghubungi Dyah.


" Mami ini ada saja masa aku dilarang menghubungi calon istriku sendiri" guman Azka, memikirkan apa dia mengirim pesan saja.


Azka tersenyum dia mengirim pesan pada Dyah.


" Assalamualaikum, sayang aku sangat merindukanmu tapi mami melarangnya" 😢


Dyah dan bibi sedang membuat cake untuk menghilangkan kebosanannya dan menemani saat ia menonton drama korea kesukaannya.


" Bibi waktu menikah dulu juga menjalani tradisi ini? " Dyah.


" Ya nona tapi karena rumah bibi dan almahum dulu hanya berbeda beberapa langkah jadi kami sering bertemu secara bersembunyi, tapi diketahui oleh ayahnya bibi makanya sejak itu bibi dilarang keluar dari kamar" kata bibi, mengingat masa lalunya.


" Pasti sulit ya bi" kata Dyah, bibi tersenyum.


" Awalnya sulit nona tapi berjalan waktu kami mengerti dan saling merindukan, ketika kami bertemu di hari H rasa rindu akan terobati ketika kami telah menjadi suami istri" kata Bibi, Dyah teesenyum dan menanggukan kepalanya.


Taklama terdengar suara HP berbunyi Dyah, Dyah mencuci tangannya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya ia tersenyum setelwh tahu siapa yang mengirim pesan.


" Bibi Dyah ke sana dulu" kata Dyah, menunjuk ruang tamu, bibi tahu siapa yang baru saja mengirim pesan pada Dyah, bibi tersenyum dan menanggukan kepalanya.


Dyah menuju ruang tamu duduk sambil membaca pesan yang dikirim oleh Azka.


" Waalaikumsalam, mas"


" Sayang kenapa baru sekarang balasnya" 😩


" Maaf mas Dyah lagi membuat cake bersama bibi Sumi, mas mau nanti Dyah kirimkan" 😊


" Pasti enak mas mau sayang, sayang kenapa mami minta kita jalani pingit mas kan nggk bisa melihatmu bahkan untuk mendengar suaramu saja tak boleh"😢


" Mas mami lakukan ini juga demi kebaikan untuk kita".Mereka menghabiskan waktu sejam saling mengirim pesan.


Dyah kembali ke dapur mengambil cake yang disimpan di kulkas oleh bibi.

__ADS_1


" Assalamualaikum" ucap Fathan yang baru saja pulang dari sekolah. Fathan masuk melihat tak ada orang di ruang tamu dan mencari keberadaan Dyah


" Kakak sedang apa?" Fathan.


" Astahhfirrurrah, dek kenapa nggk ucap salam dulu" kata Dyah terkejut mendengar suara adiknya.


" Fathan sudah mengucap salam kok, kakak saja yang tak mendengarnya dan Fathan lihat di ruang tamu tak ada orang, kakak buat cake?"


Dyah tersenyum. " Ya dek kakak dan bibi baru saja selesai buat cakenya ini kakak mau kirim untuk mas Azka, sebaiknya kamu ganti pakaiannya cakenya masih banyak di kulkas" kata Dyah, memasukan cake ke dalam kotak.


Fathan menanggukan kepalanya turun dari kursi menuju kamarnya, Dyah memanggil supir untuk mengantar cake ke kediaman keluarga Alexanders.


" Pak tolong antar cake ini ke tempat mas Azka dan ini untuk bapak makan" kata Dyah, memberikan sekotak cake untuk supir.


" Terima kasih nona" kata supir, mengambil cake dari Dyah dan mengantarkannya ke kediaman keluarga Alexanders.


Kediaman keluarga Alexanders


Azka menunggu cake yang akan dikirim oleh Dyah di depan pintu masuk dengan mondar mandir membuat mami Atika yang baru saja turun dari kamar menjadi heran dengan tingkah laku putranya.


" Nyonya ini minumannnya" kata bibi Ina, memberikan teh pada mami Atika.


" Tuan muda seperti itu sudah sejak tadi nyonya" kata bibi Ina, mami Atika menanggukan kepalanya, bibi Ina pamit kembali ke dapur untuk memyiapkan makanan siang.


Mami Atika menghela nafasnya secara berat melihat putranya, mami Atika berdiri dan mendekati putranya.


" Azka" kata mami Atika, tapi Azka tidak mendengarnya matanya terus melihat arah luar.


".Azka, apa yang kamu lihat?" mami Atika, memukul pundak putranya.


" Mami" Azka terkejut melihat mami Atika disampingnya, dan mengusap wajahnya secara kasar.


" Maaf mi Azka tidak mendengar saat mami memanggil" kata Azka.


" Apa yang kamu fikirkan nak ingat beberapa hari lagi kamu akan menikah" kata mami Atika, menatap tajam pada putranya.


" Nggk mi Azka sedang menunggu sesuatu, tadi Azka mengirim pesan pada Dyah ternyata dia sedang membuat cake dan akan mengirimkannya ke sini tapi kok belum sampai juga" kata Azka.


Mami Atika tersenyum. " Sabar nak mungkin masih dalam perjalanan" kata mami Atika, Azka menanggukan kepalanya.

__ADS_1


Taklama terdengar suara mobil masuk ke perkarangan kediaman keluarga Alexanders, supir keluar dari mobil tidak lupa membawa kotak cake.


" Assalamualaikum, tuan, nyonya" kata supir melihat Azka dan mami Atika berdiri di depan pintu.


" Waalaikumsalam" balas mereka.


" Tuan, nyonya ini ada pesanan dari nona Dyah untuk tuan muda" kata supir, memberikan kotak cake pada mami Atika.


Mami Atika melihat isi dan tersenyum. "Terima kasih pak ini satu untuk bapak" kata mami Atika.


" Nggk perlu nyonya nona sudah beri saya satu kalau begitu saya pamit dulu" kata supir, mami Atika tersenyum dan menanggukan kepalanya. Supir meninggalkan kediaman keluarga Alexanders menuju ke rumah Dyah.


Mami Atika dan Azka masuk ke dalam menuju ruang tengah.


" Kalian darimana dan apa itu di tangan mami? " Papi Ammar, dari taman samping bersama Aquira.


" Kami tidak darimana pi ini cake diberi Dyah" kata mami Atika.


" Ira mau nek ini pasti enak karena bunda yang buat" kata Aquira, merasa senang. Sebelum Ira mengambil kotak berisi cake Azka terlebih dahulu mengambilnya dan membuat Aquira berkaca.


" Papi Ira mau cakenya" kata Ira dengan bersenggukan.


" Ini untuk papi nak, bunda yang buatnya hanya untuk papi" kata Azka, menggoda putrinya.


" Hiks hiks hiks Ira juga mau, nenek papi nggk mau bagi" kata Aquira, mami Atika menatap tajam ke arah putranya.


Azka tersenyum dan meletakan cake ke atas meja mami Atika memanggil bibi untuk mengambil piring.


" Ini terlihatannya enak" kata papi Ammar.


" Ya dong kek bunda kan pandai buat cake pasti enaklah" kata Aquira, papi Ammar tersenyum. Mami Atika memotong cake dan meletakan di piring.


Azka mencicip cake dan tersenyum merasakan cake yang dibuat oleh Dyah, mami Atika dan papi Ammar saling memandang dan menanggukan kepalanya.


Aquira menikmati cake sambil menyaksikan siaran kesukaannya Azka membawa cake di piringnya ke ruang kerjanya.


" Papi ternyata menantu kita pandai membuat cake gimana kita buka toko cake" kata mami Atika, papi Ammar hanya menggelengkan kepalanya.


Mereka menikmati cake pemberian Dyah sambil memperhatikan Aquira asyik dengan dunianya.

__ADS_1


__ADS_2